Mohon tunggu...
Abdul Wahid
Abdul Wahid Mohon Tunggu... Dosen - Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang

Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang dan Penulis sejumlah buku

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Homo Homini Lupus

20 Juni 2020   06:55 Diperbarui: 20 Juni 2020   07:16 1039
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Oleh: Abdul Wahid

Kriminolog dan kolumnis J.E. Sahetapy (2002) pernah mempertanyakan mengapa bangsa yang katanya berbudaya, berbudi luhur, ramah, tamah, sopan, santun, religius,  tolong menolong, dan gotong royong, telah berubah menjadi bangsa atau masyarakat yang, anarkis, brutal (sadisme)  dalam hampir seluruh bidang kehidupan, dan strata

Gelar yang dilekatkan kriminolog terhadap realitas social itu membenarkan idiom "al-insaanu hayawanu Natiq" (manusia itu hewan yang berakal). Tatkala akal manusia gagal bekerja, maka yang tinggal dan dominan adalah naluri hewaninya. Naluri ini mengembara mencari tempat dan sasaran yang dinilai dapat memuaskannya.

Ada pertanyaan yang sering menggugat mengapa masih terdapat sekelompok orang yang berlaku sadis, kejam, atau mudah mencerminkan dirinya sebagai serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus)? mengapa di negeri yang berjuluk beragama ini masih ada sekelompok orang yang mendisain dirinya jadi "binatang-binatang ganas"? mengapa masih ada yang mengobral amarah, kebencian, dan amuk,  serta kriminalitas bercorak penjagalan atau pembinatangan?.

Terlepas dari siapapun dan kelompok manapun yang rentan dan sedang adu "okol", kasus sadisme menjadi isyarat nyata, bahwa nyawa manusia di negeri ini harganya murah sekali. Kita kembali diseret ke Poso untuk melantunkan senandung duka lara, bahwa nyawa anak bangsa kembali dipertaruhkan atas nama konflik.

Terbaca dalam fakta, bahwa masih rentan mencuat kasus di tengah masyarakat tentang  perilaku biadab yang bermodus mengorbankan puluhan saudara-saudara kita, yang perilaku demikian ini mengidentikkan agenda kekejaman dan ketidakadaban atau "kehewanan" manusia dan kelompok satu kepada manusia dan kelompok sosial keagamaan lainnya. Keberadaan sesama anak bangsa tidak ditempatkan sebagai pilar yang saling menjaga, melindungi, dan menyayangi, tetapi diperlakukan sebagai "orang lain" (the others)

Mudahnya tangan-tangan kita melakukan, memproduksi, dan mengeksplorasikan kekejian dan kebiadaban merupakan sinyal, bahwa di dalam diri kita belum benar-benar mewujudkan dan membumikan aksi penyucian persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah). Kalau aksi penyucian ini benar-benar sudah digalakkan, tentulah bangunan kehidupan masyarakat kita tidak gampang dikoyak oleh kekejian dan kebiadaban.  Kita tidak akan terjerumus mewujudkan "tangan-tangan kotor" (the dirty hands) untuk melahirkan  sadisme, pasalnya di dalam diri kita telah bersemi komitmen sebagai penyelamat dan penyehat bangunan sosial.

Kita tidak akan sampai menjadi komponen pelaksana dan pembenar ketidak-adaban, manakala dalam diri ini berpancar kebeningan, kelembutan, kearifan atau kejernihan nurani  Akal sehat pun tentu akan mudah berbicara bilamana diantara segmen bangsa ini lebih mengutamakan kehadiran sesama sebagai subyek yang disayangi, dihormati, atau dimanusiakan.

Dalam ranah formalitas keagamaan, barangkali berbagai kegiatan bertemakan "merajut persaudaraan" sudah seringkali kita adakan, yang kesemuanya ini mengesankan seolah-olah persaudaraan sejati sudah terjadi dan membumi. Sayangnya, kenyataan masih bicara lain, segmen bangsa ini belum menunjukkan persaudaraan sucinya. 

Pergaulan yang dirajut selama ini masih layaknya pergaulan selebriti politik yang menggunakan prinsip teman dan lawan sejati adalah kepentingan. Begitu kepentingan tampil mendominasi dan menghegemoni, maka makna harkat sesama atau nyawa manusia ikut dipertaruhkan. Persaudaraan tinggal kenangan di atas kertas, dalam untaian kata-kata manis, dan serba menjanjikan, karena dikalahkan  oleh gelora kepentingan yang sedang dipujanya.

Model persaudaraan demikian itu wajib disucikan dari pemutlakan kepentingan diri, faksi, atau kelompok. Penyucian ini akan menjadi syarat fundamental untuk membangun atau mewujudkan perikatan persaudaraan yang harmonis dan inklusif. Setiap bentuk kepentingan pragmatis dan berkarakter egoisme sektoral wajib dikalahkan oleh persaudaraan kemanusiaan dan kerakyatan yang purifikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun