Mohon tunggu...
Abdul Hamid
Abdul Hamid Mohon Tunggu... Wiraswasta - Bukan penulis, hanya mencoba menulis

Penulis caption media sosial

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Apa Kabar?

24 Maret 2019   01:49 Diperbarui: 24 Maret 2019   02:00 23
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(Potret milenial di Desa Pulosari Kecamatan Kalapanunggal Kabupaten Sukabumi Jawa Barat)

Apa kabar? Cukup lama tidak bersuwa dalam lingkup digital, apalagi realitas. Saya khawatir kita sedang berada dalam zona yang kurang sehat, karena gempuran realitas berikut dengan media sosial menyoal politik hari-hari ini sangat luarbiaa. Mudah-mudahan selalu dalam kesehatan. Juga persaudaraan dari berbagai lini tidak terganggu, apalagi sampai bubar.

Kenapa saya mulai dengan mempertanyakan kabar? Karena, belakangan saya merasakan berbagai keresahan dan kegaduhan. Baik berbicara lingkungan sekitaran rumah, maupun lingkungan yang lainnya. Saya rasa, bisa dikatakan semuanya merasakan hal yang sama. Mari refleksi.

Tempo lalu, saya sempat membaca sebuah tulisan dari senior saya di jurusan menyoal kontestasi 2019. Persis seperti yang saya katakan di atas, hantamannya begitu luarbiasa. 

Padahal, idealnya menjadi ajang kegembiraan bersama-sama (Ridwan Rustandi,). Hanya saja, hal ini layaknya sebuah mata uang koin yang tidak bisa dipisahkan, ekses positif juga negatifnya.

Tidak cukup sampai disitu, beberapa hari lalupun saya sempat mendapat sebuah chat whatsapp dari salahsatu dosen saya di jurusan menyoal Modus Black Campaign. Kalau tulisan sebelumnya adalah muridnya, tulisan yang ini adalah gurunya. Hal ini semakin mempertegas sekaligus memperjelas keadaan hari-hari ini. Mulai dari distorsi informasi, pembunuhan karakter, dramaturgi cerita palsu, dan eksploitasi isu berdaya ledak tinggi (Aang Ridwan, 22 Februari 23.33 WIB). Dari ke empat prosesi black campaign itu, yang lebih menohok adalah kesimpulan yang muncul, yaitu pertanda rendahnya kualitas akademis, hilangnya intelectual honesty, dan rendahnya keadaban.

Timbul sebuah pertanyaan, apakah keadaan kita hari-hari ini seburuk itu? Memang tidak bisa kita akumulasikan seluruhnya. Tapi, sepertinya keadaan ini akan terus berlangsung sampai tibanya tanggal 17 April mendatang. Baiknya, berhenti di 17 April, jangan sampai ada berbagai keadaan yang lebih parah paska itu. Mudah-mudahan saja.

Kembali kepada kesimpulan tadi. Saya melihat hal ini menjadi sebuah potret bangsa kita hari-hari ini. Memang, berbicara politik berbicara kepentingan dan keberpihakan, tapi apakah tidak berlebihan? Contoh kasus, ada jurnalis yang di intimidasi dalam sebuah kegiatan karena dia di cap pendukung pasangan tertentu. Ada pasangan kekasih yang hampir tidak jadi menikah, karena calon mertuanya berbeda pilihan politik. Ada kuburan di pindahkan karena berbeda pilihan tertentu dan sepertinya masih banyak kasus lainnya.

Kalau kita refleksikan, sepertinya memang benar bahwa keadaan bangsa kita seburuk ini. Makanya, para akademisi sampai turut merespon keadaan hari-hari ini. Sangatlah wajar, masyarakat di grassrootpun resah, apalagi mereka-mereka yang di cap sebagai kaum intelektual. Salahsatu tugas adanya mereka adalah mengimbangi berbagai keadaan ini.

Lantas, apa yang kiranya harus kita lakukan? Sebagai orang yang awam dalam politik, saya hanya bisa merasakan keresahan dan kegaduhan, tanpa daya. Sedangkan, banyak politisi-politisi diluar sana bukan hendak memberikan pendidikan dan literasi tentang politik, justru hal ini menjadi sebuah peluang bagi mereka untuk kiranya mendapatkan suara. Mereka akan sangat senang dengan berbagai kondisi ini. Bahkan, kalau merujuk pada tulisan di atas, memang keadaan ini sengaja diciptakan, atau di setting seperti ini. Makanya, keadaannya semakin buruk.

Sebagai mahasiswa (pada waktu itu), saya sengaja tidak mendekatkan diri dengan kekuasaan tertentu. Fitrah kami adalah sebagai oposisi dari sebuah pemerintahan. Karena salahsatu fungsi adanya mahasiswa adalah menjadi dinamisator terhadap sebuah keadaan. Meskipun, tidak semuanya mengambil jalan sunyi seperti ini. Namun, sudah layaknya demikian.

Kondisi ini, menjadikan saya cukup timpang. Akhirnya, saya tidak suka menonton televisi yang di cap pendukung pemerintah. Tidak suka membaca media yang di cap pro pemerintah. Padahal, keputusan ini kurang begitu tepat. Idealnya, kita harus berimbang dalam berbagai keadaan. Jadi, kesimpulan yang akan muncul sudah pasti akan utuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun