Mohon tunggu...
Abanggeutanyo
Abanggeutanyo Mohon Tunggu... “Besar, ada yang lebih besar, sangat besar, terbesar super besar, mega besar dan maha besar.”

Nama : FM Al-Rasyid ---------------------------------------------------------------- Mengamati dan Diamati

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Es Krim Tak Mampu Lagi Dinginkan Mesin Perang Erdogan di Suriah

20 Februari 2020   14:19 Diperbarui: 20 Februari 2020   14:15 398 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Es Krim Tak Mampu Lagi Dinginkan Mesin Perang Erdogan di Suriah
Selasa 27 Agustus 2019, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan ditemani Presiden Rusia, Vladimir Putin di kawasan International Aviation and Space Salon (MAKS 2019). Gambar: hesun.co.uk

Selasa 27 Agustus 2019, dalam lawatannya ke Moskow (Rusia) Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan ditemani Presiden Rusia, Vladimir Putin berkunjung ke International Aviation and Space Salon (MAKS 2019) yang digelar di dekat Bandara Internasional Zhukovsky. 

Cuca saat itu termasuk panas, keduanya menggunakan kacamata Rayban. Setelah melihat-lihat aneka industri aviation dan aerospace buatan Rusia, mereka singgah sejenak di sebuah booth es krim. Saat itu Putin membeli es krim senilai 5 ribu rubel (sekitar 1 juta rupiah) untuk beberapa rombongan Putin dan Erdogan.

Betapa optimisnya hubungan kedua pemimpin ke dua negara tersebut saat itu, seakan mewarisi contoh positif pada dunia tentang bagaimana sebuah perbedaan pendapat yang bersifat strategis dan rumit sekalipun dapat diredam melalui dialog, dialog dan dialog.

Meski banyak pengamat meragukan hasil dialog demi dialog tersebut akan berakhir positif setidaknya pertemuan demi pertemuan seperti di atas member secercah harapan optimis pada dunia khususnya kawasan timur tengah dan lebih khusus lagi pada konflik Suriah akan mampu diakhiri dengan cara damai.

Sikap ragu para pengamat konflik Suriah beralasan karena antara Turki di satu pihak dan Rusia - Iran di pihak lain memiliki agenda khusus dan tersendiri dalam melihat akar masalah dan cara penyelesaiannya yang di dasari pada interest atau kepentingan masing- masing.

Untuk kepentingan geopolitik dan geo ekonominya Turki memanfaatkan issu kebangkitan Arab Spring, menuangkannya melalui semangat jihad para petempur islam garis keras dan para pemberontak Suriah. Selain menumbangkan pemerintahan Bashar al-Assad (katanya tiran dan diktator) juga untuk mewujudkan ambisi Turki Raya dengan segenap kepentingan ekonomi dan politik di dalam kawasan regional timur tengah.

Di sudut lain, Iran dan Rusia yang tidak ingin terganggu kepentingan ekomomi dan politiknya di kawasan yang sama bahu membahu mempertahankan pemeirntahan sah Suriah.

Praktis, ada dua sisi berbeda. Mengamati kedua sisi itu bagaikan berbicara tentang langit dan bumi atau berbicara antara siang dan malam, sangat kontras perbedaannya dalam segala bidang. 

Itulah sebabnya mengapa para pengamat banyak yang meragukan hasil akhir proses perundingan marathon dan aneka pertemuan yang telah digelar di Astana, Sochi, Zurich dan sebagainya. Para pengamat sangat skeptis terhadap hasil akhir positif untuk Suriah.

Permainan trik dan intrik dalam kemasan perundingan jarang berakhir dengan senyuman.Bahkan kondisi rielnya dipertegas dengan fakta di medan laga (perang)  jauh bertolak belakang dengan harapan dalam perundingan. Hal- hal seperti itulah yang membuat para sponsor perundingan seakan menarik kesimpulan perang Suriah adalah sebuah ajang perang gila dilakukan oleh penggila perang.

Kisah mesra menikmati es krim bersama di atas telah berlalu begitu saja enam bulan yang lalu. Fakta terkini yang terjadi di Suriah saat ini adalah :

  • Pasukan pemerintah Suriah (SAA) telah mampu membebaskan 85% wilayah yang semula dikuasai oleh pasukan dan jihadist pemberontak dukungan Turki dan barat
  • Sejak awal Januari 2020 ofensif besar-besar SAA di dukung serangan udara Rusia dan milisi Iran dan lokal melakukan serangan kilat (Blitzkrieg) hingga mampu membeaskan seluruh provinsi Aleppo dan tiba di segi tiga gerbang kota Idlib, ibu kota pemerintahan SIG (Syria Interim Government).
  • Sejak Januari 2020 pasukan Turki (TAF) melakukan mobilisasi besar-besaran memperkuat 12 pos militer pemantau yang disetujui dalam perundingan, menambah pos pemantau tambahan atas inisiatif sendiri, membuat benteng pertahanan TAF).
  • Ribuan truk masuk kawasan Idlib hingga ke ujung pos pemantau di pinggiran provinsi Hama untuk  menyuplai aneka logistik (amunisi, senjata, milisi)
  • Pasukan Turki awalnya cuma menyerang SAA yang melakukan provokasi terhdap mereka kini mulai menyerang posisi SAA yang sedang melakukan operasi serangan terhadap pasukan pemberontak
  • Pasukan Turki beberapa kali memotong arah serangan SAA yang sedang melakukan serangan terhadap pemberontak dan memberi peringatan ancaman jika SAA dan milisinya melanggar jalur yang ditetapkan.
  • Pasukan Turki memasok senjata baru kepada pemberontak termasuk Manpad Stinger-92 yang berhasil melumat 2 unit helikoter Mi-17 Suriah dalam waktu 3 hari berturut-turut.
  • Presiden Erdogan telah memberi limit waktu pada Suriah agar mundur dari seluruh kawasan Provinsi Idlib, mengembalikan jalur M5 highway dan menjauhi 10 pos pemantau Turki (dari 12 pos) paling telat akhir Februari 2020 ini
  • Militer Turki telah menyiapkan serangan skala tinggike  seluruh posisi Suriah dan mengabaikan posisi Rusia di sana
  • Presiden Erdogan telah meminta pada NATO agar memberikan dukungan perlindungan udara bagi Turki karena (sesuai perjanjian dengan Rusia) Turki tidak diperkenankan masuk udara Suriah

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN