Mohon tunggu...
Abanggeutanyo
Abanggeutanyo Mohon Tunggu... “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Nama : Faisal Machmud al-Rasyid ---------------------------------------------------------------- Mengamati dan Diamati

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Mari Awasi Amien Rais 5 Tahun ke Depan

17 Juli 2019   01:35 Diperbarui: 17 Juli 2019   09:09 0 14 10 Mohon Tunggu...
Mari Awasi Amien Rais 5 Tahun ke Depan
kolase. olahan pribadi

Tak habis-habisnya membicarakan tentang tokoh Amien Rais (AR) politikus yang sudah tak asing lagi dalam blantika politik Indonesia. Setiap ucapan, tingkah laku dan pikirannya seakan menjadi inspirasi membicarakan tentang dirinya kembali, termasuk pernyataannya dalam beberapa hari ini pasca terjadinya rekonsiliasi Prabowo - Jokowi.

Hangatnya sengkarut Pilpres 2019 jelas masih terasa. Alotnya "perlawanan" yang diberikan kubu 02 termasuk oleh tokoh-tokoh kaliber papan atasnya masih terekam segar dalam ingatan. Perkataan, sikap, buah pikiran dan langkah politik yang ekstrim sekalipun dari tokoh teras 02 hampir setiap hari menghiasai media berita dan media sosial. 

Ada banyak tokoh "besar" dalam kubu 02, salah satunya adalah Amien Rais (AR) sesepuh yang dahulu pernah disebut-sebut menjadi "The Rising Star" saat gelombang reformasi bergemuruh pada 1997-1998 kini malah mirip The The Falling Star, sebuah sisa komet yang terbakar ketika masuk ke bumi. 

Meski tersisa sedikit dan  mungkin kecil sekali tapi terasa amat pijar  lalu dingin dan teronggok kaku ditempatnya. Sisa benda itu disebut batu atau kerikil, tak ada yang perduli bahwa ia adalah sebuah komet sebelumnya yang pernah jatuh di tempat itu.

Dari The Rising Star menjadi The Falling Star adalah sebuah fenomena antiklimaks. Bersinar-sinar di era Reformasi dan dijadikan motor penggerak pada kubu 02 ternyata tidak mampu melawan tembok tangguh kemenangan Presiden Jokowi. Yang terjadi selanjutnya adalah sikap antiklimaks AR yang rasa-rasanya sulit dipercaya.

Teriakan bernada antiklimaks AR kini berbentuk himbauan rekonsiliasi dan menenangkan seakan-akan AR telah lupa pada ajakan ekstrimnya pernah menyerempet memecah belah bangsa ini sebelumnya, sebut saja kongkritnya salah satu adalah ajakan untuk People Power melawan kemenangan paslon 01 (saat itu).

Tapi apa yang terjadi kini, lihat sikap dan pernyataan politiknya berikut ini.

Pada 16 Juli 2019 menyikapi pertemuan Prabowo dan Jokowi ditamsilkan AR sebagai kemenangan Cebong bersayap. AR pasti beralasan untuk mengedepankan kepentingan nasional sehingga tidak ada lagi cebong dan kampret, "yang ada adalah Cebong Bersayap," katanya menyindir pendukung kubu 01 merepresentasikan pengakuannya pada pendukung 01 harus merangkul pendukung 02. Indah sekali bukan, seakan tidak pernah ada persoalan selama pilpres 2019.

Sehari sebelumnya pada 15 Juli 2019 AR mengatakan "jadi saya sampaikan, teruskan merajut "merah-putih". teruskan bangsa ini bersatu jangan sampai pecah. Tapi soal kekuasaan berikan kesempatan pada pak Jokowi - Ma'ruf Amin 5 tahun. Kita awasi dan itulah produk indah demokrasi.." ujarnya di di kantor DPP PAN, Senin 15/7/2019 sebagai dilansir berbagai media.

Perhatikan beberapa poin dari pernyataan tersebut :

  • Teruskan merajut merah putih
  • Teruskan bangsa ini jangan sampai pecah
  • Beri kesempatan 5 tahun kepada Jokowi -Ma'ruf Amin
  • Kita awasi
  • Produk Indah Demokrasi

Luar biasa indahnya himbauan AR, bukan? Apakah kita pernah mendengar ucapan bernada menyejukkan selama kampanye dan sengkarut politik pasca pilpres? Rasanya tidak ada, nyaris tak tak menyangka akan muncul himbauan manis nan indah seperti ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x