Abanggeutanyo
Abanggeutanyo wiraswasta

Nama : Faisal Machmud al-Rasyid ---------------------------------------------------------------- Mengamati dan Diamati

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Lain Dulu Lain Sekarang, Trump Sama Saja Kontroversialnya

7 Desember 2017   12:10 Diperbarui: 10 Desember 2017   11:28 1885 3 2
Lain Dulu Lain Sekarang, Trump Sama Saja Kontroversialnya
Sumber ilustrasi: jewishbreakingnews.com

Tidak sampai setahun masa pemerintahan Presiden Donald John Trump (Trump) rasa-rasanya terlalu banyak persoalan yang mengaduk-aduk stabilitas politik dalam negeri dan luar negeri Amerika Serika (AS). Kondisi itu tidak saja menganggu stabilitas politik AS melainkan merembes ke dimensi lain dalam masalah ekonomi dan keuangan bahkan masalah sosial dengan berbagai multidimensinya.

Kini beberapa jam lalu, Trump kembali membuat heboh dunia menenai isu sensitif dan dilematis tentang Jerusalem (Jerusalem Syndrome) karena mengambil keputusan kontroversial (pada hari ini Rabu 7/12/2017) akan memindahkan kantor kedutaan besar AS dari Tell Aviv ke Jerusalem yang secara simbolis menandai dan mengakui kota Jerusalem --yang menjadi status quo PBB usai perang Arab- Israel usai pad 1948-- menjadi milik dan Ibu Kota Israel.

Keputusan Trump kontroversial karena melanggar 15 resolusi dewan keamanan PBB (sejak Resolusi 242 : 22 November 1967 hingga Resolusi 2334:23 Desember 2016) dan Resolusi Majelis Umum PBB Atas Yerusalem meliputi Resolusi 2253: 4 Juli 1967 hingga Resolusi 71/96: 23 Desember 2016. Belum lagi beberapa aturan lainnya meliputi Konvensi Jenewa dan Resolusi UNESCO atas Yerusalem.

Gambar : Huffingpost.com dan Reuters
Gambar : Huffingpost.com dan Reuters

Reaksi dunia pun menggelegar atas keputusan Trump. 

  • Dari Inggris PM Theresa May mengingatkan AS bahwa Inggris tidak akan mengikuti keputusan AS.
  • Raja Jordania, Abdullah mengatakan kepurtusan AS menodai resolusi PBB
  • Presiden Turki, Erdogan menelpon Raja Salman agar mengingatkan AS
  • PM Pakistan dan Presiden China menentang langkah AS
  • Uni Eropa menentang keputusan Trump
  • Kanselir Jerman "marah" terhadap kepurtusan Trump
  • Presiden Prancis menolak keputusan Trump
  • Di Jalur Gaza warga Palestina melaksanakan protes besar-besaran turun ke jalan
  • Berdasarkan laman pencari berita dunia terkini di newsnow.co.uk hampir seluruh dunia menolak, mengutuk dan keberatan dengan langkah konyol AS.

Meskipun hampir seluruh dunia goncang dengan keputusan berani Trump warga yahudi menyambut baik upaya tersebutr sebagaimana dilansir portal israelnationalnews.

Trump memiliki pertimbangan --menurutnya positif-- di balik keputusan itu. Menurut laman/thehill.com ada 5 faktor mengapa Trump mengambil langkah tersebut. Di antaranya adalah: belum pernah ada dukungan ekslusif pemerintah AS sebelumnya untuk mengakui secara de facto Kota Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Secara de facto orang-orang Palestina di kawasan itu posisinya sangat lemah cuma sebagai residen biasa dan tidak punya hak membuat aturan dan keputusan: mengakhiri perlawanan 50 tahun dunia terhadap -tudingan- aneksasi ilegal Israel terhadap Jerusalem; Memvalidasi etnis Yahudi melakukan pembersihan etnis terhadap orang Palestina di bagian barat Kota Jerusalem yang sesungguhnya telah terjadi secara sistematis sejak 1948 melalui berbagai cara; Tidak ada keputusan negara (dunia) hingga kini mengakui Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel meskipun berusaha menjadikan kota itu sebagai kota internasional melalui status quo.

Upaya Israel menjadikan Jerussalem sebagai ibu kota telah disiapkan sangat panjang. Tidak usah mengambil data jaman sejarah entah berantah para leluhur, zaman nabi-nabi atau pra sejarah, mari lihat saja lebih dekat pada sejumlah langkah sistematis Israel usai perang Arab Israel (1948) hingga manuver-manuver Israel dalam kancah perang Suriah. Kita dapat melihat arah dan strategi Israel mengarah pada ke dua wilayah tersebut di tengah perpecahan negara Arab menyikapi perang Suriah.

Jerussalem barat direbut oleh Israel pada perang Arab-Israel 1948. Sedangkan Jerussalem timur direbut Israel dari Jordania pada perang 6 hari (1967) dan menggabungkan beberapa wilayah sekitarnya termasuk kota lama dalam satu pemerintahan setingkat walikota dengan luas (125.156 Km2 atau 48.323 sq mil) dan berpenduduk hampir 1,5 juta saat ini.

Kontroversi Trump terhadap AS memang telah lama diprediksi bakal terjadi jika ia terpilih menjadi Presiden AS. Prediksi itu tidak saja berdasarkan sejumlah lontaran program-program utama pada masa kampanye pemilihan Presiden tetapi juga pada sosok, attitude dan karakter Trump yang eksentrik, meledak-ledak, temperamen dan berbicara blak-blakan kadang menjurus kurang kontrol.

Tapi itulah pilihan warga dan rakyat AS melalui pemilhan umum yang -katanya- tercemar demokratis akibat campur tangan Rusia dalam pengaturan skor suara di beberapa negara bagian yang kini sedang menyeret beberapa pejabat utama dan kepercayaan Trump berurusan dengan pihak intelijen AS (FBI) akibat dituduh telah berbohong pada publik dalam memberikan kesaksian sebelumnya tentang isue tersebut.

Beberapa keputusan Trump kontroversial yang dapat penulis rangkum antara lain adalah:

Jauh-jauh hari sebelum mencalonkan diri sebagai Presiden AS, pada 2013 Trump mengkritik pemerintahan Obama tentang posisi pasukan AS di Afghanistan. Dalam pendapatnya ia menyesali jumlah kematian pasukan dan menggerogoti keuangan AS akibat konflk yang sangat memboroskan. 

Tapi apa yang terjadi kemudian, ia berubah pikiran dengan meningkatkan tekanan terhadap Afghanistan dan menyalahkan Paksitan karena dituding menajdi tempat bersembunyi teroris. Pada September 2017 lalu Menteri Pertahanan Jim Mattis membenarkan hal itu seraya menambahkan sekitar 3000 pasukan AS akan diberangkatkan ke Afghanistan.

Pada Juni 2017, Trump memutuskan AS keluar dari perjanjian Paris tentang perubahan Iklim yang telah ditandatangani AS dan hampir 200 negara dengan alasan hal itu akan melumpuhkan ekonomi AS dan menciptakan pengangguran besar. Sikap kontroversial itu memang sesuai dengan janji dalam kampanyenya tentang tema perubahan iklim dimana ia menilai kesepakatan itu hanya sebuah tipuan yang dibuat oleh China dan mencekik ekonomi AS.

Pada masa kampanye Trump berjanji akan mencabut Obama Care tentang perluasan layanan kesehatan pada 15% warga AS. Namun belakangan ia memutuskan memperhatahankan kebijakan tersebut meskipun akhirnya dihadang oleh senat AS karena alasan-alasan bisnis dan tenaga kerja.

Janji kampanye pembangunan tembok perbatasan AS - Mexico dengan meminta sebagian ganti rugi pada pemerintahan Mexico tidak terlaksana akibat pemerintah Mexico tidak bersedia membayar. Kondisi ini menyebabkan biaya anggaran pembangunan melonjak dari ekspektasi semula $12 milyar (€9.6 miliar) menjadi $21.5miliar (€17.2miliar).

Sebelumnya Trump akan menarik diri dari kerja sama dalam asosiasi perdagangan bebas Amerika Utara (Nafta) dan Trans Pacific Partnership (TPP) . Namun beberapa hari menjabat ia bersumpah meneruskan kerja sama di kedua lini dagang tersebut.

Janji kampanye akan melarang semua ummat muslim berkunjung ke AS ditentang oleh beberapa hakim karena dianggap melanggar konstitusional perlindungan agama, bahkan meskipun untuk sementara waktu. Akibat penolakan itu Trump berjanji akan menaikkan penolakan itu ke tingkat Mahkamah Agung.

Ancaman Trump akan mendeportasikan hampir 11,3 juta orang imigran tidak berdokumen pada masa kampanye melunak menjadi 3 juta orang harus pergi keluar dari AS.

Dalam beberapa pendapatnya tentang NATO Trump menilai organisasi itu sudah usang dan tidak efisien karena mengeluarkan dana sangat besar. Bahkan kepada New York Times pada edisi Juni 2016 Trump mengingatkan tidak akan membantu negara NATO manapun jika diserang oleh Rusia. Kenyataannya belakangan pada April 2017 ketika menjadi tuam rumah pertemuan NATO Trump mengatakan aliansi itu sangat penting. "Jika dahulu aku katakan sudah usang sekarang NATO tidak usang lagi," kilahnya.

Pada salah satu pidato pra kampanye di tahun 2015 ia mengatakan akan melaksanakan pengeboman dan menyingkirkan ISIS (di Suriah dan Irak). Kenyataannya ia menjatuhkan bom raksasa nonnuklir di salah satu gudang senjata AS di dekat markas pertahanan ISIS di Afghanistan.

Sebelum menjadi presiden berulang kali mengatakan bahwa China adalah manipulator mata uang dengan mempermainkan (melemahkan) mata uangnya agar lebih kompetitif dan menekan barang impor (terutama AS). Namun beberapa hari menjabat Presiden ia mengatakan kepada Wall Street Journal pada edisi April 2017 lalu bahwa China bukanlah manipulator mata uang dan sebenarnya beberapa waktu telah berusaha agar mata uangnya tidak melemah.

Sebelumnya ia setuju dengan metode penyiksaan CIA "Waterboarding," meskipun belakangan setelah pelantikannya ia mengatakan dia tidak mendukung pola-pola yang didukung oleh Menteri Pertahanan (James Mattis) dan Direktur CIA saat itu (Mike Pompeo).

Saat kampanye ia berjanji jika terpilih akan meminta Jaksa Agung memilih jaksa yang dapat membuat Hillari Clinton dipenjara dan ia ingin melihat "wanita nakal" itu (sebutan Trump pada Clinton-red) dipenjara. Namun apa yang terjadi kemudian hingga sampai saat ini dia berusaha menggagalkan proses tersebut. Pada 22 Nopember 2017 lalu, juru bicara Gedung Putih mengatakan tidak meneruskan kasus email Clinton dengan alasan "hutang budi" atau masalah psikologis tentang Clinton, sebutnya.

Beberapa kali Trump terlibat bongkar pasang pejabat dan orang kepercayaannya hanya karena informasi suka tak suka sehingga membuat nuansa kerja dan konsentrasi kerja menjadi menurun akibat para pekerja merasa was-was dan terancam diberhentikan.

Perpecahan dengan Menlu Tillerson juga diumbar-umbar ke publik melalui akun media sosial maupun media massa. Hal itu tentu mengurangi kepercayaan bawahannya dan mempengaruhi kekompakan atasan bawahan.

Masih banyak lagi sikap kontroversial Trump yang tidak dapat disebutkan satu persatu pada halaman ini yang membuat kondisi AS berada dalam kegaduhan dan menegangkan, sebut saja ancamannya terhadap perang melawan Korut dengan melaksanakan latihan perang bertubi-tubi dengan Korsel dekat perairan Korut.

Hal lain yang sangat kentara adalah merosotnya mata uang USD terhadap mata Euro atau mata uang lainnya sejak Trump menjabat Prsisen AS. Jatuhnya nilai USD ini yang terburuk sejak Oktober 2014 dan masih sulit bangkit hingga saat ini.

Akan seperti apakah Trump membawa AS dalam papan catur dunia hingga beberapa tahun mendatang, apakah Trump akan mampu menaikkan posisi AS menjadi besar kembali sebagaimana tema kampanyenya "Makes America Great Again," dengan gayanya, ataukah --maaf-- cuma membuat sial AS? Sayangnya jika sial itu terjadi tidak saja AS menanggung sendiri melainkan berdampak pada seluruh dunia.

Itulah pilhan terbaik bagi AS. Dan warga AS telah menghabiskan energi sangat besar untuk menghadirkan sang pemimpin ala Donald Trump. Lain dulu lain sekarang tapi sama-sama kontroversial dan berpotensi membahayakan perdamaian dunia.


Salam Kompasiana

abanggeutanyo