Mohon tunggu...
Syae_Purnama
Syae_Purnama Mohon Tunggu... Perjalanan mencari hakikat

Kemanapun kaki melangkah, disana selalu ada sesuatu yang harus dipegang, diyakini, dan dipertahankan. Jangan karena berada disana, maka haruslah menjadi seperti mereka. Karena Nusantara bangsa yang besar, jangan takjub oleh sesuatu yang asing. Karena belum tentu mereka mau memandang kita secara setara...

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Rapat Sekolah dengan Wali Siswa di Era Pandemi

22 Januari 2021   11:15 Diperbarui: 22 Januari 2021   11:20 82 7 0 Mohon Tunggu...

Saat pandemi, aktivitas pendidikan harus tetap berjalan. Persekolahan yang tergagap diawal, sudah menemukan pola baru pembelajaran era pandemi. Dari tergagap sampai menjadi kebiasaan baru. Guru sudah mengenal apa itu Learning Management System, Moodle contohnya.  Dalam perbincangan dengan para kepala sekolah swasta di Jakarta Barat, dan Jakarta Timur, yang memang bertemu pada suatu program besutan pemerintah, kesimpulannya seperti itu. Dimulai dari ketergagapan, lalu mereka berkembang bersama dengan saling mendukung, sampai akhirnya  dapat mengatasi permasalahan-permasalahan pembelajaran jarak jauh. Walaupun, ada juga kendala-kendalanya. Siswa yang motivasi belajar menurun, motivasi main game meningkat. Guru yang gaptek dan kerajinannya menurun.

Hal positif yang berkembang lain lagi. Guru mulai terpaksa dan dipaksa untuk literasi TIK-nya meningkat. Mampu mengajar dengan berbagai media. Membuat kuis, serta mengoperasikan LMS dengan handal. Mereka berkesimpulan bahwa teori yang paling handal untuk meningkatkan literasi TIK guru adalah dengan tutor sebaya. Guru-guru saling bahu membahu, saling membantu, saling share untuk pembelajaran yang lebih baik. Pola kepemimpinan kepala sekolah juga teruji di masa pandemi ini. Bagaimanapun juga krisis yang terjadi membutuhkan para pemimpin yang bukan biasa-biasa saja. Kepala sekolah yang andal banyak berinisiatif, berinovasi untuk kemajuan sekolahnya. Pembelajaran daring dengan pemanfaatan internet dan TIK lainnya adalah keniscayaan. 

Hal lainnya yang dibangun lebih erat pada masa pandemi adalah hubungan dengan orang tua/wali siswa. Adanya pandemi dengan menyebabkan terjadinya pembelajaran daring, membuat hubungan lebih intens. Para orangtua memiliki beban tambahan untuk mengawasi anaknya belajar, saat mereka belajar dari rumah. Beberapa rumah kondusif untuk belajar, beberapa tidak. Demikian pula fasilitas pembelajaran daring setiap siswa juga beragam. Maka beberapa sekolah, kepala sekolah, berinisiatif untuk tetap mengadakan pembelajaran tatap muka bagi siswa-siswanya. Bagi mereka yang memang sangat-sangat membutuhkan tatap muka dengan guru. Dengan protokol kesehatan. Dengan jumlah siswa yang dibatasi. Dengan kompromi dan koordinasi dengan masyarakat dan wali siswa.

Siswa kelas akhir, memiliki tantangan yang berbeda. Karena akan lulus dari jenjang satu, menuju jenjang yang lebih tinggi. Beberapa siswa memiliki permasalahan dalam motivasi dan kehadiran pembelajaran daring. Pada rapat sekolah yang saya hadiri, kepala sekolah memutuskan akan memanggil siswa-siswa yang bermasalah, wali siswa, untuk bertemu guru BK. Sesuatu yang wajar, ketika sekolah memiliki target tertentu di bidang akademik, maka barangsiapa yang terlihat akan menurunkan kualitas akademik, akan dibantu, dibina, untuk dapat bersemangat lagi belajarnya. Padahal intelejensi anak tidak mesti akademik.

Saya jadi berpikir, bagaimanapun hal ini adalah hal yang wajar terjadi di sekolah-sekolah negeri maupun swasta di Indonesia. Hanya anak-anak yang memiliki masalah, yang akan menerima Bimbingan dan Konseling. Guru BK hanya bertugas ketika ada masalah. Mudah-mudahan ini salah. Karena permasalahan pada anak-anak bisa jadi seperti fenomena gunung es. Anak yang terlihat baik-baik saja, belum tentu seperti yang terlihat. 

Merujuk pada cerita seorang Kepala Sekolah berbasis agama Kristiani di Jakarta Barat yang saya temui saat program. Justru karena pandemi, ia menjadi lebih sering mengundang wali siswa untuk bertemu. Jika pada masa pra pandemi, ia sering mengundang dan bincang-bincang dengan wali siswa membahas sekolah, kelas, pembelajaran, dan siswa. Maka pada masa pandemi ini, pertemuan menjadi lebih intensif, dengan memanfaatkan jejaring video konferens. Sinergisitas antara sekolah, rumah, dan masyarakat tercapai sehingga siswa merasakan kenyamanan dalam belajar dan mencapai student's wellbeing.

VIDEO PILIHAN