Mohon tunggu...
Aan Fikriyan
Aan Fikriyan Mohon Tunggu...

membaca, menulis dan menggambar, satu hal yang menjadi cita-cita yaitu membawa perubahan ! ayo berbuat untuk berubah !

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Java Jazz di Dalam, Jaya Jazz Di Luar

6 Maret 2011   05:45 Diperbarui: 26 Juni 2015   08:01 461 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Java Jazz di Dalam, Jaya Jazz Di Luar
1299389342682160481

Sabtu, 5 Maret 2011- dari balik pekerjaan saya berusaha memahami perhelatan Jakarta Internasional Java Jazz festival 2011, dan ini adalah hari kedua saya berada ditengah hiruk pikuk “pasar malam” jazz terbesar di Indonesia, bahkan mungkin di Asia Tenggara. Dalam perjalanan saya tetap berharap kebagian “klimaks” dari reportoar pertunjukan yang berusaha saya “curi” untuk ditonton.

Sore belum beranjak, sayatan gitar dan ketukan irama blues, memaksa pengemar jazz bersorak dan larut di “terminal” musik blues. Kekuatan blues sebagai akar musik, memaksa setiap penikmat musik jazz untuk tenggelam di “terminal” blues yang di awaki oleh Gugun (Muhammad Gunawan, gitar dan vokal), Jono (Jon Armstrong, bas), serta Bowie (Aditya Wibowo, drum) yang tergabung dalam Gugun Blues Shelter.Sore sudah seperti malam yang memuncak, deretan lagu blues yang terus menggempur menghipnotis penonton dan membuat kita lupa sedang berda di festival musik jazz. Bagaimanapun sebagai akar semua genre musik, blues yang disajikan benar-benar mampu menunjukan kekuatannya sebagai pondasi musik yang kokoh.

Setelah dibuka dengan “klimaks” oleh deretan irama blues, selanjutnya saya sempatkan untuk mengintip reportoar Drew, band yang mengusung warna musik pop alternatif menyuguhkan interaksi musik lintas generasi. Sashilia Gandarum atau lebih dikenal dengan Sashi, vokalis dan rhytm guitar Drew, membuat musik-musik drew jadi lebih ”renyah” dengan celotehanya yang menggelitik, mengantarkan penonton untuk menyatu dari satu lagu ke lagu yang lain. Dengan komposisi musik yang pas ditelinga, band ini selalu mendapat sambutan yang meriah dan tidak salah kalau sashi, terus menerus menyindir produser album Drew yang tak kunjung merilis album mereka. Salut untuk Drew yang telah memberi warna pagelaran musik jazz ini, menginspirasi penonton untuk menerima musik yang dimainkan dengan harmoni instrumen ritmik yang utuh.

Malam semakin tenggelam dalam benam lautan jazz. Selanjutnya saya dibawa ke reuni The Groove, band yang mengusung karakter rhytm yang menyatukan cita rasa musik, bukan The Groove namanya kalau tidak mampu membuat penonton “nge – groove” , bergoyang mengikuti ritme musik yang padu. Dengan formasi utuh, setelah beberapa personilnya sempat berkelana dengan pencarian identitas musik masing-masing. Mereka tersadar rumah mereka adalah The Groove, demikian ungkap Rieka Roslan dan Reza saat berkomunikasi dengan penonton, sesaat sebelum melantunkan tembang “Reunian” yang disajikan dengan aroma haru gembira karena mereka telah berkumpul kembali di rumah mereka yang sesungguhnya. Malam minggu yang benar-benar istimewa bagi The Groove di pagelaran Java Jazz 2011, Hari ini saat yang kunanti, Satu malam bertemu denganmu, Tiada pernah coba kau lewatkan, Malam minggu bertemu denganku, Dahulu Semua Indah, Dahulu Terasa Bergelora (The Groove – Dahulu).

Malam semakin memuncak, Dwiki Dharmawan dan Angklung Jazz Ensemble dari Saung Udjo di panggung Kementrian Pariwisata menyuguhkan instrumentasi musikal yang luar biasa, harmonisasi bebunyian yang bercorak etnik memenuhi hasrat ruang musik penonton yang memadati panggung. Saya pun segera melebur bersama penonton di depan panggung ketika Dwiki memanggil penyanyi tamu Dira Sugandi, penyanyi yang dengan karakter dan warna vokal yang kuat dan jernih,. Kemampuan Dira mengolah talenta vokalnya memang benar-benar seksi. Pagelaran ini ditutup oleh penampilan hangat kolaborasi Dwiki Dharmawan dengan Kamal Mussalam yang memiliki spesialis pada gitar oud atau alat musik sejenis gambus khas Timur Tengah, menghantarkan saya kepada irama padang pasir bercampur dengan padang bulan bumi Indonesia.

Ternyata “pasar malam” Jazz belum berhenti, pukul 01.15 wib ketika saya mengakhiri perjalanan gelaran Java Jazz, saya menemukan gelaran “Jaya Jazz” di luar arena pertunjukan. Ratusan pedagang menawarkan aneka rupa merchandise yang berhubungan dengan “Java Jazz”. Euforia jazz mengajak semua orang untuk ikut menikmati menyelami “pasar malam” jazz dengan cara masing-masing karena inti dari musik jazz itu menurut saya adalah kedinamisan. Sebuah sikap untuk saling menghormati antara harmoni musik dengan lingkungan di sekitarnya. Pertunjukan Festival Java Jazz adalah sebuah lingkungan Jazz dengan ukuran bisnisnya, aneka rupa gelaran Jaya Jazz Festival adalah potret dinamika masyarakat dengan ukuran bisnisnya, membeli sesuatu di Java Jazz ataupun di Jaya Jazz adalah harmonisasi bisnis yang sangat luar biasa, meruntuhkan sekat-sekat pembeda kalangan atas dan bawah. Membeli tiket di tiket box ataupun lewat calo adalah sebuah pilihan,dengan ukuran bisnis masing-masing semuanya punya tujuan yang sama, yaitu menikmati musik jazz. Penting bagi kita untuk menjaga kedinamisan ini. Intinya adalah kesemuanya harus dilakukan berdasar atas asas kejujuran dan menghormati satu dengan yang lain karena jazz itu dinamis dan tidak menyajikan kebohongan.

Catatan Khusus : sebuah bukti tentang jazz tidak mengakomodir kebohongan adalah adanya larangan masuk bagi seseorang yang dipasang oleh panitia penyelenggara Java Jazz. Saya berpikir orang ini telah melakukan kebohongan sehingga ditakutkan membuat musik jazz tidak lagi dinamis. Namun saat orang-orang bertanya kepada saya tentang kesalahan orang yang dilarang masuk tersebut, saya menjawab sekenanya, Dia mungkin bersodara dengan penjahat perang atau mungkin melakukan kejahatan dengan mencopet dua belas dompet sekaligus ! Apakah saya sedang berbohong? Tidak saya sedang mencoba untuk dinamis !.

1299390118244106207
1299390118244106207

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x