Aamir Darwis
Aamir Darwis

Kunjungi saya di www.aamirdarwis.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Temukan Keridhoan Allah dengan Berbakti pada Orangtua

13 Januari 2018   08:17 Diperbarui: 13 Januari 2018   09:32 257 0 0
Temukan Keridhoan Allah dengan Berbakti pada Orangtua
Sumber: rebanas.com

Apa yang kita cari di dunia ini? Mayoritas kita akan menjawab mencari keridhoan Allah. Meskipun ada juga yang mengharapkan surga atau takut masuk neraka, inti dasar kehidupan ini adalah mencari keridhoan Allah. Sehingga manusia dalam hidupnya melakukan ibadah baik itu sifatnya syariat atau ibadah sosial yang menyangkut kehidupan sesama manusia.

Setelah kita mengetahui bahwa tujuan hidup adalah mencari keridhoan Allah. Lalu ada perintah yang menyatakan bahwa Ridho orangtua adalah ridho Allah. Berarti sebanyak apapun ibadah seseorang, rajin ibadah seperti rajin sholat, rajin berdzikir dan lain sebagainya jika orang tersebut tidak mendapatkan keridhoan orangtua maka ibadah itu akan runtuh dan tidak akan mendapat nilai oleh Allah. Meskipun orang itu terkenal rajin ibadahnya jika ia durhaka kepada orangtua maka ibadah itu tidak akan menyelematkan dirinya dari siksa Allah sebab dosa durhaka kepada orangtua.

Sebab hal ini maka mencari keridhoan orangtua juga termasuk hal yang wajib. Artinya setelah kita menyadari kewajiban syariat dan ibadah harus dilengkapi dengan berbakti kepada orangtua. Bahkan untuk berkata "ah" saja kita tidak boleh, apalagi membentak, menghina bahkan melukai. Sungguh ini juga sebagai pelajaran buat kita semua bahwa berbakti kepada orangtua termasuk prioritas yang wahid alias utama.

Berbakti pun juga menyangkut kebaikan. Artinya berbakti harus sesuai dengan yang disyariatkan agama. Selain hal itu, bahkan misalnya jika orangtua mengajak kita ke yang dzolim atau menyekutukan Tuhan maka kita pun harus menolaknya. Tetapi dalam urusan kehidupan harus tetap andap asor dan berbakti.

Mari kita sama-sama menyadari bareng-bareng. Bisakah kita membalas jasa orangtua kita terutama ibu kita? Kita tengok saat kita masih dalam kandungan. Kita dijaga dengan baik, disayangi dan bahkan kasih sayangnya beliau rela mengandung kita. Jangan anggap ini mudah, disana justru perjuangan hidup dan mati. Saat melahirkan, ibu sudah berjuang hidupnya antara kasih sayang anak dan nyawanya.

Saat kecil, kita sering rewel dan ngeyelan dengan orangtua. Sering bikin orangtua marah. Namun mereka tetap menyayangi kita. Saat buang air besar, ia dengan rela menceboki kita. Saat kita bersin ia bahkan rela menggunakan mulutnya demi membuang ingus kita. Saat kita sakit, beliau panik dan dengan cekatan berusaha menyembuhkan kita dengan perantara obat atau dokter. Tetapi kadang-kadanga atau bahkan sering kita marah hanya persoalan keinginan kita tidak dipenuhi. Padahal kalau pun mau da nada pasti diberikan, kita sering ingin apa-apa melebihi kemampuan orangtua. Kita marahi dan bentak.

Apakah kita lupa bahwa kasih sayangnya memang bagai sang surya. Tidak akan bisa membalasnya. Segunung harta yang kita dapatkan selagi muda ditukarkan dengan pengorbanan orangtua saat kecil kita, sama sekali tidak sebanding. Artinya kita tidak punya celah untuk mengelak karena bagaimanapun kita tidak akan bisa membalas jasa-jasa orangtua.

Maka mencari keridhoan orangtua sama beratnya dengan mencari keridhoan Allah. Harus ada perjuangan terus menerus. Jangan sampai seumur-umur kita tidak pernah kasih hadiah kepada orangtua. Jangan sampai kita lalai untuk mendoakan orangtua setelah selesai sholat. Penulis pun berpendapat bahwa mendo'akan orangtua setelah sholat adalah harus.

Kita juga harus mengerti fase-fase sifat manusia. Karena memang manusia punya karakter dari sifat ; bocah -- remaja -- dewasa- tua- bocah lagi. Artinya bukan menjadi bocah lagi tetapi sifatnya akan kembali seperti kanak-kanak lagi. Sebab pikun atau memang terkena suatu penyakit. Kadang-kadang kalau sudah tua jompo dipanggil ini jawabnya itu. Bicara ini malah melakukan itu. Melakukan itu malah bicara ini. Pokoknya persis seperti kanak-kanak lagi. Dalam posisi seperti ini, kita harus sadar bahwa inilah bukti terbesar apakah seorang anak akan berbakti kepada orangtua.

Kalau waktu kecil disuapi, apakah sekarang kita mau menyuapi mereka yang sudah jompo. Kalau waktu kecil kita dicebokin, apakah kita mau menyebokin saat orangtua kita sudah jompo. Kalau orangtua sudah ngeyelan dan rewelan disebabkan pikun dan tuli, apakah kita mau sabar mengerti bahwa mereka sudah memasuki fase bocah kembali. Bahwa ini adalah saat utama bukti paling jelas apakah kita termasuk anak yang berbakti atau durhaka.

Setelah kita mengetahui fase tersebut, kalau kita membentak marah-marah dan memaki orangtua kita maka berhati-hatilah dengan cap anak durhaka. Jangan dikira anak durhaka hanya identik dengan Malin Kundang yang tidak mengakui ibunya, bahkan sebenarnya lebih dari itu. Saat kita membentak, marah-marah dan tidak mau berbakti saat beliau sudah tua maka kita juga termasuk anak yang durhaka.

Hati-hati amal ibadah yang kita kumpulkan bertahun-tahun bisa rontok dan musnah gara-gara satu bentakan atau hinaan kepada orangtua. Apalagi kalau bentakan, hinaan dan marah-marah itu dilakukan saban hari. Habis sudah amal kita, tidak tersisa dan tidak akan dinilai dimata Allah.

Mudah-mudahan kita semua bisa berbakti kepada orangtua saat beliau masih kuat maupun beliau sudah masuk usia jompo. Buat orangtua yang sudah meninggal, kita pun masih bisa berbakti kepadanya. Mendo'akan orangtua dan bertaqwa kepada Allah juga bagian dari mencari keridhoan orangtua sebab anak yang soleh insyaAllah bisa membawakan orangtua masuk ke jannah alias surga. Apalagi kalau kita bisa hafal AlQur'an, kita akan menghadiahkan mereka mahkota surga.

Semoga kita bisa menjadi anak yang berbakti kepada orangtua, saat mereka masih ada maupun sudah meninggal. Saat mereka masih kuat maupun sudah jompo. Layaknya mencari ilmu, berbakti kepada orangtua termasuk wajib dari kita lahir sampai kita memasuki liang lahat alias meninggal dunia.