Mohon tunggu...
Aura
Aura Mohon Tunggu... Freelancer - Pekerja lepas

Menulis supaya tidak bingung.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

"Bunyi Tanah", Merawat Ingatan Bencana Melalui Bebunyian

24 September 2021   13:36 Diperbarui: 25 September 2021   02:33 461 14 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
"Bunyi Tanah", Merawat Ingatan Bencana Melalui Bebunyian
Beberapa instalasi seni dalam pameran Re-Imagine Bikon Blewut. "Bunyi Tanah" diperdengarkan melalui pelantang suara yang terdapat di sisi sebelah kanan. (Foto dokumentasi milik Komunitas KAHE/R-IBB)

Bebunyian itu memenuhi ruangan, mengiringi langkah kaki para pengunjung di Museum Bikon Blewut, Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Nadanya mirip tipikal musik yang datang dari kotak suara dengan penari balet yang banyak dijual di toko-toko. Alurnya patah-patah dan menimbulkan kesan kehati-hatian ketika mendengarnya.

"Bunyi Tanah: Flores Earthquake Data Sonification" (selanjutnya disebut dengan "Bunyi Tanah"), begitulah bebunyian itu diberi tajuk. Ia diputar selama museum beroperasi selama gelaran pameran seni dan arsip Re-Imagine Bikon Blewut (R-IBB) berlangsung pukul 10.00 hingga 22.00 WITA. Sepanjang sejarah berdirinya, mungkin inilah kali pertama Museum Bikon Blewut memutar bebunyian di ruang pamernya.

"Bunyi Tanah" sebagai sebuah karya digagas oleh Rahmadiyah Tria Gayathri (Ama), seorang seniman lintas media. Ama bekerja sebagai praktisi literasi bencana yang berbasis di Kota Palu, sekaligus salah satu pendiri Forum Sudut Pandang. 

Dalam proyek "Bunyi Tanah", ia berkolaborasi dengan Hilman Arioaji (Rio) yang bekerja sebagai data scientist sekaligus salah satu pendiri kolektif audio visual bernama Berbahaya Network.

Ama pertama kali berkenalan dengan Museum Bikon Blewut di Kompleks Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero pada bulan Juni 2021. Seketika itu, Ama mengagumi beragam harta karun pengetahuan yang terdapat di Museum Bikon Blewut.

"Saya menimbang-nimbang kontribusi yang paling masuk akal yang bisa saya bagikan sebagai representasi karya sekaligus apresiasi atas tanah Flores yang menyimpan ribuan pengetahuan. Saya cukup tahu bagaimana kawan-kawan KAHE berproses merancang pameran ini dengan militansi dan penghargaan tertinggi atas leluhur mereka," ujar Ama.

Komunitas KAHE yang disebut oleh Ama adalah sebuah komunitas seni yang berbasis di Kota Maumere. Sejak tahun 2017, komunitas ini menggarap wacana bencana alam---khususnya gempa dan tsunami besar tahun 1992 yang menghantam Kota Maumere---melalui seni rupa dan pertunjukkan.

Sedangkan R-IBB, ruang dan waktu unjuk "Bunyi Tanah" untuk pertama kalinya, adalah sebuah gelaran pameran seni rupa dan arsip yang diselenggarakan oleh Komunitas KAHE, bekerja sama dengan Biennale Jogja XVI Equator #6 2021, Museum Bikon Blewut, serta SEMA STFK Ledalero.

Ide pokok R-IBB adalah membawa visi refleksi dan diseminasi pengetahuan tentang Museum Bikon Blewut dan segala produksi pengetahuan yang berlangsung di dalamnya. Di samping itu, R-IBB juga ingin membuka cakrawala pembacaan dan pemaknaan atas sejarah kolonialisme dan modernisme di Flores.

Ruang di dalam Museum Bikon Blewut, tempat
Ruang di dalam Museum Bikon Blewut, tempat "Bunyi Tanah dipamerkan.  (Foto dokumentasi milik Komunitas KAHE/R-IBB)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan