Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Teroris, Bacalah Kisah Emmy Saelan dan Wolter Mongisidi

1 April 2021   05:05 Diperbarui: 1 April 2021   17:45 3889
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bom bunuh diriTiga kata itu masih lekat dalam ingatan. Peristiwa mengerikan terjadi beberapa hari lalu. Minggu, 28 Maret 2021. Pelakunya masih muda. Pengantin baru pula. Mereka bunuh diri di pintu gerbang Gereja Katedral Makassar.

Tiga hari kemudian, Rabu (31/3/2021), seorang perempuan beraksi. Ia lontarkan peluru di Mabes Polri. Sungguh tindakan penuh nyali. Bagai sudah hilang akal dan hati nurani. Benar-benar cari mati. Dalam sebuah video pendek yang beredar lepas di media sosial, ia terkapar. Mati.

Pasangan pengantin baru di Makassar sama-sama tewas dimakan bom sendiri. Pelaku teror di Mabes Polri mengalami nasib berbeda. Jika yang perempuan diberondong peluru, yang laki-laki terhenti dibekuk polisi. Persamaan pelaku: sama-sama masih muda.

Alangkah menyedihkan. Mereka masih muda. Mereka terjebak ambisi semu, terbuai iming-iming surga, lalu terpikat mencelakai orang lain. Mula-mula terbujuk geng teroris berkedok kelompok kajian, kemudian terperangkap doktrin mengerikan: darah orang lain halal.

Sangat disayangkan. Mereka mati muda, tetapi sia-sia. Andaikan mereka menyempatkan waktu, beberapa jenak saja, membaca kisah anak-anak muda melawan Belanda, mereka mungkin akan berpikir panjang untuk menghabisi nyawa sendiri.

Alih-alih suci, otak mereka yang sudah “dicuci” malah terkotori oleh niat jahat.

***

Salmah Suhartini Saelan namanya. Ia masyhur dengan nama Emmy Saelan. Basse Daeng Kebo’, begitu ia disapa oleh teman-teman seperjuangan. Dari penjajah Belanda, ia menerima sebutan khusus: Onrutstoker alias Si Pembuat Onar.

Emmy lahir pada 15 Oktober 1924 di sebuah kampung di Desa Malangke, Luwu, Sulawesi Selatan. Putri sulung dari pasangan Amin Saelan dan Sukamti itu mati muda. Baru 23 tahun. Ia gugur pada 23 Januari 1947 saat berperang melawan tentara Belanda.

Sinansari Ecip menceritakan kisah Emmy Saelan lewat Jejak Kaki Wolter Mongisidi. Kala itu, pukul 10 pagi, ratusan serdadu KNIL menyerbu markas gerilyawan di Kassi-Kassi. Mereka tiba bersama kendaraan lapis baja.

Gerilyawan terdesak. Wolter Mongisidi memerintahkan pasukannya agar segera mundur. Emmy terus memberondong musuh. Satu demi satu rekannya tumbang. Ia terdesak. Ia melontarkan sebuah granat ke arah tentara Belanda. Granat itu meledak dan menerpa tubuhnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun