Ram Tadangjapi
Ram Tadangjapi Wiraswasta

Kutu Buku, Penggila Film, Penikmat Musik

Selanjutnya

Tutup

Film

Resensi Film The Little Mermaid (2018)

13 Maret 2019   14:54 Diperbarui: 13 Maret 2019   15:11 165 2 0
Resensi Film The Little Mermaid (2018)
(sumber: www.en.wikipedia.org)

Elle (Loreto Peralta) seorang anak yatim piatu yang menderita asma, penyakitnya sering kambuh sehingga menghambat aktifitasnya padahal Elle adalah anak yang super aktif dan sangat ceria. Elle diasuh oleh sang paman Cam Harrison (William Moseley) seorang reporter muda, Cam mengandalkan obat berupa sirup untuk meredakan penyakit Elle saat kambuh sambil berusaha mencari obat alternatif yang bisa menyembuhkan penyakit asma Elle.

Cam kemudian mendapatkan informasi tentang sebuah obat alternatif berupa air mujarab yang ada disebuah tempat sirkus. Cam dan Elle kemudian mendatangi tempat sirkus tersebut yang dikelola oleh Locke (Armando Gutierrez), mereka berdua kemudian menyaksikan pertunjukan putri duyung di dalam kotak air hal yang membuat Elle kagum dan takjub sementara Cam menganggap itu hanya sebuah trik sihir semata.

Secara tidak sengaja Elle dan Cam bertemu lalu berkenalan dengan Elizabeth (Poppy Drayton) si putri duyung yang bisa mendapatkan sepasang kaki jika air laut sedang surut. Melalui Elizabeth pula Cam mendapatkan sejumlah info tentang kejahatan Locke yang terkamuflase dalam pertunjukan sirkus.

Cam dan Elle kemudian berusaha menolong Elizabeth dan teman-temannya yang di eksploitasi oleh Locke, namun lagi-lagi Elle harus berjuang mengatasi penyakit asmanya sementara Cam belum juga menemukan air mujarab untuk menyembuhkan Elle. Locke dan komplotannya yang mengincar Elle dan Elizabeth terus mengejar mereka dan membuat Cam berjuang mati-matian untuk menyelamatkan keponakan dan putri duyung.

 

Loreto Peralta dan William Moseley (sumber: tangkapan layar film)
Loreto Peralta dan William Moseley (sumber: tangkapan layar film)
Film live-action besutan sutradara Blake Harris ini bukanlah sekuel atau remake dari film The Little Mermaid (1989) milik Disney meskipun sama-sama terinspirasi dari buku legendaris karya H.C. Andersen. Plot ceritanya bukan lagi tentang kisah cinta putri duyung dan pangeran tampan melainkan tentang kepercayaan seorang anak tentang keberadaan putri duyung, meskipun sempat ada cerita hubungan romantis antara sang reporter dengan putri duyung namun itu bukanlah plot utama dan tergambarkan hanya dalam satu scene saja.

Ritme ceritanya mengalir ringan mengikuti plot cerita yang sederhana, tidak ada gejolak-gejolak emosi besar yang mewarnai konflik cerita sehingga semua konflik terlihat selesai begitu saja tanpa menghadirkan efek kejutan. Pertarungan antara Cam dan Locke juga terkesan dibuat mudah dan instan sehingga kurang memberikan rasa penasaran, begitu juga cerita tentang air mujarab terselesaikan begitu saja tanpa ada penjelasan dari mana air mujarab itu berasal.

Namun saya rasa dengan plot cerita yang serba gampang itu bisa mudah diikuti oleh penonton anak-anak karena ceritanya tidak menjadi berat dan cocok menjadi film hiburan untuk ditonton sekeluarga.