Mohon tunggu...
Raihan Tri Atmojo
Raihan Tri Atmojo Mohon Tunggu... Mahasiswa

Suka nulis daripada baca

Selanjutnya

Tutup

Diary

Dewasa Bukan Hanya tentang Diri Sendiri, tapi Juga Orang Lain

23 Februari 2021   14:29 Diperbarui: 23 Februari 2021   14:38 57 3 0 Mohon Tunggu...

Waktu SMA dulu aku pengin cepet-cepet lulus, karena pada waktu itu yang, bayanganku tentang kehidupan SMA akan lebih asik daripada kehidupan di SMA. Ternyata setelah mengalaminya tidak seperti yang kubayangkan. Waktu SMA dulu aku membayangkan bahwa kalau kuliah nanti bisa jalan-jalan di kota besar, banyak kegiatan asyik yang bisa kita lakukan, masuk PTN Impian, dan lain sebagainya.

Ternyata tidak sepenuhnya seperti itu. Hal-hal diatas dapat diperoleh jika kita mau berusaha dulu, mau bekerja keras dulu, serta mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran. Aku pun juga mulai belajar bahwa semakin bertambahnya umur kita, maka jatah dan waktu untuk bersenang-senang bagi kita akan menjadi sedikit. Bukan menjadi sedikit karena terpaksa, tapi karena tanggung jawab kita semakin besar tiap tahunnya.

Contoh saja, waktu TK dan SD, atau bahkan sampai SMP yang paling penting untuk kita lakukan adalah belajar dan bermain. Masa-masa itu kita mulai mengeksplorasi keadaan sekitar, bermain dengan teman-teman agar menstimulus kemampuan motorik kita, serta belajar tentang sesuatu yang mendasar. Bisa berupa norma, adab, nilai-nilai dasar keagamaan, penjumlahan, perkalian, dan hal-hal mendasar lainnya.

Aku waktu kecil dulu diajari rukun Islam, rukun iman, asmaul husna, serta muatan-muatan aqidah yang mendasar. Kebanyakan yang lain pasti juga begitu kan? Kelas satu belajar menghitung angka satu sampai sepuluh, lanjut sampai angka ratusan, dilanjutkan lagi angka ribuan.

Pada waktu itu (masa kecil hingga awal remaja) beban kita tidak terlalu banyak, karena kita belum terlalu paham beban yang ditanggung orang tua. Barulah saat masuk SMA kita mulai memahami perjuangan orang tua. Melihat orang tua yang semakin menua, berbarengan dengan beban finansial yang semakin menumpuk karena kita menempuh pendidikan yang lebih tinggi, membuat kita untuk belajar mengurangi keinginan-keinginan yang kurang bermanfaat.

Dulu waktu kecil, kita tak akan segan-segan meminta uang jajan ke orang tua, berapapun banyaknya. Tapi setelah SMA, untuk meminta uang sangu, walaupun kita tahu orang tua kita masih mampu, tapi dalam hati kecil kita pasti merasa bahwa sudah bukan waktunya lagi untuk meminta-minta saja. Karena itu kita jadi lebih serius dalam belajar, sebagai ganti karena kita tak bisa membantu finansial orang tua secara langsung. Kita berusaha membahagiakan orang tua dengan bergabung ke suatu organisasi, ikut ekstra dan lomba, mencari beasiswa, dan lain sebagainya.

Berjuang untuk hal-hal diatas memang berat dan tidak mudah, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi, jikalau kita berhasil mencapai hal-hal diatas, menjadi pelajar terbaik, menjadi aktivis, mendapat beasiswa, masuk PTN Impian, itu semua belum membalas satu tarikan napas orang tua, walaupun itu membahagiakan mereka. Karena Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa kita baru bisa membalas jasa orang tua jika orang tua menjadi budak, lalu kita memerdekakannya, maka itu baru disebut membalas jasa orang tua kita.

Nah karena sekarang sudah tidak ada perbudakan lagi, maka kesempatan kita untuk membalas seluruh jasa orang tua hampir tidak ada. Tapi kita masih bisa kok berbakti dan membalas sebagian jasa mereka, dengan cara menjadi anak yang berprestasi, syukur-syukur kita juga bisa membantu kebutuhan finansial orang tua. Tapi ingat, itu tidak mudah, dan itu adalah konsekuensi karena kita beranjak dewasa. Dunia orang dewasa bukan dunia untuk bersenang-senang lagi, melainkan dunia dimana kita bisa membahagiakan orang lain. Karena ketika kita dewasa, menyenangkan orang lain akan menjadi hal yang menyenangkan bagi kita juga.

VIDEO PILIHAN