Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Penulis - Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Politik Tengah Demokrat dan Setan Gundul

8 Mei 2019   17:02 Diperbarui: 8 Mei 2019   17:38 85
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pasca berakhirnya masa bakti Presiden SBY di 2014, partai besutan sang jenderal memang seolah menepi dari ketatnya pertarungan politik. Arah dan sikap politik tengah menjadi laku gerak partai biru tersebut.

Fase 2014 yang menghadirkan kepemimpinan baru nasional yakni Jokowi dengan partai pengusungnya PDIP, membuat Demokrat menjauh dari gelanggang, terlebih secara bersamaan banyak persoalan muncul di tubuh internal partai berlambang mercy.

Persoalannya, partai pak SBY memang seolah tidak bisa bersama kubu kekuasaan karena faktor psikologis yang bersifat historik. Sekali lagi, partai Demokrat memang besar dan dibesarkan dengan keberadaan figur personal SBY, dengan citra sebagai tentara pemikir.

Bekalan itu pula yang menghantarkan Demokrat yang memulai debutnya pada 2004 dengan perolehan suara 7.45%, sebagai tahun awal keterpilihan SBY menjadi Presiden RI, hingga kemudian melonjak perolehan suaranya di 2009 mencapai 20.40% sekaligus tonggak periode kepemimpinan SBY.

Selanjutnya, perolehan suara kembali melorot, seiring surutnya kekuasaan, dan problem internal partai. Salah satu yang teringat dari kemunculan Demokrat sebagai partai besar di 2009 adalah terpecahnya bentukan koalisi pemerintah, di kasus Bank Century.

Regenerasi Politik

Penurunan perolehan suara Demokrat terjadi di 2014, dengan seluruh perangkat yang dimiliki maka partai biru ini hanya mampu mempertahankan 10.19% suara. Sejak itu, Demokrat seolah bermain sendiri, tidak hendak berasosiasi pada kekuatan dua kubu yang berkompetisi saat itu, yakni Jokowi-Prabowo.

Putra kedua SBY, menjadi kader yang diusung pada banyak kesempatan. Ibas terpilih menjadi Sekretariat Jenderal partai periode 2010-2015. Hingga kemudian justru sang kakak AHY yang secara drastis masuk ke kancah politik dengan meninggalkan karir militer.

Fenomena AHY, dianggap menjadi figur penting yang mampu mensubtitusi SBY, terlebih dengan latar kemiliteran yang sama, meski AHY harus berkorban atas masa depan profesi ketentaraannya. Keterlibatan AHY dimulai dengan menjadi kandidat pada Pilkada DKI periode 2017 berpasangan dengan mpok Sylvi.

Meski menjadi kuda hitam yang sempat diperhitungkan, toh pada akhirnya, AHY menempatkan pengalaman dalam berkompetisi politik di Ibukota sebagai sarana latih dan uji coba di ranah politik. Sebagai pemegang mandat dan tongkat estafet kepemimpinan partai AHY memang harus ditempa dengan kuat, dan secepat mungkin.

Hal ini kemudian yang bisa ditafsirkan tentang diperlukannya panggung bagi AHY di tingkat nasional, terlebih setelah negosiasi pencalonan AHY untuk berduet dengan Prabowo pada Pilpres 2019 berakhir kandas. Situasi terakhir ini pula yang menjadi dasar sekaligus menjelaskan alasan gerbong Demokrat paling akhir bergabung dari koalisi partai pengusung Prabowo-Sandi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun