Pemuda Membangun Perdamaian

12 Agustus 2017   16:49 Diperbarui: 12 Agustus 2017   17:43 4 2 3
Pemuda Membangun Perdamaian
Dokumentasi Pribadi

Pada tanggal 22 Juli-31 Juli 2017, saya berkesempatan mengikuti Asian Youth Academy/Asian Theology Forum (AYA/ATF) yang diadakan di Yogyakarta, Indonesia.  AYA/ATF ini diselenggarakan oleh Asian Lay Leader (ALL) Forum.

Saya, Lintang, salah satu partisipan dari Indonesia yang sangat beruntung yang dapat mengikuti program AYA/ATF ditahun 2017 ini. Acara ini diikuti oleh perwakilan orang muda dari penjuru asia, seperti Bangladesh, Pakistan, Myanmar, Vietnam, Korea Selatan, China, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

AYA/ATF 2017 diselenggarakan dengan tema Asian Youth, Champion for Building a New World: Centering on Peace, Sustainable Developments, Ecological Justice.

Forum dengan cakupan asia ini mengundang para pemuda pemudi yang aktif di organisasi atau komunitasnya, jadi mereka tidak dapat mengikuti program AYA/ATF secara pribadi, mereka harus membawa nama organisasi atau komunitasnya. Tujuannya agar selepas dari forum ini mereka menjadi agent of change baik bagi orang-orang sekitar, tetapi juga bagi organisasi maupun komunitasnya.

Tema "Pemuda membangun perdamaian" merupakan tema Hari Pemuda Internasional tahun 2017 pada tanggal 12 Agustus 2017 ini, sesuai dengan apa yang hendak dicapai dengan fokus pada kontribusi kaum muda untuk pencegahan konflik, transformasi, inklusi, keadilan sosial dan perdamaian bekelanjutan.

Pada kesempatan AYA/ATF ini, saya bekesempatan untuk tinggal bersama, bersama teman-teman santri di Pesantren Aswaja Nusantara, Mlangi, Sleman Yogyakarta. Sebagai anak muda yang akan menghadapi tantangan di masa yang akan datang, yang kita hadapi tidak hanya perubahan iklim yang sudah mulai terasa, tetapi juga menghadapi nilai-nilai toleransi yang semakin menipis. Tantangan itu juga tidak hanya datang secara nasional tetapi juga internasional.


DOkumentasi Pribadi
DOkumentasi Pribadi

Saya belajar banyak hal di Pesantren ini, Gus Mustafid, Kyai di Pesantren tersebut dan juga istrinya bernama Ibu Ayu, dengan hangat menyambut kedatangan saya dan teman-teman dari asia lainnya. Selama 3 (tiga) hari di Pesantren, ada beberapa hal yang kami pelajari, hari pertama, mereka memberikan pengantar tentang apa itu Pesantren, mereka juga menyuguhkan kami dengan musik Hadrah, berupa kalimat shalawat yang dinyanyikan yang dimainkan dengan alat musik tradisional. Hari kedua, kami dijelaskan mengenai Teologi Aswaja, Pesantren dan Gerakan Perempuan, dan melakukan ziarah ke makam leluhur. Dan di hari ketiga kami dijelaskan tentang sejarah sosial Pesantren.

Hal yang baru saya ketahui adalah, Islam percaya adanya Friend of God. Dari orang-orang sekitar yang dipercaya melalui dia, doa-doa kita akan mudah dikabulkan. Atau yang kita ketahui sebagai Wali Songo. Tapi tidak terbatas hanya pada Wali Songo, menurut penuturan Pak Azham, salah satu guru di Pesantren tersebut, masing-masing daerah mempercayai Friend of God nya sendiri. Bisa dilihat dari banyaknya orang yang datang ke makam orang tersebut untuk berdoa.

Selain itu, pada sesi yang dibawakan oleh Ibu Ayu, mengenai Pesantren dan Gerakan Perempuan. Pesantren akhir-akhir ini semakin diminati karena tidak lepas dari ajaran di dalam keluarga. Orang tua akan merasa senang untuk memberikan pengajaran agama dan nilai kehidupan yang baik dengan memasukan anak mereka ke Pesantren.

Ibu Ayu juga mengatakan bahwa ia sangat senang banyak wanita yang memakai hijab, tetapi tidak sedikit mereka yang memakai hijab tidak sesuai syar'i, memakai hijab hanya sekedar fashion, bukan konten yang dibawa dalam berhijab tersebut. Persoalan poligami dan perceraian pun tidak luput dibahas oleh Ibu Ayu.

Gus Tafid mengatakan, dialog antar agama sangat penting dilakukan untuk membangun komunikasi. Karena pertentangan yang terjadi selama ini terjadi karena tidak saling memahami satu sama lain. Menerima kehadiran teman-teman asia ini menurut Gus Tafid adalah salah satu cara beliau untuk mengajarkan santri-santrinya arti toleransi itu.

Kami mengunjungi salah satu masjid di dekat Pesantren. Masjid ini menempatkan tempat sholat perempuan berada di samping tempat sholat laki-laki.
Kami mengunjungi salah satu masjid di dekat Pesantren. Masjid ini menempatkan tempat sholat perempuan berada di samping tempat sholat laki-laki.

Salah satu sesi yang paling menarik untuk saya ketika berada di Pesantren adalah ketika kami para peserta AYA/ATF dan santri-santri berkumpul dalam satu ruangan untuk bertukar pertanyaan, apa yang tidak kami mengerti tentang Islam, dan apa yang tidak mereka mengerti tentang Katolik. Mereka bertanya mengenai Hari Raya Natal, Bunda Maria, dan sebagainya. Kami juga menunjukan bagaimana kami berdoa Rosario. Sangat menarik bagi saya membagikan pengalaman kami, pengetahuan kami, doa-doa kami didepan mereka.

Bagi saya, peran Pesantren dalam kehidupan sosial sangat penting karena Pesantren mempunyai kontribusi pada pemberdayaan masyarakat, mencegah masuknya paham radikal, dan mengikis neoliberalisme, seperti santri-santri di Pesantren Aswaja Nusantara ini yang diharapkan bisa menanggapi tantangan lokal maupun global masa kini.

Sekian pengalaman saya selama tinggal di Pondok Pesantren Aswaja Nusantara 23-25 Juli 2017 dalam program Asian Youth Academy/Asian Theology Forum 2017 di Yogyakarta, Indonesia.