Balada Cinta Seorang Psikopat

03 Mei 2013 20:08:05 Dibaca :

Namanya Faiq, usianya sekitar 25 tahun, pria berkulit putih, berambut agak keriting, tinggi semampai mirip Jonathan Frizzy. Sangat pendiam dan pemalu, itu kesimpulanku. Karena meskipun jarak rumah kita tidak terlalu jauh, tak sekalipun aku melihatnya. Faiq, sosok pribadi yang aneh (menurutku). Demikian juga menurut beberapa tetangga di kanan kiri rumahnya, jarang sekali ia keluar rumah sekedar bertemu tetangga atau menutup pintu rumah. Pagi hari berangkat kerja, malam pulang kerja, langsung masuk rumah hingga menjelang pagi berikutnya. Begitulah seterusnya. Entah kerja apa dia, aku tidak pernah tahu, yang kutahu ia pergi ke Surabaya membantu ayahnya.

Faiq sebenarnya bukan orang asing bagiku. Ia sepupu suamiku. Walaupun masih terbilang saudara namun jarang sekali kita bertemu, seingatku hanya lebaran saja kita bertemu. Itupun hanya berpapasan tak sengaja, diam tanpa sapa.

Hingga suatu ketika, ada pesan di inboxku. ‘Mbak...”. Sapanya. Aku terkesiap ! Faiq?... Sebutku tak terasa. Kok dia tahu FB-ku?. Belum terjawab keherananku, pesan-pesannya sudah mengalir. Alhamdulillah... ternyata dia mau juga berbicara dengan aku, mbaknya, istri kakaknya.

Naluri ke-mbak-anku keluar begitu saja saat dia ungkapkan keinginannya untuk menikah. Alhamdulillah, ternyata adikku tidaklah sependiam yang disangka orang. Buktinya dia mau mengobrol dengan aku. Dia banyak sharing tentang masalah-masalah seputar pria idaman atau wanita impian. Sebagai kakak yang sudah lebih dulu menikah dengan senang hati aku memberikan gambaran-gambaran tentang persiapan pernikahan. Akupun lebih bersemangat mencarikan dia pacar setelah tahu ternyata dia belum punya pacar.

Satu hari dua hari, satu kali dua kali sampai beberapa kali, tak satupun gadis-gadis yang aku tunjukkan menarik perhatiannya. Padahal sebagai kakak, tentulah yang aku tunjukkan bukan gadis sembarangan. Aku sudah memilih dengan segala pertimbangan.

“Aduh Faiq, aku nyerah deh, aku gak tahu gadis seperti apa yang kamu mau” tulisku di inboxnya.

“Aku inginkan  Mbak” jawabnya singkat.

“Astaghfirullah” aku menjerit tertahan. Aku speechless. Kepalaku terasa berat. Dadaku bergemuruh. Aku ingin segera tidur, aku tidak mau berfikir apa-apa lagi.

Dua hari tidak aku buka inboxku, aku masih takut jangan-jangan ada pesan lagi dari Faiq. Benar saja, ternyata banyak sekali pesan-pesan yang ia kirim. Selama ini diam-diam ia memperhatikanku dari jauh, ia mengagumiku, hingga ia mencintaiku. Kegagalannya mencari pendamping hidup yang seperti aku itulah membuat ia merasa tidak seberuntung kakaknya (suamiku). Sebagai pelampiasan kekecewaannya ia memilih untuk menyendiri. Itu pengakuannya.

“Duh.. Ya Allah... bagaimana aku harus bersikap” aku menarik nafas panjang.

Di satu sisi aku tidak ingin ia tenggelam dalam perasaan yang salah berkepanjangan. Di sisi lain bagaimana caraku untuk membuat dia sadar, dan bisa hidup normal.

Di tengah campur aduk pertanyaan di hatiku, kuputuskan aku harus menemui dia. Bagaimanapun komunikasi akan memberikan solusi, pikirku.

Aku tidak menyangka ternyata dari jarak dekat begitu ia terlihat jauh lebih tampan. Bicaranya sangat sopan. Sungguh pria yang menawan. Beruntung sekali wanita yang bersuamikan dia, gumamku dalam hati. Tak banyak yang kita bicarakan, ia hanya meminta maaf.

“Tuh kan,, kalau kita komunikasi, pasti ada solusi” kataku bangga, karena akulah yang mengajak dia untuk ketemu. Dia hanya tersenyum, manis, tapi sekilas menyimpan misteri.

Ketenangan yang yang kuharapkan ternyata hanya harapan. Faiq datang lagi, yang tentu saja hanya lewat inbox.

“Mbak, maafkan aku, aku gak bisa kehilangan Mbak, ini masalah hati, dan hati gak ada kendalinya Mbak” katanya mengawali pembicaraan.

“Jangan ikuti hati Dik, itu rasa yang salah” jawabku sekenanya saja.

“Mbak pikir aku sengaja dengan semua ini?. Aku juga tidak mau ini terjadi Mbak, Mbak kakakku, aku sadar itu. Rasa itu tiba-tiba ada Mbak, aku sulit melawannya” ucapnya berargumen.

Aku hanya menarik nafas panjang. Aku tidak tahu persis apa yang ada dalam hatinya. Percuma saja berdebat, aku selalu kalah.

Waktu terus berlalu, makin dekat dengan Faiq, makin kurasakan “ketidaknormalan” Faiq. Bagaimana tidak, sikap diamnya itu makin menjadi, bahkan pada orang serumah sekalipun. Ditambah lagi dengan sifatnya yang sangat tempramental, hingga keluarganyapun memilih diam. Tapi anehnya kenapa di inbox ia begitu terbuka padaku?.

“Mbak, kirim aku foto Mbak” pintanya mulai berani. Perasaanku mulai tidak enak. Benar saja, Faiq yang dulu lemah lembut, sopan, malu-malu, kini kata-katanya mulai kasar. Ia sudah berani merayuku. Ia tak malu mengungkapkan fantasi-fantasinya tentangku!.

“Ya Allah... cobaan apa lagi ini” pekikku dalam hati. “Ini sudah tidak bisa ditolerir lagi” tekadku. Aku harus bisa membuat ia sadar. Ia harus segera membuka mata bahwa aku perempuan beranak lima, istri kakaknya pula.

“Kutunggu di lesehan biasanya, besok jam 11 siang” pesanku singkat di inboxnya.

Hanya satu keinginanku, aku ingin menunjukkan pada dia bahwa aku adalah ibu-ibu yang sudah tidak menawan lagi. Aku ingin dia bisa melihat lebih dekat keriput yang mulai menghiasi wajahku. Aku ingin ia melihat lebih jelas tanganku penuh dengan otot-otot yang menonjol. Aku ingin dengan melihatku ia akan ingat ibunya hingga fantasinya tentangku terhenti pula. Emosiku seakan meledak.

Harapanku musnah. Apa yang sudah kurencanakan hilang sia-sia. Ia muncul dengan wajah polosnya, malu-malu dan sopan seperti biasanya. “Ya Allah..” aku tak mengerti, kenapa ia seperti sosok dengan dua kepribadian yang berbeda. Sosok Faiq yang kirim pesan di inboxku jauh berbeda dengan sosok Faiq yang ada di depanku saat ini.

Aku makin tak mengerti. Kisah di inbox selalu terulang kembali.

“Maaf Mbak, sama Mbak aku bergairah” itu pesan Faiq paling kuingat, setelah sebelumnya panjang ia tulis impian-impiannya tentangku. Ia sadar ia tidak mungkin hidup bersamaku. Ia hanya ingin hidup bersama fotoku. Tapi sayang impiannya itu tak pernah terwujud.

Pikiranku sudah tak jernih lagi. Niatku untuk “menyembuhkan” Faiq agar tidak hidup menarik diri kalah oleh amarahku yang membuncah. Aku harus pergi dari kehidupan Faiq. Aku tak peduli dengan pintanya yang memelas . Aku memang kasihan pada Faiq, tapi aku juga tidak mau membiarkan ia hidup dalam angan-angan yang semu. Ia masih muda. Ia harus raih masa depannya.

Aku benar-benar pergi. Aku nonaktifkan FB-ku agar ia tidak bisa menghubungiku lagi. Aku tutup telinga tentang cerita Faiq. Tapi tak lama aku bernafas lega, sore itu tanpa kuduga aku bersimpangan dengan Faiq di ujung jalan. Nyalang ia menatapku !. Sekilas kulihat matanya tampak merah dengan sorot yang tajam. Aku ngeri ! aku merasa asing dengan Faiq, entahlah,, apakah tatapan itu penuh amarah dan dendam, sulit kuartikan.

Dan esoknya adalah saksi sejarah tentang kemarahan Faiq. Aku lihat orang berkerumun di rumah Faiq. Aku bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Aku mendekat pelan-pelan sambil kuatur nafas setenang mungkin. Ternyata ibu Faiq pingsan. “Ya Allah .. apakah semua ini ada hubungannya dengan aku?” tanyaku tak mengerti sambil aku berharap jawabnya “Tidak”. Deras air matakupun tak terbendung setelah tetangga menjelaskan bahwa Faiq minggat dari rumah, dan pagi tadi datang kabar Faiq kritis di rumah sakit , beberapa orang menemukan ia tergeletak di pinggir pasar, dengan botol-botol minuman keras di sekitarnya.

“Faiq, maafkan aku, aku satu-satunya orang yang kau ajak bicara harusnya aku lebih bijak” sesalku tak berarti.

Kutinggalkan rumah Faiq secepat mungkin. Sekuat tenaga aku berjalan rasanya semakin berat saja kakiku. Terbayang di belakangku orang-orang menudingku “Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini !”.

Yhunk Yuliani

/yhunk

Konselor yang ingin menyambung silaturrahim lewat tulisan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?