HIGHLIGHT

Jangan Sampai Ditelanjangi di Internet

24 September 2012 05:10:52 Dibaca :

Begini lho... setiap tulisan yang kita publish itu bisa hidup jauuuh.. lebih lama dari usia kita sendiri. Dan Anak cucu kita kelak akan bisa membaca jejak-jejak tulisan kita melalui media internet.

Nah bayangkan jika tulisan-tulisan yang kita posting itu bertema vulgar, esek-esek, atau tulisan buruk yang tidak ada manfaatnya. Tulisan-tulisan itu akan hidup terus.. dan anak cucu kita akan membaca apa yang pernah dituliskan oleh orang tuanya.

Tapi....

Hal ini masih cukup aman...

Karena tulisan-tulisan itu kita sendiri yang mempublikasikannya.. maka kita pun bisa menghapusnya..

Hal ini berbeda jika banyak tulisan-tulisan dari orang lain yang 'menelanjangi' intelektualitas kita di internet. Kita tidak mungkin bisa menghapus tulisan-tulisan yang di-publish oleh orang lain itu. Dan celakanya adalah, anak cucu kita akan tetap bisa membaca tulisan-tulisan tersebut!

Misalkan saja, anak cucu saya mengetik nama saya di Google... lalu yang muncul adalah artikel-artikel seperti di bawah ini:
"Sesat Pikir Erri Subakti"

Dari judul artikelnya saja, sudah bisa diduga apa yang akan diungkapkan oleh si penulis artikel.

"Erri Subakti, Tak Bisakan Kita Diskusi Dengan Sehat?"

Dari judulnya saja kita bisa lihat bahwa saya tidak bisa diskusi dengan sehat.

"Menilik Pesan Tulisan Erri Subakti..." ternyata di punghujung artikel si penulis menuliskan,

"Saya berkenan berdialog dalam komentar selama menggunakan argumentasi yang sehat."

"Erri Subakti Juga Perlu Diperiksa..."


Tuh.. judulnya saja sudah gawat kan...


"Kompasianer Erri Subakti (ES): Saya Belajar dari Anda…"

Ternyata isi artikel itu memberikan pesan

".. teori anda jika tak berdasar tak ubahnya omong kosong isapan jempol seperti komentar ini. Ingat pepatah yang mungkin sudah anda dengar berulang kali, setiap kali anda menunjuk pada orang, empat jari lainnya mengarah pada anda. Jika tak ada landasan, diam itu emas."
Dan masih puluhan artikel lainnya yang 'menelanjangi intelektualitas' saya di media internet. Walaaah.. gimana nanti anak cucu saya kalau sampai membaca puluhan-puluhan artikel di atas... duh...

Seandainya tulisan-tulisan tersebut berisi tentang bagaimana “cerah”nya pemikiran saya sih tak masalah.. tapi ratusan artikel itu justru malah ‘menelanjangi’ intelektualitas saya… duh… jangan sampe deh..

Kok bisa sih banyak orang yang 'menelanjangi intelektualitas' kita di dunia maya ini?

Ya bisa saja... itu berarti ada "keran yang mampet..!!"

Keran mampet???

Ya.. kolom komentar di bawah sebuah artikel adalah penyalur berbagai gagasan dan ide, kritik dan saran bahkan sarana berdiskusi antar para penulis dan komentator...

Nah kolom komentar itulah sebagai "keran" pengalir berbagai argumentasi bagi para pembaca...

Jika "keran" itu dibuat 'mampet'... berbagai gagasan lain, kritik maupun saran itu tidak mengalir.. maka aliran gagasan dan kritik-kritik atas pemikiran kita beralih ke sarana yang lebih membahayakan.. yaitu.. sejumlah posting yang akan menelanjangi intelektualitas kita sendiri...!

Berargumentasilah dengan sehat… Kalau memang ada kesalahan premis maupun pemikiran, ataupun sumber-sumber tulisan.. akui saja.. tak perlu malu..

Banyak sekali kok ilmuwan-ilmuwan yang teorinya gagal dan pemikirannya salah.. toh kalo salah.. ya berani mengubah atau menggeser poaradigma sebelumnya.. sangat wajar.. saling menasehati dan saling berbagi inspirasi.. tak perlu merasa paling benar sendiri…

Maka berkomentarlah dengan nalar yang sehat dan yang lebih penting lagi, berhati-hatilah dalam menutup "keran" gagasan para pembaca artikel kita...

*Artikel Terkait : Hapus Komen? Pikir Lagi Deh..

Erri Subakti

/www.treecon.wordpress.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Menulis untuk Menulis."
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?