HIGHLIGHT

"Jejak Guru di Pedalaman Merauke"

03 September 2012 01:24:51 Dibaca :
"Jejak Guru di Pedalaman Merauke"

Sahabatku, renungkanlah...

Kita menilai diri sendiri berdasarkan apa yang kita perbuat,

orang lain menilai kita berdasarkan apa yang telah kita perbuat. sahabt ku, Janganlah berputus asa.

Tetapi bila engkau sampai berada dalam keadaan berputus asa,

berjuanglah terus, meskipun dalam keadaan putus asa.

Jangan berhenti berupaya ketika menemui kegagalan.

Karena kegagalan

adalah cara Tuhan mengajari kita tentang arti kesungguhan.

Belum habis penderitaan anak negri, dari aroma penjajahan. Tiga ratus lima puluh tahun lamanya mengubur senyum serumpun harapan atas seribu impian. Namun sang mentari dilangit pertiwi tak hanya terpaku, peluhnya berusaha melukis keadaan menjadi indah, dan sang waktu terus menerus berlari untuk mencapai tujuan gemilang. Perjalanan masih panjang wahai saudaraku, kisah klasik ini akan terus berlayar dan menghampiri setiap sudut negri ini. Dan langkah-langkah kecil di tengah hutan, di tepi batas negri, akan bercerita tentang sesuatu yang masih tertunda tuk menikmati kemerdekaan. Seakan-akan aroma itu akan terus menebar disetiap hembusan nafas pewaris negri. Sahabatku, ikuti jejaknya, agar kita sampai diujung rasa, sebuah perasaan seribu bahasa tentang tangis dan tawa, suka dan duka. Sahabat, engkau tidak akan mampu untuk selalu memiliki kebahagiaan, namun kau harus mampu selalu memberikan kebahagiaan. Berjalanlah keujung timur, maka kau akan menemukan pendidikan tidak akan sangat berguna, jika hanya mengajarkan cara hidup, tapi akan lebih berguna jika mengajarkan cara membuat kehidupan. Dan pendidikan, adalah kunci yang bisa membuka pintu emas kemerdekaan itu.

Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan.

Setiap kita tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kita

sampai kita melupakan kegagalan dan rasa sakit hati.

Usai mempersiapkan segala bekal yang harus di bawa dalam perjalanan, beliau pun bersegera menghantar kan istri tercintanya ketempat dimana sang istri mengajar. Amir yang masih berumur 3 tahun seakan terbiasa dengan keadaan seperti itu, ditinggal sang ayah, terkadang untuk waktu yang lama, sehingga belum habis kerinduan itu untuk dinikmati. Namun panggilan tugas tak mampu di elakkan, semua itu demi kebaikan diri dan masyarakat. Pak Muktarom namanya, dua tahun sudah lamanya dia mengabdikan diri sebagai seorang guru SD di Distrik Tubang. Suatu daerah yang baru saja dimekarkan dikabupaten Merauke. Yamaha king tanpa lelah selalu setia mengantar jemput pria tamatan D3 keguruan ini, sampai disetiap tempat yang menjadi niat ikhlasnya. Perjalanan yang menempuh waktu dua hari dua malam dari kota merauke menuju Distrik Tubang, dalam keadaan cuaca cerah berawan.  Namun sayangnya, cuaca di daerah papua tidak dapat diprediksi secara sistematis, curah hujan berbeda-beda disetiap daerahnya. Ketika  hujan membasahi bumi, maka tidak ada jalan lain yang akan dilewati, selain lumpur merah lengket dan penuh lobang disepanjang jalan, yang kedalamannya mencapai setengah meter ditengah belantara papua. Tidak hanya itu, beliau juga harus hafal pasang surut air laut sebab dermaga tempat penyebrangan terlalu tinggi antara permukaan sungai yang deras itu, dengan daratan ekstra licin.

Jika semangat tiada henti

Kemudahan itu akan sering datang menghampiri Jangan berhenti berupaya ketika menemui kegagalan.

Karena kegagalan adalah cara Tuhan mengajari kita tentang arti kesungguhan.

Berdiri dan melangkahlah saudaraku....

Menjadi seorang guru PNS di pedalaman Merauke, tidak membuatnya gentar sedikitpun. Walaupun dengan pendapatan perbulannya hanya satu juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah,  beliau terlihat sangat mensyukuri nya. Sekali melakukan perjalanan dari distrik menuju kota merauke, beliau mengahabiskan semua gajinya satu bulan sebab, perjalanan cukup jauh. Perjalanan melintasi lima kali penyebrangan sebut saja, kali kumbe, kali  bian, kali kolowi, kali hewa dan kali gurakan yang tentunya masing-masing dari kali itu memiliki tantangan yang menyeramkan dan tantangan kerasnya kehidupan, maka tak heran bila guru dipedalaman harus mencari sampingan. Tiada henti mencari berkah kehidupan, sebagai senjata selamat dunia dan kahirat beliau lakukan. Beliau yang selalu meredam rindu pada keluarga dan mencari sela untuk dapat mudik ke kota, dimana anak dan istri beliau berdomisili, hanya sekitar dua bulan sekali beliau lakukan.

"Kita harus siap ketika kesempatan datang

karena kesiapan bisa mengubah kesempatan menjadi kesuksesan.

Bersiaplah, jangan tunggu kesempatan datang;

namun ciptakanlah kesempatan itu."

Selama dalam perjalanan melintasi hutan merauke, cukuplah mengerikan bagi yang belum terbiasa. Namun lain halnya bagi beliau, beliau tampak terbiasa melakukan perjalanan yang seperti ini, walau dengan raut wajah yang mengharukan. Melintas di tepi batas negri membutuhkan kesiapan bekal yang cukup, sebab perjalanan yang ditempuh cukup jauh, tidak terdapat satupun rumah penduduk di sepanjang jalan yang dilalui, apa lagi harus belanja perbekalan diwarung selama perjalanan bila mengalami kehabisan bahan makanan dan lainnya. Cara satu-satunya hanyalah membawa bekal yang diperlukan selama dalam perjalanan yang harganya jauh dari harga pasar, karena sulitnya ditemukan, tak heran bila di daerah lain melakukan demonstrasi BBM sementra ditanah Papua tidak melakukan respon apapun, sebab bagi rakyat Papua, harga barang kebutuhan seperti BBM yang melonjak tinggi sudahlah menjadi hal yang biasa, tentunya semua itu untuk kelancaran aktivitas mereka sehari-hari.

Butuh optimisme ketika hidup ini mulai menyusahkan dan butuh keberanian untuk mewujudkannya.”

Rintangan demi rintangan terus dihadapi menelusuri jalanan panjang belantara papua, penuh dengan bebatuan runcing dan lumpur peninggalan dari pembangunan yang tidak merata, krafu salah satu jalan yang mendapat rekor tertinggi, disebabkan memiliki kerusakan jalan sepanjang 7 km dimusim panas, apa lagi bila musim hujan tiba. Dan selama setahun ini, sejak tahun 2011 sampai dengan 2012 curah hujan mengalami ketidakstabilan, hujan setahun penuh  seakan menjadi teman setia tanah papua dan jalan, dan sedihnya jalan Dumande Bian selalu mengalami kerusakan total setelah melintasi Krafu sejauh 7 km. Sepanjang perjalanan beliau melakukan barteran buah pinang dengan ayam ternak para namek ( panggilan bagi suku asli papua) ditetiap perkampungan yang ditemukan dan sesampainya dikota merauke ayam-ayam itu dijual ke pasar.

"Inspirasi bisa datang kapan saja dan dari mana saja,

permasalahannya adalah apakah kita bisa mewujudkan inspirasi tersebut

atau kita hanya membiarkannya saja."

Tempat tinggal yang sangat sederhana sekali menjadi saksi bisu kesepian dalam perjuangan  beliau, dinding rumah yang terbuat dari batang sagu, beratapkan daun sagu dan berlantaikan batang kelapa menjadi  motivasi beliau untuk menjadi guru yang dicintai para muridnya yang 99% suku Marind ( suku asli tanah mereuka) dan selebihnya suku pendatang dari tanah sulawesi seperti, suku bugis. Ekonomi yang kurang memadai membuat para murid ikut mencari nafkah bersama orang tua mereka demi kebutuhan hidup sehari-hari, mata pencarian yang pas pasan, istilahnya membuat mereka tak bergairah untuk menimba ilmu disekolah, apalagi sekolah tempat beliau bertugas jarang sekali mendapat bantuan dari pemerintah mulai ifrastruktur dan oprasional ( seperti peralatan sekolah maupun guru ) sama sekali belum mendapat perhatian yang khusus dari pemerintah, yang paling menyedihkan ketika guru yang mengajar hanya satu orang saja, maka pastinya pendidikan tidak akan berjalan sempuruna seperti yang diharapkan pemerintah, karena harus melakukan kelas paralel ditahap perkembangan anak yang berbeda. Jika beliau sakit, beliau harus sabar menunggu obat dari dokter kerena tidak lengkapnya obat-obatan dan peralatan  di puskemas terdekat, jika sakit terus berlanjut maka beliau harus meminta izin pulang kekota merauke, untuk menjalani perawatan, itu pun jika beliau sanggup berjalan, atau pun ada yang membawakan beliau untuk berobat. Namun syukurlah, beliau sangat jarang mengalami sakit yang memberatkan, namun bagi beliau hal yang paling berat adalah kerinduan dengan keluarga beliau, di merauke.

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian.” (Muhammad : 31)

Cerita singkat air mata dari pejuang pendidikan di pedalaman merauke, membuat ku selalu ingin menjadi yang terbaik untuk anak negri. Hanya mampu menarik nafas panjang sambil menadah kelangit. Sore itu, ketika langit cerah yang menjadi inspirasiku melukiskan kisah ini di benakku.  Sahabatku, perjalanan masih panjang tuk kita menelusuri negri ini, yang penuh kekayaan dan masih terpendam dari tatapan mata bocah lugu sudut negri. Hanya layang-layang yang menentang angin yang mampu berkibar tinggi di angkasa. Jika kita tidak mampu menjadi pelita yang menerangi malam, maka jadilah kunang-kunang yang menghiasi malam.

Semoga apa yang mereka lakukan ( pak muktarom dan teman seperjuangan)  mendapat ridho dari ALLAH. Dan bagi kita yang mendapat kesempatan baik ditempat pengabdian, untuk dapat memanfaatkan segala nikmat dengan rasa syukur kepada ALLAH yang selalu menguji hambanya dan memberi jalan keluar, di setiap permasalahan. Salam hangat beliau untuk semua sahabat guru Indonesia.

Sesungguhnya Allah mencintai orang - orang yang tidak menonjolkan diri, taqwa, & shalih.

Apabila tidak hadir, mereka tak dicari cari.

Apabila hadir mereka tak dikenali.

Mereka bagaikan lentera lentera petunjuk yang menerangi setiap kegelapan.

” (HR. Al Mundziri dalam At Targhib wat Tarhib, hasan)

Aslam Syah Muda

/www.sekolahguruindonesia.net

Alumni UISU-Medan, SGI 2 and sekerang menjadi Publik Relation SGI-DD
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?