Mensyiarkan Keindahan Islam

20 Oktober 2016 00:06:49 Diperbarui: 20 Oktober 2016 00:29:55 Dibaca : Komentar : Nilai :

Islam adalah agama terbesar di Indonesia. Di dunia, agama Islam juga merupakan salah satu agama dengan pengikut terbesar, yakni lebih dari satu milyar manusia. Jumlahnya pun  bisa semakin bertambah dan bisa juga menjadi berkurang. Apa yang menyebabkan berkurang? Pertama karena syiar tidak dilakukan lagi dan kedua karena syiar yang disampaikan tidak sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Allah SWT dan Rasulnya Muhammad SAW.

Agama Islam sangat menyukai segala bentuk kebaikan, keindahan, dan keharmonisan. Di setiap ajarannya tidak ada yang menyebabkan kerugian baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, ajaran tersebut harus kita sebarkan melalui berbagai cara, bisa dengan dakwah secara lisan dan tulisan, menyebarkan gambar dan video yang menunjukkan indahnya Islam, atau bisa juga melalui event/kegiatan Islami.

Pada saat ini, segala kejadian dan peristiwa sangat mudah untuk disebarkan ke seluruh dunia. Perkembangan teknologi komunikasi yang  begitu pesat membuat informasi menjadi seperti udara yang terus berhembus di telinga dan mata manusia. Tentu hal tersebut menjadi alat bagi ummat Islam untuk menyebarkan ajaran Islam.

Ada banyak hal yang telah menunjukkan Islam sebagai agama yang sempurna, seperti Hari Raya Idul fitri yang menjadikan kita kembali fitrah dengan saling memaafkan. Media massa berlomba-lomba memberitakan betapa meriahnya hari raya ini. Para perantau kembali ke kampung halaman masing-masing untuk bertemu keluarga dan mempererat tali silaturahim. Kegiatan saling memafkan bukan hanya memperbaiki kehidupan sosial tetapi bisa juga mengobati psikologi manusia. Pesan untuk memafkan bukan meminta maaf diajarkan Islam agar setiap orang berlapang dada dan tidak menyimpan dendam.

Syiar Islam dapat juga dilihat pada perayaan hari raya Idul Adha. Pada hari itu, ribuan orang umat Islam dari seluruh penjuru dunia telah berada di tanah suci. Disana mereka melaksanakan serangkaian ibadah haji. Kota mekkah pun menjadi semakin mahsyur dari waktu ke waktu. Bila ada yang mendengar kota mekkah, maka gambaran yang muncul di pikiran adalah kiblat sholat ummat Islam dan sebuah kota yang megah dan sangat bercahaya di malam hari. Sebuah brand yang sangat bagus untuk menunjukkan betapa indahnya agama Islam.

Di tempat lain, milyaran orang beragama Islam merayakan Idul Adha dengan berqurban. Sebuah ibadah yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim A.s.  Satu kisah yang penuh hikmah dengan anjuran untuk saling berbagi. Di media massa pemberitaan ritual menyembelih dan berbagi hewan qurban menunjukkan pentingnya untuk peduli kepada sesama dengan mengurbankan harta yang paling dicintai untuk dibagikan kesesama dan khususnya kepada orang yang kurang mampu. Ummat Islam menunjukkan jati dirinya sebagai agama yang sangat harmonis dan dan merupakan agama yang sempurna seperti firman Allah “Pada hari ini, telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan nikmatKu kepadamu, dan Aku ridha Islam menjadi agamamu” (Q,S Almaidah:3).

Begitu juga ketika penulis menghadiri Musabaqoh Tilawatil Qur’an di berbagai daerah. Dimana tujuan utama diadakannya MTQ adalah untuk syiar Islam. Dalam pelaksanaannya, berbagai kegiatan dilakukan untuk menunjukkan betapa indahnya Agama Islam, mulai dari musabaqoh hifzil qur’an yang menghadirkan para penghafal al-Qur’an dari berbagi usia, para khattah yang menulis ayat alquran dengan seni kaligrafi yang sangat indah, dan bacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan para QoridanQoriah dengan sangat merdu dan menyentuh hati. Suara mereka menyebar ke sekitar tempat pelaksaan MTQ dan masyarakat sekitar menikmati bacaan mereka. Citra Islam sebagai agama yang indah semakin kuat dengan berbagai kegiatan MTQ tersebut.

Brand yang baik sangatlah penting dan butuh pengorbanan untuk menciptakan sebuah brand yang baik dan dikenal luas. Cara untuk menciptakan brand yang baik adalah dengan membuat satu kesan yang indah untuk didengar, dilihat dan dirasakan. Kita tentu sangat marah dan jengkel ketika ada media yang membingkai/memberitakan Agama Islam sebagai agama teroris. Kita tidak bisa “memberangus” media yang mengatakan hal tersebut karena Islam sangat melarang segala bentuk pengerusakan. Cara paling elegan adalah dengan menciptakan citra Islam yang bisa menghapus citra buruk tersebut.

Dengan melakukan berbagai kebaikan, saling tolong menolong dan menghindari segala bentuk tindakan anarki, bentrok, dan arogansi setidakya kita menunjukkan bahwa islam jauh dari kata teroris. Sebuah label salah alamat dan merupakan bentuk fitnah yang sebenarnya bisa jadi sebuah upaya pihak tidak bertanggung jawab untuk memperburuk citra islam.

Di media massa juga penulis melihat beberapa foto yang menunjukkan perbedaan kondisi sendal/sepatu jamaah beberapa masjid dengan tempat ibadah lain. Perbedaannya terlihat ketika kondisi alas kaki di masjid yang berantakan sedangkan di tempat ibadah agama lain tersusun dengan rapi.  Hal ini tentu sepele, namun bila kondisi tersebut telah difoto dan disebarkan di berbagai media tentu memperburuk citra Islam. Hal ini berlaku untuk seorang muslim yang penampilannya yang kurang rapi dan aromanya yang kurang sedap, tentu bisa menurunkan citra Islam yang menganjurkan kebersihan dan memakai wangi-wangian.

Kita juga harus selalu memegang jati diri kita sebagai kaum muslim. Terkadang penulis sering melihat seorang muslim justrul malu menunjukkan ia sebagai orang yang beragama islam, bisa jadi dikarenakan faktor lingkungan. Ketika adzan berkumandang ia justrul santai dan tidak memenuhi panggilan itu. Ketika mendengar lantunan ayat Al-Qur’an justrul ia membuat guyonan dengan mengatakan panas-panas. Padahal etika ketika mendengar lantunan ayat al-Qur’an yang baik adalah mendengarkan dan menghayatinya karena hal tersebut termasuk ibadah.

Tidak sedikit ada orang yang beragama islam justrul menyembunyikan jati dirinya sebagai kaum muslim karena takut dibilang sok alim dan ketinggalan. Sehingga, dengan menyembunyikan jati dirinya sebagai kaum muslim ia pun tidak melakukan syiar islam. Hal itu terlihat dari cara ia berpakaian yang enggan untuk mengenakan pakaian untuk beribadah seperti baju koko, kain sarung dan kopiah/peci karena malu dibilang sebagai seorang ustadz.

Hal tersebut juga berlaku kepada sebagian perempuan islam yang tidak mau berpakain muslimah seperti jilbab dengan alasan belum siap. Bahkan ada yang mengatakan percuma berjilbab kalau hatinya tidak berjilbab. Sebuah kalimat ngeyeluntuk membenarkan bahwa ia memang tidak mau berjilbab, padahal agama islam dalam Kitab suci Al-quran telah mewajibkan para perempuan untuk menutupi kepala mereka dengan jilbab. Begitu juga dengan tingkah lakunya sehari-hari yang terkadang melenceng dari syariat islam, berkata kotor dan berbuat yang tidak dibolehkan agama. 

Meskipun demikian, seorang muslim tidak perlu melakukan syiar dengan berlebihan atau lebay. Dalam artian selalu terfokus pada akhirat dan melupakan urusan dunia. Bukan berarti penulis menganjurkan dosa. Tidak sama sekali. Syiar islam haruslah kita lakukan agar pesan yang kita sampaikan mengena di hati orang lain tanpa menggangggunya. Kita juga tidak harus berpakaian gamis dan serban setiap waktu karena itu merupkan kebuyaan bangsa lain.

Lewat tulisan ini penulis menyeru kepada para pembaca dan khususnya kepada diri sendiri untuk mensyiarkankeindahan Islam. Mari kita melakukan instrofeksi diri dan selalu menunjukkan jati diri kita sebagai ummat islam dan menyebarkan segala yang baik tentang Islam dengan berpakain yang bersih dan wangi, menyusun sendal/sepatu ketika memasuki masjid, berucap/bertingkah yang sopan dan kebaikan lainya agar brand Islam semakin baik di mata dunia.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article