20/9, Foke Insyaf dan Sadar

20 September 2012 19:26:47 Dibaca :

Pilkada Jakarta menjadikan sebuah momentum bagi orang-orang angkuhn untuk kembali insyaf, sehingga sadar bahwa manusia hanyalah buih ditengah lautan, dimata sang pencipta. Hal itu, merupakan pandangan dalam dimensi agama.
Disisi Demokrasi, Pesta demokrasi Jakarta menandaskan bahwa kekuasaan itu berada ditangan rakyat. Juga, mematrikan sebuah idiom bahwa suatu rakyat merupakan suara Tuhan.
Pilgub Ibukota ini mungkin menjadikan sebuah perenungan bagi Foke dan kawan-kawan. Keangkuhan, arogansi serta sedikit Fasis. Sikap itu terlihat dikala putaran pertama usai, Foke menyebut "mata lu tarok dimana," disaat kawan-kawan media menanyakan keberadaanya, usai pencoblosan. Atau, statement Foke yang masih terngiang "mungkin yang ia hubungi pemadam kebakaran" jawaban terlontar, saat media menanyakan perihal Telepon dari Jokowi. Itulah sebagian sifat Foke ketika kekuasaan dalam genggamannya, ia merasa Raja, seperti orang yang paling dibutuhkan Jakarta, dan seolah Artis atau Selebriti.
juga, sikap Fauzi Bowo mencerminkan seorang manusia tidak membutuhkan orang lain. Roda berputar cepat, saat pemilihan siapa yang memegang tampuk kekuasaan, giliran masyarakat sombong. Anehnya, arogansi Foke masih masih juga kentara.

Namun, keangkuhanya hilang seketika tatkala hasil Quick Count di umumkan. Dalam sebuah pernyataan Foke berbagai media, menampakan seorang ketokohan, sikap elegan diperlihatkannya. Kerendahan hati dan jiwa Ksatria muncul secara spontan, tanpa di arahkan oleh Tim Suksesnya. Dari mimik wajahnya, mengisyaratkan sebuah pesan penyesalan dari keangkuhan dan arogan yang diperlihatkan, ketika jabatan dalam genggaman.

Fauzi Bowo dengan Gentleman, memberikan ucapan selamat kepada Jokowi-Ahok, Dan meminta masyarakat Jakarta untuk selalu rukun dan damai Pasca pencoblosan dan hasil dari Rileas Qucik Count berbagai Lembaga Survey. Bandingkan di berbagai daerah yang kerap terjadi kerusuhan pasca hasil Pilkada diumumkan, pasangan calon yang kalah sering kali memprovokasi masa membuat kegaduhan. Namun di Jakarta, kita wajib angkat topi pada Imcumbent.
20 September 2012 sejarah baru perjalanan hidup Bapak Fauzi Bowo. Keihklasan, ramah dan sikap rendah hati Jokowi menular pada Foke. Sebuah pembelajaran yang sangat positif diberikan Jokowi dan Ahok. Sekali lagi Keangkuhan dan kesombongan membawa kita kearah kehancuran.

Jefri Hidayat

/www.jefrihidayat.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

domisili di Sumbar, lajang, 30 tahun. Twitter @jefrineger
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?