PILIHAN HEADLINE

Luke Cage dan Suara Kaum Pinggiran

18 Maret 2017 09:38:21 Diperbarui: 18 Maret 2017 20:37:40 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Luke Cage dan Suara Kaum Pinggiran
(Foto: geek.com)

Kira-kira dua dekade lalu, saat stasiun-stasiun televisi swasta masih jauh lebih bagus daripada sekarang, Indosiar pernah menayangkan serial New York Undercover. Berkisah tentang dua detektif jago menyamar, serial itu membekas sekali di benak para penggemar R&B, soul, dan jazz karena dihiasi banyak lagu-lagu soundtrack yang melodius.

Dikisahkan tokoh-tokohnya kerap mampir di kafe Natalie’s di mana selalu ada musik live di sana, dan para penampilnya pun jago-jago semua. Tercatat ada nama-nama George Benson, Mary J. Blige, Boyz II Men, Gladys Knight, dan juga Chaka Khan, yang semuanya tak hanya ngetop, melainkan juga legenda. Kini, nonton streaming Marvel’s Luke Cage membangkitkan kenangan akan New York Undercover dan penampilan-penampilan musik live yang mengesankan itu.

Pasalnya, di delapan dari 13 episode musim pertamanya, Luke Cage juga menghadirkan penampilan-penampilan panggung para artis musik hip hop dan R&B. Yang beda hanya tempatnya, tentu saja. Jika di New York Undercover ada kafe Natalie’s, maka di sini panggungnya ada di pub dan klab malam Harlem’s Paradise milik bos gangster Cornell “Cottonmouth” Stokes (Mahershala Ali). Kita berkesempatan menyaksikan penampilan Raphael Saadiq, Faith Evans, Jidenna, dan juga DJ d-Nice.

Luke Cage bercerita soal Luke Cage, superhero berkekuatan luar biasa dan berkulit antipeluru yang juga dikenal dengan nama alias Power Man. Nama aslinya adalah Carl Lucas, dan ia sempat menghuni penjara karena dijebak oleh mantan sahabatnya, Will Stryker. Di sana ia mengalami kecelakaan dalam sebuah eksperimen medis yang mengubah susunan otot dan saraf-sarafnya sehingga mempunyai kelebihan dibanding manusia normal.

Kisah di serial ini berlangsung kira-kira setengah tahun sesudah rangkaian peristiwa di serial Marvel’s Jessica Jones. Gara-gara ditembak Jessica dan mengalami pendarahan otak, Luke kemudian pindah dari Hell’s Kitchen menuju Harlem, areal permukiman (neighborhood) lain di Manhattan, New York City. Di sana ia memulai hidup baru dengan bekerja sebagai tukang sapu di barber shop milik Henry “Pop” Hunter (Frankie Faison), mantan gangster yang telah bertobat.

Hari-hari Luke kemudian diganggu oleh kebrutalan geng-geng preman yang beroperasi memeras para pengusaha dan pedagang di Harlem, terutama kelompok mafia Cottonmouth. Awalnya Luke ingin mengasingkan diri dari pergaulan, agar kelebihannya tak diketahui siapapun. Namun semuanya berubah ketika Pop kemudian tewas di tangan Tone (Warner Miller), salah satu anak buah Cottonmouth.

Luke kemudian terlibat dalam konflik dengan para gangster Cottonmouth, termasuk dengan Mariah Dillard (Alfre Woodward), sepupu Cottonmouth yang seorang anggota dewan dan ikut berperan dalam aneka macam kegiatan ilegal. Selain mereka berdua, Luke juga berseteru dengan musuh lamanya, Will alias Diamondback. Lalu ia bertemu kenalan baru yang menyelamatkannya dari pendarahan otak, yaitu Claire Temple (Rosario Dawson).

Luke Cage dirilis di Netflix tanggal 30 September 2016 lalu, dan menjadi salah satu cabang dari semesta fiktif Marvel Cinematic Universe (MCU). Para tokohnya kerap membicarakan “Insiden” di Hell’s Kitchen, yang tak lain adalah pertempuran para superhero Avengers melawan para alien Chitauri yang didatangkan Loki di film The Avengers (2012). Daredevil dan Jessica Jones juga kerap disebut-sebut oleh para kenalan Luke.

Serial ini memang merupakan judul ketiga dari tokoh-tokoh superhero Marvel yang diunggah oleh Netflix setelah mereka berdua. Satu lagi yang bakal menyusul adalah Iron Fist, direncanakan muncul bulan Maret 2017 ini. Lalu keempatnya akan ketemu dan bergabung dalam satu geng di miniseri The Defenders yang akan tersusun atas delapan episode. Sesudah itu akan ada serial The Punisher sebelum para anggota The Defenders melanjutkan kisah masing-masing untuk musim kedua (musim ketiga khusus untuk Daredevil).

Seperti Jessica Jones, Luke juga bukan superhero yang mengenakan kostum seperti Captain America, Iron-Man, atau Ant-Man. Ia bahkan merasakan kelebihannya sebagai gangguan hidup daripada berkah. Dan kenyataannya, situasi yang pelik di Harlem membuat aksi-aksinya menghabisi para preman Cottonmouth tak dengan seketika membuatnya menjadi hero yang dipujisanjung segala kalangan. Terlebih ia punya masa lalu kelam. Tak hanya di penjara namun juga terkait almarhumah istrinya, Reva (Parisa Fitz-Henley).

Luke Cage memang diproduksi dengan pendekatan yang jauh lebih membumi, sehingga dapat dengan jelas memotret kondisi sosial warga Harlem kontemporer, terutama di kalangan orang-orang Afro-Amerika. Serial ini nyaris tak beraroma pahlawan super sama sekali, melainkan lebih ke kritik dan satir sosial. Kita bisa melihat kegetiran dan kegelisahan hidup kaum kulit berwarna di AS. Banyak yang berpotensi, namun ujung-ujungnya tetap saja jadi kaum marjinal yang terpinggirkan.

Gaya pengemasan ini pun jadi menarik untuk diamati. Tiga serial bertema superhero Marvel di Netflix, semuanya dibuat dengan konsep dan pendekatan yang saling beda-beda. Dan itu dengan tepat mewakili latar belakang serta kekhasan masing-masing tokoh.

Daredevil diletakkan sebagai representasi kalangan elit superhero. Ia berkostum, memang punya visi & misi untuk menggebuki penjahat, dan dikenal luas di seluruh Hell’s Kitchen. Tema ceritanya pun mirip cerita silat atau kung fu, dengan aneka macam tokoh besar yang berkemampuan setara atau bahkan di atas sang hero. Musuhnya tak tanggung-tanggung: bos besar Wilson Fisk di musim pertama, dan organisasi gelap berusia ratusan tahun bernama The Hand di musim kedua.

Aksi-aksi Matt Murdock saat berkostum iblis warna merah gelap tertuang dalam gambar-gambar yang stylish dan berkelas. Tak beda dengan hasil rancangan The Wachowskis (tadinya The Wachowski Brothers, sebelum Andy dan Larry operasi lalu menjadi Lily dan Lana) di trilogi The Matrix. Ada koreografi laga yang rapi dilengkapi gambar-gambar extreme slow motion yang membuat keringat, darah, dan tetesan hujan tercurah dengan penuh gaya.

Jessica Jones, seperti pernah saya ulas dalam tulisan sebelumnya, dikemas dalam gaya neo-noir yang kelam. Cocok dengan kehidupan muram Jessica (Krysten Ritter) yang baru saja mengalami kegagalan sebagai superhero berkostum dan gara-gara ulah jahat Kilgrave (David Tennant). Nuansa ceritanya bersifat lebih personal, karena ia menghadapi hanya satu musuh sepanjang 13 episode musim pertama.

Sedang Luke Cage adalah drama tentang permasalahan sosial dengan sedikit sentuhan kisah mafia. Gambar-gambarnya berwarna kusam dan miskin adegan spektakuler. Dengan konsep yang saling berciri khas begini, menarik untuk ditunggu seperti apa kemasan serial Iron Fist nanti, terlebih karena superhero yang satu ini mendapatkan kekuatannya dari seni bela diri Timur Jauh, khususnya kung fu dengan jurus Tinju Besi yang sangat dahsyat. Barangkali Iron Fist bakal mirip serial-serial kung fu seperti The Legend of the Condor Heroes atau Heaven Sword & Dragon Sabre (To Liong To).

Namun narasi terpenting dari keseluruhan episode-episode Luke Cage adalah soal ras. Aroma itu sangat kental di sini, sehingga siapapun pemirsanya pasti akan diingatkan untuk menghadapi isu sensitif satu ini dengan cara pandang baru yang toleran. Di antara sederet superhero Marvel, Luke Cage adalah sedikit di antara pahlawan-pahlawan non-Kaukasoid.

Maka Power Man tak hanya sekadar superhero, melainkan superheronya warga kulit hitam. Ia seperti mewakili aspirasi kaum yang terpinggirkan dan tak mendapat akses menuju kue kemakmuran. Dan di sebuah negara tempat rasialisme dikhawatirkan bakal kembali marak seiring terpilihnya sosok presiden yang “keliru”, sosok-sosok seperti Luke bakalan lebih dibutuhkan daripada berdekade-dekade sebelumnya.

Wiwien Wintarto

/wiwienwintarto

Penulis, sejauh ini telah menerbitkan 22 judul buku, 14 di antaranya adalah novel, terutama di PT Gramedia Pustaka Utama. Yang terbaru adalah novel Remember December (15 Februari 2016). Saat ini aktif membina komunitas menulis Rumah Media dan sekolah menulis Kuasakata di Semarang.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana