Wisnu  AJ
Wisnu AJ wiraswasta

Hidup Tidak Selamanya Seperti Air Dalam Bejana, Tenang Tidak Bergelombang, Tapi Ada kalanya Hidup seperti Air dilautan, yang penuh dengan riak dan gelombang.

Selanjutnya

Tutup

Wisata highlight

Pembangunan Pulau Bususen Bukan Sekedar Mimpi

22 Juli 2017   09:35 Diperbarui: 22 Juli 2017   10:03 201 0 0
Pembangunan Pulau Bususen Bukan Sekedar Mimpi
Fhoto Milik/Bumi Nusantara.com




Pemerintah kota Tanjungbalai, kini sedang giat giatnya untuk membenahi pulau Bususen yang terletak ditengah aliran sungai Asahan, untuk dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata dikota Tanjungbalai.

Ketika kota walikota Tanjungbalai dijabat oleh dr.H.Sutrisno Hadi SpoG (alm) pulau yang sempat menjadi persengketaan antara Pemerintah kota Tanjungbalai dengan Pemerintah Kabupaten Asahan,  memang telah dirancang untuk dijadikan sebagai daerah wisata pantai di kota Tanjungbalai.

Sutrisno kala itu merangcang pembangunan pulau Bususen yang luasnya sekitar lebih kurang 6 Km itu, dilengkapi dengan berbagai fasilitas, mulai dari tempat bermain anak, Water Boom, panggung hiburan, sampai kepada gedung pertemuan, lapangan golop dan lapangan pesawat udara jenis kecil, dan lain sebagainya. Pendek kata jika melihat dari maket pembangunan pulau Bususen tersebut, layaknya sebuah mimpi.

Kenapa di katakan layaknya sebuah mimpi, jika mengingat besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Anggran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kota Tanjungbalai, mustahil rasanya pulau Bususen dapat dikembangkan sebagai distinasi wisata, sesuai dengan mimpi yang ada pada sang walikota pada saat itu.

Pemerintah kota Tanjungbalaipun melakukan geriliya untuk mencarikan dana pembangunannya, dari berbagai pihak, termasuk untuk melobi para investor local, dalam negeri sampai investor asing yang memiliki keiinginan untuk membangun pulau Bususen tersebut.

Pembangunan pulau Bususen itupun dijual kepada para investor dibeberapa Negara Asean, seperti Malaysia, Singapura, Burunai Darussalam, sampai kepada investor  Filipina dan Thailand. Namun hasilnya nihil. Tidak satupun para investor yang dilobi memiliki minat untuk menanamkan investasinya dalam membangun pulau Bususen. Sampai berakhirnya masa jabatan Sutrisno sebagai Walikota Tanjungbalai dua Priode 2010, mimpi untuk membangun Pulau Bususen tidak terialisasi.

Terpilihnya DR H.Thamrin Munthe -- Rolel Harahab SE sebagai Walikota Tanjungbalai mimpi untuk membangun pulau Bususenpun seperti terkubur pada tiang lahat yang dalam. Lima tahun kepemimpinan Thamrin Munthe -- Rolel Harahab, gaung untuk membangun pulau Bususen tidak lagi terdengar, gaungnya bagaikan ditelan bumi.

Harapan masyarakat untuk mendulang rupiah dari pembangunan pulau Bususen menjadi hampa. Pada hal jika pembangunan pulau Bususen terujutkan, maka geliat prekonomian di kota Tanjungbalai akan hidup. Setidaknya pembangunan pulau Bususen sebagai daerah wisata akan menampung ratusan tenaga kerja.

Kemudian belum lagi jika operasional pulau Bususen sebagai daerah wisata dilakukan, tentu akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat kota Tanjungbalai. Sampan tambang (sampan kotak) yang pernah ada sebagai alat transportasi penyeberangan antara kota Tanjungbalai ke Desa Sungai Nangka Kecamatan Sungai Kepayang Timur Kabupaten Asahan sebelum dibangunnya jembatan Tanjungbalai Sungai Payang (Tabayang) yang membelah sungai Asahan dapat dihidupkan kembali sebagai alat transportasi untuk membawa pengunjung yang datang kepulau Bususen itu.

Disamping itu masyarakat tentu akan mendapat kesempatan, untuk menjalankan usaha perdagangan, berupa perdagangan home industry, makanan dan cendra mata kota Tanjungbalai, tentu tidak saja geliat ekonomi itu berada tertumpu dilingkaran pulau Bususen, tapi geliat prekonomian masyarakat akan tersebar secara merata dan dapat dirasakan oleh masyarakat dalam berbagai bidang, termasuk bidang transportasi becak bermisin, ojek, bus kota dan perhotelan.

Pulau Bususen Dan Gemerlapnya Lampu :

Kini geliat untuk kembali membangun pulau Bususen, gaungnya mulai terdengar sayup sayup. Walikota Tanjungbalai yang baru Syahrial Batubara SH, Mhum -- Drs.H.Ismail kembali berupaya untuk meneruskan mimpi membangun pulau Bususen yang belum menjadi kenyataan setelah lima belas tahun diwacanakan.

Walikota termuda seluruh Indonesia ini menurut penilai MURI, masih berusia muda, tentu dengan usianya yang muda, sudah pasti memiliki enerzik dan semangat yang tinggi untuk membangun kota Tanjungbalai sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Sumatera Utara dengan mengandalkan keindahan alam dan pantai pulau Bususen. Bagi wisatawan local di enderland kota Tanjungbalai. Dan tidak tertutup pula kemungkinan pulau Bususen akan dikunjungi oleh wisatawan dari Negara ASEAN, mengingat jarak tempuh Malaysia Protklang -- Tanjungbalai hanya sekitar empat jam perjalanan melalui laut dengan menggunakan kapal Fery.

Upaya untuk membangun pulau Bususen sebagai daerah wisata, tampak sudah dimulai dengan melakukan penataan kota Tanjungbalai, pembangunan taman taman untuk tempat bersantainya masyarakat kota Tanjungbalai disore dan malam hari tampak mulai dibangun dilingkaran kota Tanjungbalai. Taman taman tersebut dilengkapi pula dengan tempat bermainnya anak anak. Kemudian kota Tanjungbalai pada malam hari dipasangi dengan kerlap kerlip lampu warna warni, yang membuat kota tampak lebih hidup.

Jika kita melintasi jalan Jendral Soedirman pada malam hari, kita akan teringat dengan jalan Maliaboro di Jokja, atau jam Gadang di Bukit Tinggi Sumatera Barat yang dipenuhi dengan pedagang jajanan malam. Seperti itulah terlihat disepanjang torotoar jalan Jendral Soedirman kota Tanjungbalai, para pedagang ditata dan diatur dengan rapi menggelar dagangan jajanan malamnya.

Bukan Walikota Lampu dan Taman :

Pembenahan kota Tanjungbalai dalam upaya untuk mengujutkan pembangunan pulau Bususen semoga bukan hanya sekedar gagah gahan saja, bak kata orang Tanjungbalai " Panas Panas Taik Ayam" tapi melainkan hendaknya dilakukan dengan niat yang tulus untuk memakmurkan masyarakat kota Tanjungbalai melalui geliat ekonominya.

Karena kota Tanjungbalai tidak memiliki penghasilan yang tetap untuk masuk ke kas PAD nya, hal ini disebabkan kota Tanjungbalai tidak memiliki wilayah perkebunan, kelautan dan industry. Oleh sebab itu PAD kota Tanjungbalai sangat kecil jika dibandingkan dengan kota dan Kabupaten yang ada di Sumatera Utara.

Disamping melakukan penataan kota, Pemerintah kota Tanjungbalai juga diharapkan dapat untuk meelakukan pembangunan moral terhadap masyarakatnya, sehingga para wisatawan yang datang berkunjung ke kota Tanjungbalai merasa aman dan nyaman berlama lama dikota dengan motto " Balayar Satujuan Batambat Satangkahan ".

Dan satu lagi yang perlu untuk dilakukan penataannya adalah dilokasi reklamasi pantai dialiran Sungai Asahan. Mengingat jarak antara lokasi reklamasi pantai dengan pulau Bususen begitu dekat. Lokasi reklamasi pantai itu saat ini terlihat begitu jorok, dan pada malam hari lokasinya masih terlihat gelap, sehingga lokasi itu pada malam hari dijadikan sebagai tempat kencannya para lelaki hidung belang dengan para Wanita Tuna Susila (WTS) dan waria. Yang banyak berkeliaran dilokasi itu.

Masyarakat kota Tanjungbalai saat ini berharap kepada kepala daerahnya untuk benar benar dapat mewujudkan pembangunan kota Tanjungbalai dan terlebih terhadap pulau Bususen sebagai penopang prekonomian masyarakat  kota Tanjungbalai.  Semoga apa yang telah dilakukan oleh Walikota Tanjungbalai saat ini jangan sampai melahirkan anekdot, sebagai Walikota lampu dan taman. Karena bekerja setengah hati. Semoga!

Tanjungbalai, 22 Juli 2017