HEADLINE HIGHLIGHT

Siapa Takut Naik Merpati?

08 Juni 2012 02:56:46 Dibaca :
Siapa Takut Naik Merpati?
ilustrasi/admin(KOMPAS/ASWIN RIZAL HARAHAP)

Dering ponsel tiba-tiba mengagetkan saya pagi itu, rupanya Bapak saya nelpon. “Ini Bapak sudah sampai di rumah semalam dengan selamat,” ucap beliau. Dalam hati saya bersyukur, kedua orang tua saya telah sampai tujuan usai perjalanan udara dari Kendari via Makassar menuju Jogjakarta dan lanjut perjalanan darat menuju rumah di Temanggung. Mereka selama sepekan berada di Kendari demi menengok keadaan anak tercintanya ini (ihiks). “Eh, tolong ya sampaikan ke Merpati kalau kami berterima kasih atas pelayanan yang memuaskan dalam perjalanan,” tutur Bapak saya. Sempat saya mikir kok pakai terima kasih segala, lha emangnya saya mesti datang ke kantor Merpati untuk menyampaikan pesan Bapak saya yang terkesan dengan pengalaman terbangnya? “Bapak minta tolong dituliskan di Kompasiana tentang Merpati. Jadi begini ceritanya, kemarin sore pas mau terbang dan pesawat sudah mau take off, ternyata Ibu kamu baru ingat kalau dompet yang isinya hape dua buah dan lain-lainnya tertinggal di kursi ruang tunggu,’’ ceritanya. “Lho, terus?” tanya saya. “Kan jelas ndak mungkin kalau mau turun karena penumpang semua sudah di dalam pesawat, nah lalu Ibu kamu lapor ke pramugari, rupanya hal itu bisa dikabarkan ke petugas di bawah dan syukurlah tak berapa lama ada petugas yang mengantarkan dompet Ibu kamu utuh beserta isinya,” tutur Bapak. “Ini jelas sesuatu yang luar biasa, padahal kami sudah panik dan terbayang bakal kehilangan hape lagi. Eh, ternyata Merpati sigap juga membantu penumpangnya,” lanjutnya.

--- 000 ---

Terus terang saja, selama bolak-balik Kendari menuju Jakarta, Surabaya hingga Jogjakarta, saya tak pernah memperhitungkan maskapai penerbangan Merpati Airlines karena reputasinya yang terpuruk akibat cerita-cerita miring tentang seringnya pembatalan penerbangan dan buruknya pelayanan. Di banyak agen perjalanan pun, Merpati nyaris jarang disebut oleh calon penumpang saat akan membeli tiket. Namun, keputusan menawarkan Merpati untuk kepulangan orang tua saya ternyata disambut baik oleh Bapak dengan pertimbangan bahwa Merpati saat ini hanya satu-satunya yang membuka rute Kendari - Jogjakarta via Makassar langsung tanpa harus lewat Surabaya atau Jakarta seperti maskapai lainnya yang tentu memakan waktu lebih lama. Dan lagi untuk penerbangan hari Senin (4/6) lalu, kebetulan Bapak dan Ibu mendapat tiket promo yang relatif lebih murah. Meski dalam hati kecil saya masih was-was dengan maskapai ini, saya berusaha berprasangka baik terhadap Merpati yang kini di era Menteri BUMN Dahlan Iskan, sering diberitakan tengah memperbaiki citra dimulai dari perombakan jajaran Direksi. Saya juga teringat dengan sebuah iklan yang sering muncul di koran lokal yang menyebutkan testimoni dari seorang Dahlan Iskan bahwa ia dan keluarganya mengutamakan Merpati untuk perjalanan udara. Kini, mendengar penuturan Bapak saya sendiri, justru membuat saya penasaran banget untuk mencoba naik Merpati di perjalanan saya selanjutnya. Meski penyakit delay juga menjangkiti maskapai ini, setidaknya Merpati masih mau mengabarkannya melalui SMS kepada calon penumpangnya. “Yth. Pelanggan Merpati Kendari mhon maaf sblmnya kami sampaikan jadwal penerbangn kdi upg utk hari ini senin tgl. 4 juni jadwal dimundurkan tadinya jam 16.40 lt menjadi 17.15 jd CHEKIN ATAU MELAPOR. Jam 15.30 lt jika kurang jelas tlp 04013131xxx atw no ini trimakasih,” demikian pesan singkat yang diterima Bapak saya sekitar enam jam sebelum berangkat ke Bandara. Setidaknya, ini juga menjadi bentuk pelayanan yang berbeda dibandingkan maskapai lain yang kerap tidak jelas dalam menginformasikan delay penerbangannya. Jadi si calon penumpang, meski dalam hati ngomel, dengan adanya pemberitahuan melalui SMS sebelumnya, bisa memanfaatkan waktu daripada terbuang percuma di ruang tunggu. “Terlepas dari peristiwa dompet itu, Bapak akui pelayanan Merpati kemarin memang bagus, mungkin ini bagian dari perbaikan peningkatan layanan Merpati yang sedang ramai diberitakan,” ucap Bapak saya. “Oke, siap Pak,” kata saya. Jadi inilah tulisan yang diminta Bapak saya sebagai rasa terima kasih kepada Merpati Airlines. Minimal bagi diri saya sendiri bisa bermanfaat untuk mengikis pandangan meremehkan terhadap maskapai BUMN tersebut.

Widi Kurniawan

/widikurniawan

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Aku tidak menyebut saya dengan gue"

-------------- www.cintalorenz.com

--------------Follow @maswidik

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?