Mohon tunggu...
Swidan
Swidan Mohon Tunggu... Administrasi - Pembelajar

Penulis Muda

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Antara Dia dan Pertiwi

14 September 2017   13:24 Diperbarui: 16 September 2017   12:33 778
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

(Ole: Sri Sudewi Widanarti)

Kaki mungil lelaki kecil terseok-seok melintasi ranah berkerikil. Alas kakimu? Berapa kilometer kau berjalan? Mentari menghangatkannya, meski tak sehangat pelukan Emak tadi malam. Wajah tak berdosa, tapi penuh goresan luka dihatinya. Goresan itu yang membuatnya matang. Dewasa dari umurnya yang sebenarnya.

Koran! Koran! Koran...!

Tangannya mengantar dunia kecil untuk dibaca puluhan pasang mata. Peluhnya terbayar dengan lembaran uang yang cukup untuk membuatnya tertawa. Sebungkus nasi dengan dua potong tahu dan tempe. Kantong celana ditutupnya rapat-rapat, agar tidak dicopet lagi. Jakarta memang belum menjadi kota yang ramah.

Jiwa yang gigih dalam perjuangan menaklukkan hidup, itu saja tidak cukup. Perlu kulit berlapis baja untuk melindunginya. Panas terik, dinginnya malam yang terkadang tanpa pelukan Emak, ditampar orang, dan ditendang sudah menjadikan kulitnya jauh lebih mengkilap dari sisik ikan yang diterpa sinar mentari.

"Permisi Pak, Bu..." ucapnya sambil mendendangkan lagu yang terkadang salah diucapkannya.

Suara cadelnya, seperti sedang menahan beban hidupnya bersama Emak. Uang receh yang mampu dikumpulkannya, tak lebih hanya persediaan makan besok. Jika ada orang yang berbaik hati memberikan uang dengan jumlah yang agak besar, ia kumpulkan, mungkin untuk mencoba menuai kembali cita-citanya yang jelas-jelas tidak bisa dicapai hanya dengan selembar uang. Terkadang uang itu hilang sebelum ia sampai di rumah.

Siapa yang mau peduli denganku? Mengapa aku bukan mereka? Diantar Ayah kesekolah dengan mobil yang melindungi kulitnya dari debu. Ah, impian kosong! Kalau sudah miskin, bukankah akan seperti ini terus? Mana ada uang jatuh dari langit!

"Emak sedang apa ya?" tanyanya dalam hati yang penuh kelelahan.

Langkah kakinya berjalan cepat. Senyum diwajah hitamnya yang tampan, tak bisa dibohongi bahwa sebenarnya masa kanak-kanaknya sangatlah suram.

Gubuk-gubuk dipinggir kali itu memang sangat mengganggu pemandangan orang-orang elit. Ya benar. Tapi kemana lagi mereka harus pergi? Berkeliaran di jalan-jalan, bukankah itu lebih mengganggu? Tak ada tempat untuk mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun