Wahyu Sapta
Wahyu Sapta karyawan swasta

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Puisi highlight

Saatnya Pulang

13 September 2017   21:51 Diperbarui: 13 September 2017   21:55 2092 23 13
Saatnya Pulang
Ilustrasi: patainanews.com

tangisku pecah, menangisi malam yang menyurut pelan menuju sunyi, sedang angin tak mampir untuk menyampaikan pesan rindu darimu, hingga sunyi semakin sunyi,

mengapa malam hanya mendiam

lalu

seolah tak mengerti perasaanku yang mengulang kesunyian 

dari waktu ke waktu

***

saatnya pulang, kataku

tetapi aku masih saja sibuk, katamu

lihatlah, hari menuju rembang petang, burung-burung berterbangan menuju pulang, mereka butuh jeda rehat, untuk esok bertebaran ke segala arah kembali

begitu pentingkah arti pulangku bagimu? tanyamu

ya, waktu memiliki batas antara siang dan malam, demikian pula ragamu, antara semangat dan lemah, ada pembeda agar kau tahu cara meletakkannya, memberi harga pada dirimu sendiri

pulang adalah menuju tempat dimana dirimu bisa menghargai raga, saat penat terasa, maka tubuhmu butuh untuk berbaring mengusir penat

lalu? tanyamu

hanya satu yang ingin aku ungkapkan kepadamu

apa? tanyamu kembali

terlelaplah di sisiku, mimpi indahlah tentangku! kataku sambil memohonmu

o, hanya itu? tanyamu

ya, hanya itu!


tetapi memang, malam sunyi akan semakin sunyi, jika kau tak ada di sisiku, maka malam tak kan memberi arti apa-apa.


Semarang, 13 September 2017.