Humaniora highlight

Pengajar Muda Dan Dilema Masa Depan Pendidik Indonesia?

11 September 2017   22:04 Diperbarui: 12 September 2017   01:11 428 0 0
Pengajar Muda Dan Dilema Masa Depan Pendidik Indonesia?
foto-teach-away-59b6a5f0ab12ae2c832203b2.jpg

Oleh : Ulan Hernawan

Profesi guru di mata anak muda jaman sekarang tidak dipungkiri masih dipandang sebelah mata. Sebagian besar dari mereka akan bertanya, apa jenjang karir menjadi guru? Atau, gaji guru ngga akan bikin kaya, buat apa jadi guru? Jadi guru, cuma gitu-gitu aja.

Hm, disini saya akan mencoba memberikan "mindset" atau pemahaman baru tentang menjadi seorang guru. Agar lebih eksklusif, kata "guru" akan diganti menjadi "pengajar muda". Karena, sasaran saya adalah para anak muda yang ingin membuat perubahan untuk pendidikan negeri ini.

Ingat, apapun latar belakang anda, "semua orang bisa menjadi pengajar muda". Ini soal tantangan menjadi seorang pengajar muda profesional. Yang Indonesia butuhkan saat ini adalah sumber daya manusia muda yang profesional dan peduli terhadap masa depan pendidikan Indonesia. Anak-anak muda yang tangguh menghadapi perubahan globalisasi.

Pernah mendengar HTAG? Hambatan, Tantangan, Ancaman, dan Gangguan. Di pendidikan Indonesia ;

Hambatan : Masih banyak fasilitas pendidikan yang belum memadai.

Tantangan : Indonesia butuh pengajar muda profesional untuk menghadapi era global.

Ancaman : Tidak ada anak muda berkualitas yang berkeinginan menjadi pengajar muda profesional/guru.

Gangguan : Masa depan pendidikan belum menjadi prioritas utama pemerintah.

Berkaca dari HTAG pendidikan di Indonesia yang disebutkan diatas (hanya sebagian kecil dari kompleksnya jalan panjang pendidikan Indonesia), mengingatkan bahwa, tantangan kunci keberhasilan pendidikan saat ini adalah sumber daya manusia muda yang berkualitas. Masa depan bangsa ditentukan dari kualitas pendidikannya. Dan kualitas pendidikan berbanding lurus dengan kualitas pengajar ("man behind the gun"). Saat ini, kita butuh anak-anak muda yang siap terjun membawa perubahan terhadap kualitas pendidikan. Kita butuh anak-anak muda yang memahami, bahwa menjadi pengajar muda profesional adalah tantangan merubah gaya ajar yang "konvensional" menjadi gaya ajar yang modern, berkarakter, cerdas, kreatif dan "online".

Namun, ketakutan anak-anak muda menjadi pengajar muda profesional masih tinggi. Padahal, bila sudah terjun dalam lingkup pendidikan, "guru" adalah jenjang karir tertinggi. Menjadi pengajar bukan soal karir, jabatan atau kekuasaan. Bedakan saat anda bekerja di perusahaan yang memang prioritas utama bisnis, mencari untung. Bisnis kita bukan "materi", melainkan "ilmu" (pengetahuan/perilaku/karakter). Memberikan ilmu, berbagi pengetahuan, memberi teladan adalah "barang dagangan" kita. Hasilnya atau keuntungannya adalah, lebih banyak manusia berkualitas tumbuh dan berkembang di negeri ini. Ini "kekayaan" yang sesungguhnya.

Meskipun, tidak dipungkiri bahwa kenyataannya masih banyak pendidikan yang "ber-embel-embel bisnis", atau bisnis yang "ber-embel-embel pendidikan" di negeri ini, harusnya tetaplah tidak menyurutkan semangat anak muda untuk menjadi pengajar muda profesional. Dan sebenarnya, tugas pengajar muda lah untuk menanamkan idealis positif terhadap lingkup institusi pendidikan agar berimbang.
Lihat contoh orang-orang muda yang berkiprah menjadi walikota/gubernur. Lihat contoh anak-anak muda yang berkreasi dengan hobinya dan dipandang dunia. Lihat contoh aktor/aktris/designer/animator/atlit/insinyur/arsitek/seniman/dll "muda" yang berhasil dan menciptakan perubahan positif untuk negeri.

Lantas, bagaimana dengan pengajar muda profesional ? Ini peran anda. Jangan takut untuk berani membawa perubahan untuk pendidikan. Karena kunci keberhasilan masa depan sebuah negara, adalah pendidikan. Harus menunggu sampai kapan level pendidikan kita bisa setara dengan negara lain yang lebih maju? Kalau bukan sekarang saatnya. Jangan malu bila suatu hari nanti, anak anda menjadi seorang pengajar muda profesional.

Salam pengajar muda profesional.