Tri Hatmoko
Tri Hatmoko karyawan swasta

Orang kampung dari lembah Sembuyan, Penikmat music kroncong, campur sari dan pop jawa.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Hari Buku Nasional, Masihkah Bermakna?

17 Mei 2013   09:41 Diperbarui: 24 Juni 2015   13:26 796 0 3
Hari Buku Nasional, Masihkah Bermakna?
13687588411310541687

[caption id="attachment_243833" align="aligncenter" width="640" caption="doc.pri"][/caption] Hari ini seharusnya para pencinta ilmu pengetahuan Indonesia menjadikan  hari yang istimewa, sebab hari ini merupakan hari Buku Nasional. Bukankah nasehat bijak, buku sumber pengetahuan? Namun kelihatannya itu tidak terjadi. Sampai pagi ini saya belum mendengar adanya kegiatan - kegiatan yang istimewa di banyak tempat untuk memperingatinya. Pun  dari Kementerian Pendidikan Nasional yang dulu menjadi pihak yang menetapkan, juga Perpustakaan Nasional yang hari berdirinya digunakan dan sesuai tugasnya dalam Undang - Undang  meningkatkan minat baca masyarakat, sepertinya tidak ada perayaan istimewa yang disiapkan. Semoga saja saya salah, dan hanya belum! Hari Buku Nasional sampai hari ini memang tidak populer. Kalah jauh gaungnya dengan peringatan - peringatan lainnya  yang juga diperingati secara nasional misalnya  hari Kartini, hari Ibu, hari , hari Anak Nasional dan lain - lainya.  Saya pernah membaca sebuah tulisan yang memuat sebuah survey tentang ini, dari 50 mahasiswa, hanya 2 orang yang menjawab dengan tepat dan benar tentang hari Buku Nasional. Ini bisa menggambarkan tidak populernya Hari Buku Nasional ini.   Padahal pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional sudah menetapkan ini lebih dari 10 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2002. Kala itu Malik Fajar yang menjabat sebagai Menterinya. Tanggal 17 Mei sendiri dipilih sebagai hari Buku Nasional, karena tanggal ini juga sangat bersejarah yang berkaitan dengan buku juga. Yaitu hari di mana Perpustakaan Nasional didirikan, tepatnya tanggal 17 Mei 1980. Maka memang hari ini layak disebut sebagai hari yang istimewa kita semua yang mencintai ilmu pengetahuan. Salah satu tujuan penetapan hari Buku Nasional adalah untuk  meningkatkan minat baca masyarakat yang masih rendah. Seperti negara - negara di kawasan ASEAN pada umumnya,  Indonesia termasuk negera dengan minat baca yang rendah.  Saya pernah membaca sebuah tulisan, kabarnya UNESCO pernah membuat laporan hanya 1  dari 1000 orang di Indonesia yang mempunyai minat baca tinggi. Bener apa tidak ya walah - walah. Tapi memang situasi ini sebenarnya bisa menggambarkan itu. Untuk melihat minat baca masyarakat kita juga bisa melihat seberapa banyak buku yang dicetak setiap tahunnya. Tak mungkin penerbit terus menerus menerbitkan buku, sementara bukunya tak pernah diminati oleh pembaca.  Di negara kita tercinta ini, ternyata rata - rata hanya 18.000 judul buku yang dicetak setiap tahunnya. Bandingkan dengan Jepang yang lebih dari dua kali lipat, 40.000  judul buku yang dicetak setiap tahunnya.  Juga  dengan India dan Cina yang mampu mencetak 60.000 dan 140.000 judul buku pertahun.  Kita memang tertinggal jauh. Sementara di sisi usaha penerbitannya sendiri sebenarnya justru terjadi pertumbuhan.  Ini hal positif tentunya. Kabarnya di DKI Jakarta saja  saat ini ada lebih dari 290 usaha penerbitan di mana pada tahun 2005 tercatat baru kurang lebih 170 usaha penerbitan. Ini tentu suatu yang menggembirakan, yang bisa diharapkan perannya untuk bersama - sama pemerintah meningkatkan minat baca masyarakat. Saya sering membatin sendiri, benarkah minat baca masyarakat itu rendah? Coba tengok, setiap kali diadakan pameran buku di Balai Sidang atau di Istora Senayan, rasanya selalu penuh pengunjung. Apalagi saat - saat hari libur sekolah, pengunjungnya terlihat penuh.  Juga di toko - toko buku yang makin mudah dijumpai  di banyak tempat. Toko - toko buku itu terlihat cukup ramai pengunjung.  Baik orang tua, muda - mudi maupun anak - anak. Berbedah jauh dengan awal tahun 90-an, saat saya masih bekerja di sebuah toko buku di Pondok Indah Mal.  Kayak kuburan! Begitu biasanya kami menggambarkan suasana pengunjung pada waktu - waktu tertentu, oleh karena sepinya. Selama berjam - jam sama sekali tidak ada pengunjung. ( Padahal kuburan sekarang justru tidak pernah sepi) Jadi benarkah minat baca masyarakat ini rendah? Rasanya ini memang perlu dipetakkan secara jelas antara minat baca dan ketiadaan akses untuk membaca.  Perpustakaan Nasional sesuai amanat Undang - Undang diberi wewenang dan tugas untuk menggarap  hal ini. Baik dari penyediaan bahan pustakanya maupun usaha mendorong minat baca masyarakat. Tentu masyarakat luas juga bisa ikut berperan dan bekerja sama. Maka saat hari berdirinya, yang tentunya begitu sakral dan dibanggakan,  sudah diberi kehormatan tambahan dijadikan hari Buku Nasional pula, hendaknya Perpustakaan Nasional bisa menjadi pendorong utama untuk meningkatkan minat dan akses baca seluas - luasnya bagi masyarakat. Juga menggunakan momentum  istimewa semacam ini dengan membuat sebuah gerakan - gerakan nyata yang bisa sampai menembus berbagai lapisan masyarakat. Perpustakaan Nasional bisa  menggandeng berbagai pihak untuk bekerja sama,  media dalam berbagai bentuknya  misalnya, yang mempunyai jangkauan tak terbatas, sehingga penetapan dan peringatan Hari Buku Nasional sungguh menjadi bermakna dan berguna bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan justru hanya seremonial belaka. Semoga!