HIGHLIGHT

Siapa Tokoh Intelektual di Balik Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928?

28 Oktober 2011 16:16:00 Dibaca :

Barangkali begitu pula setiap pemerintah yang ingin tetap berkuasa dan mempertahankan"status quo"dalam berbagai aspeknya mengajukan pertanyaan jika sesuatu gerakan yang terindikasi akan  mengancam posisi dan kedudukannya ,sebagaimana halnya dengan pemerintah Indonesia jika terjadi aksi-aksi teroris pasti akan segera emencari siapa tokoh intelektual dibalik  kejadian tersebut.

Dalam konteks ini pemerintah kolonial Belanda tentu jauh sebelumnya sudah mempersiapkan startegi politik adu dombanya,untuk memperlemah tokoh-tokoh pimpinan organisasi-organisasi yang memang sejak munculnya sudah bersifat politik untuk mengusir Belanda bersamaan meraih kemerdekaan.Oleh sebab karena  kebanyakan penduduk Indonesia ini muslim,maka sangat w3ajar sekiranya umat Islam sangat berperan dan mewarnai  sejarah  perjuangan  mle3wan rejim kolonial Belanda,baik melalui operasi militer maupun melalui saluran-saluran politik.

Bertitik tolak dari itu pula,maka para pemuka muslim kelihatannya memang lebih berperan secara aktif dalam perjuangan melawan rejim imperialis Belanda,dengan tanpa bermaksud mengecilkan peranan kelompok sosial lainnya.Untuk itu baiklah sedikit saja menyisir perjalan sejarah masa lalu menjelnag munculnya Kongres Pemuda yang melahirkan "Sumpah Pemuda"yang merupakan"akte kelahiran "bagi kesadaran dan kebangkitan nasional menuju proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945..

Menurut bukti -sumber sejarah yang tidak terbantahkan,bahwa memang Belanda sudah menyadari berbahayanya tokoh-tokoh intelektual muslim yang berada dalam organisasi -organisasi  yang muncul berakar dari tengah tengah rakyat ,seperti SDI (Syarikat Dagang Islam) yang muncul di Surakarta tanggal 16 Oktober 1905  dibawah pimpinan H.Samanhudi.Kemudian pimpinannya dilanjutkan oleh HOS.Cokroaminoto di Surabaya ketika SDI di Schorsing oleh Residen Surakarta  pada tahun 1912  M.

Selain itu Muhammadyah yang muncul di Yoyakarta dibawah pimpinan KH.Ahmad Dachlan pada tanggal 18 November 1912.Hajatul Qulub muncul tahun 1915 yang selanjutnya berubah namanya menjadi Persyarikatan Ulama pimpinan KH.Abdulhalim di Majalengka ,Jawa Barat tahun 1917.Lalu muncul Jamiah Nahdhatul Wathan yang dipimpin oleh Wahab Chasbullah dan Mas  Mansur  di kota Surabaya pada tahun 1916,.dua tahun setelah lahirnya Taswirul Afkar dan Nahdhatul Tujjar yang muncul enam tahun berikutnya. Organidsasi ini selanjutnya menjadi Jamaiah Nahdhatul Ulama dibawah pimpinan KH.Hasyim Asj'ari pada tahun 1926.

Para pemukan muslim yang memang sangat konsisten dalam melawan penjajahan dalam berbagai aspeknya,secara berturut turut mendirikan organisasi-organisasi lainnya seperti Matlaul Anwar tahun 1915 dipimpin oleh KH.Muhammad Yasin,kemudian H.Muhammaad Yunus dan haji Zamzam mendirikan oragnaisasi Persatauan Islam pada tanggal 17 September 1923 di Bandung.Dalam perkembangan selanjutnya organisasi yang sekarang lebih dikenal dengan Persis menganggap A.Hasan sebagai guru besarnya yang sangat berwibawa.Organisasi yang amat besar peranannya dalam perjuangan merebut kemerdekaan selain yang diatas tersebut adalah Yong Islamiten Bond yang muncul pada tanggal  1 Januari 1925  dibawah pimpinan R.Syamsulrijal,keponakan darei Suryopranoto dari Paku Alaman dan pemimpin pemogokan buruh dari Central Syarikat Islam.Sementara organisasi yang juga berdiri pada atahun 1928 di Minangkabau itu dipimpin oleh Syekh Sulaiman as Rusli.

Meskipun mereka merupakan pelopor kesadaran dan kebangkitan nasional Indonesia,tetapi oleh rejim kolonial Belanda waktu yang dibantu oleh kaum priyayi Jawa yang kemudian membentuk Budi Utomo selalu berupaya menghalanginya,serta menganggapnya sebagai organisasi-organisasi ilegal dan kemudian di bubarkan oleh Residen Surakarta atas restu Belanda sebagaiamana yang dialami oleh SDI tahun 1912.Karenanya SDI tidak diakui oleh Belanda karena secara terang-terangan menginkanpersatuan nasional dalam menuju Indonesia merdeka.

Menurutt sejarah pula pendirian Budi Utomo 20 Mei 1908  juga dimaksudkan untuk menghambat perkembangan SDI yang lahir 3 tahun sebelkumnya dan bersifat nasional .Sedangkan Budi Utomo hanya dikhususkan bagi kaum priyayi Jawa,Sunda dan Madura saja,selain dari kalangan darah biru tidak diperbolehkan menjadi anggota dari Budi Utomo itu meskipun masyarakat biasa dari pula Jawa dan Madura.Namun oleh Belanda dalam penulisan sejarah sengaja dibelokkan supaya peranan intelektual muslim tersingkir dari kancah perjuangan bangsa Indonesia.

Akan tetapi sejarah tetap sejarah tidak bisa selamnya diwarnai oleh kebohongan-kebohongan,serta para sejarawan sudah memiliki sumber-sumber fakta yang bisa dipertanggung jawabkan keasliannya,bahwa para kaum intelektua muslim mengadakan Kongres Nasional Partai Syarikat Islam 27 September 1928 sebelum Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928.Bahkan dalam kongres itu pula mula-mula diperkenalkan istilah Indonesia oleh  DR.   Sukirman Wirjosanjoyo setelah sebelum istilah itu disebut-sebut oleh  Logen dan Adof Bastian sekitar tahun 1860-an tersebut.

Selain itu pula terungkap,bahwa bahasa pengantar dalam Kongres Pemuda ajuga dipakai bahasa Melayu yang sudah berabad-abad sebelumnya sudah menjadi bahasa resmi yang duigunakan oleh bangsa -bangsa di Nusantara. Sebaliknya oranganisasi Budi Utomo menolaknya dan menghendaki bahasa Jawa sebagai bahasa antara sesama anggota mereka sendiri secara eklusif.Dalam Kongres Budi Utomo  April 1928 ,bahwa mereka menolak cita-cita persatuan Indonesia.Karena sangat aneh sekiranya dalam perkembangan sejarah selanjutnya ,justeru organisasi Budio Utomo yang sanagat menonjol hingga hari njadinya diabadikan sebagai hari kebangkirtan nasional.

Menurut Ahmaddani G.Martha dan kawan kawan dalam 'Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan  kedua organisasi inilah yang sangat besar peranannya dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 yang kemudian melahirkan "Sumpah Pemuda".Organidsasi itu adalah,pertama Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia   dan  yang kedua adalah Jong Indonesia. Jong Indonesia merupakan kelanjutan dari Algemeene Studie Club yang didirikan oleh Sukarno di Bandung  tahun 1926 yang beranggotakan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Techniche Hoogeschool(kini:ITB) dan mahasiswa Reechtschool(sekolah Tinggi Hukum).Kemudian Jong Indonesia tahun 1927 yang juga berdiri di Bandung .

Karena itulah,maka pemerintah kolonial menganggap bahwa mereka merupakan tokoh-tokoh intelektual munculnya kongres pemuda tersebut,sehingga Sukarno,Muhammad hatta ,Nazir Dauk Pamuncak,Abdul Majid Joyodiningrat,dan sebagainaya tahun 1927 itu.Memang itu masa lalu yang oleh sebagian orang sudah mulai dilupakan seiring berkuarnganya minat mereka kepada perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Akan tetapi hal tersebut penting bagi para sejarawan untuk menyusun kembali sejarah nasional Indonesia yang memang dengan "dibelokkan"oleh kelompok tertentu demi kepentingannya.Namun demikian sekarang bagi generasi muda perlu memforkuskan segala dayanya untuk mengisi kemerdekaan yang sudah direbut dengan susah payah olleh mereka bapak-bapak bangsa,leluhur bangsa Indionesia.Namun  dengan rasa sangat memprihatikan dan memilukan justeru saat-saat bangsa Indonesia berupaya mengingatkan kembali momentum sejarah 83 tahun lalu di jakarta itu ,justeru terjadi  kerusuhan bentrokan atau tawuran sesama mahasiswa .  Sementara rejim SBYpun kelihatannya kurang peduli terhadap proses pengisian kemerdekaan,meskipun sudah berkuasa hampir delapan tahun.

Karena ketidakpeduliannya itu menyebabkan mandegnbya berbagai aspek sosila kehidupan bangsa Indonesia,bahkan mereka pertontonkan berbagai kelemahannya dalam menegakkan hukum terhadap berbagai skandal korupsi  ,mafia pajak,mafia peradilan dan sebagainya.Konsekuwensinya terjadi berbagi unjuk rasa di berbagai kota besar Indonesia  seperti Jakarta,Surabaya,Makasar dan lain lain sebagai reaksi mahasiswa terhadap ketakberdayaan SBY dalam melawan kejahatan itu.Coba saja di Papua sudah sebulan lebih terjadi pemogokan ribuan karyawan Freepiort,seiring kerusuhan yang telah menelann korba jiwa.Tetapi SBY kelihatannya masih acuh tak acuh dalam mengambil langkah-langkah untuk mengentaskan masalah-masalah sosial di berbagai daerah Indonesia.Dalam konteks inilah kemudian munculnya aksi-aksi teroris atau separatis yang mencederai sifat dan tujuan Sumpah Pemuda yang diikrarkan 83 tahun silam di jakrta.

Teungku nurdin

/teungku.nurdin

sebagai pengamat masalah sosial,yang masih berwawasan sempit,makanya suka membaca danmenulis untuk memperluas wawasan sehingga berguina bagi masyarakat pada umumnya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?