HIGHLIGHT

Guru Entrepreneurship Indonesia

03 Maret 2011 09:04:41 Dibaca :
Guru Entrepreneurship Indonesia
Angga, penulis, dan Pak Ci

Hari ini kami berkesempatan menemui seorang maestro properti Tanah Air, Dr. Ir. Ciputra. Diiringi hujan deras yang mengguyur Jakarta, kami mengobrol santai dengan beliau di kantornya yang asri di jalan Dr. Satrio, jakarta Pusat. Meski sudah sepuh, beliau tampak masih bersemangat. Beberapa kali pembicaraan kami terputus karena kesibukan Pak Ci mengatur pertemuan dengan beberapa pejabat untuk mempromosikan entrepreneurship lewat pendidikan.

Di usianya yang ke-80, Pak Ci telah membidani lahirnya tiga kelompok usaha besar di Tanah Air. Yakni Grup Jaya, Grup Metropolitan dan Grup Ciputra. Ia duduk sebagai Presiden Komisaris Ciputra Development hingga sekarang. Sementara di Kelompok Jaya ia duduk sebagai komisaris dan Presiden Komisaris Metropolitan Development. Dialah Maestro Properti Indonesia yang telah membangun di lebih dari sepuluh kota besar Tanah Air, dengan luas lebih dari 15.000 Ha. Beliau juga merambah bisnis properti ke mancanegara seperti proyek Ciputra Hanoi International City Vietnam dan Kolkata West International City India. Mungkin tak terbayangkan bahwa beliau dahulu hanya seorang anak yatim yang lulus sekolah dasar pada umur 16 tahun. Ayahnya meninggal di penjara pada jaman Jepang karena dituduh sebagai mata-mata. Di usia 12 tahun, setelah kehilangan seorang ayah, Pak Ci remaja menemukan titik balik dalam hidup. Ciputra adalah pendiri Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) pada 1972. Ia juga menjadi orang Indonesia pertama yang pernah menjabat ketua Federasi Real Estate Dunia (FIABCI). Ia juga dikenal sebagai seorang filantropis, dan berkiprah di bidang pendidikan dengan mengembangkan sekolah dan Universitas Ciputra, yang menekankan pendidikan entrepreneurship. Catatan aktivitas dan prestasinya yang lain adalah memimpin Klub Bulu Tangkis Jaya Raya, peraih berbagai medali emas internasional untuk Indonesia (Harefa, 2006). 12991478921974460180Pada 24 Agustus 2009 Dr. Ir. Ciputra mendapat dua penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Pertama, sebagai Penyelenggaraan Pelatihan Entrepreneurship Kepada Dosen Terbanyak 1.231 Dosen Perguruan Tinggi di Indonesia untuk Menjadi Fasilitator Transfer Kemampuan Entrepreneurial Kepada Para Mahasiswa. Kedua, Entrepreneur Peraih Penghargaan Terbanyak, 42 Penghargaan di berbagai bidang. Illinois Institute of Technology, Amerika Serikat, pernah memberinya penghargaan istimewa dalam kepemimpinan atau Distinguished Leadership Award, karena perannya sebagai pemimpin dalam bisnis properti yang sangat berhasil Pada 2007, Ciputra terpilih sebagai entrepreneur terbaik versi Ernst & Young Indonesia. Untuk itu ia berhak mewakili Indonesia dalam ajang dunia Ernst & Young World Entrepreneur of The Year 2008 di Monaco dan menyabet gelar World Entrepreneur of The Year 2008 Hall of Fame pada bulan Mei 2008. Pada tahun yang sama Ciputra gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Tarumanagara. Gelar Doktor HC diberikan karena keberhasilan dan karya Ciputra dalam bidang perekayasaan yang visioner dan menyertakan entrepreneurship di dalamnya. Mengenai kisah suksesnya ini Pak Ci mengatakan, “... entrepreneurship mengubah masa depan manusia jadi lebih baik dan menciptakan kemakmuran, mengingat latar belakang saya sebelumnya sebagai anak yatim dari keluarga sangat sederhana.” Kisah sukses dari manusia yang masa lalunya kurang menguntungkan juga terjadi pada beberapa tokoh entrepreneur dunia. Sebut saja Chung Ju-Yung, yang diasosiasikan sebagai pendiri grup Hyundai di Korea Selatan. Ia lahir sebagai anak petani dari 8 bersaudara dengan pendidikan terbatas. Beberapa kali lari dari rumah untuk mencari pekerjaan di kota, ia hanya bisa menjadi buruh di pelabuhan dan bahkan jadi kuli bangunan untuk membangun sebuah universitas dimana kelak memberinya gelar doktor HC. Perjuangannya yang keras mengantakannya menjadi koglomerat berpengaruh di Korea Selatan. Berbagai perusahaan berdiri di bawah bendera grup Hyundai. Dia juga menjadi seorang filantropis dengan mendirikan Yayasan Asan pada 1977 yang berkegiatan hampir serupa dengan Ford Foundation atau Yayasan Rockefeller. Yayasan Asan membangun sembilan rumah sakit di Korea Selatan, membangun Ulsan Medical College, dan mendanai Asan Life Sciences Research Institute. Yayasan itu juga memprakarsai perjanjian kerjasama antara industri dan lembaga akademik dengan mendukung penelitian akademis seperti Sinyoung Research Fund. Walt Disney yang kita kenal sebagai pendiri The Walt Disney Company, juga memiliki masa lalu yang penuh tantangan sebelum menjadi animator, sutradara film dan produser sukses. Sebelum terkenal lewat penciptaan berbagai karakter terkenal sepertu Mikey tikus, pendiri Disneyland ini harus berjuang dalam berbagai kekurangan. Pada umur sembilan tahun ia menjadi loper koran dengan tetap harus bersekolah. Berbagai karyanya pun sempat ditolak, bahkan karakter Mikey sempat ditertawakan orang yang kala itu merasa jijik dengan bintang tikus. Namun, Disney membuktikan pada dunia bahwa kata-katanya benar, “If you can dream it, you can do it.” Tampaknya, perjuangan yang hampir sama dilakukan seorang entrepreneur sejati seperti Ciputra. Ciputra lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio. Masa kecil yang keras telah mengajarkan bagaimana menghadapi kehidupan. Orangtuanya adalah pedagang yang membuka toko kelontong, yang sekaligus tempat tinggal, di tepi pantai Bumbulan. Pak Ci menceritakan, “Saya lahir di ruko, saya bangun, saya buka mata lihat barang dagangan. Saya merangkak pertama saya pegang barang dagangan. Saya disuruh bekerja pertama untuk menjual barang dan sebagai pedagang.” Ketika Jepang menjajah Indonesia, mereka harus mengungsi 7 km ke dalam hutan dengan beralih ke kegiatan bertani dan berkebun. Kala itu Ciputra juga kehilangan sosok ayah. Kehilangan seorang ayah menjadi salah satu tonggak perubahan dalam hidup beliau. Ciputra remaja, yang menjadi kepala rumah tangga menggantikan ayahnya pada umur 12 tahun, berjanji akan mengubah kemiskinan keluarganya. “Dan, selalu saya bilang saya bisa mengangkat martabat keluarga saya. (Saya) dapat menghilangkan kemiskinan ini kalau saya bersekolah.” Pada masa-masa berkebun itulah Ciputra mulai belajar entrpreneur. Ciputra bekerja memelihara ternak seperti sapi dan ayam dan juga berkebun ubi ketela. Sedangkan ibu beliau mengajarkan supaya berhemat. Ibu Pak Ci adalah orang yang akan memberikan apa saja untuk pendidikan anaknya. Selain memelihara sapi, ayam dan berkebun, Ciputra remaja juga gemar berburu. “Saya mempunyai anjing tujuh belas ekor yang saya pelihara, saya beri makan. Saya ambil kelapa, saya ambil ketela, saya ambil ubi kayu, saya campur dengan hasil buruan saya yaitu celeng. Saya kasih makan tujuh belas ekor anjing.” Tekadnya untuk bersekolah tumbuh seiring makin besarnya tanggung jawab selepas ditinggal sang ayah. Sekolah dasar dilakoninya dengan jalan kaki 7 km ke sekolah dengan melewati tegalan, tanpa sepatu. “Kalau hujan, berlumpur. Saya bolak-balik, kalau pergi lari, kalau pulang lari. Yang lain, kalau hujan, saya bungkus baju saya dalam daun palem, sampai basah. Sampai sekolah, saya pakai baju, celana, kering di badan.” Sebelum berangkat ke sekolah ia akan mengatur makanan bagi semua ternaknya terlebih dahulu. Pukul 05.00 pagi ia ke sekolah dan baru pukul 02.00 pulang ke rumah lagi dengan keadaan perut lapar. Setelah itu ia meneruskan SMP di Gorontalo dan SMA Frater Don Bosco di Manado. Di masa SMA, Ciputra yang terbiasa berlari ketika di sekolah dasar itu terpilih menjadi atlit Sulawesi Utara pada lomba lari 800 meter dan 1500 meter di PON II di Jakarta. Selepas SMA, ia memutuskan melanjutkan ke ITB, Bandung, jurusan Arsitektur. Pilihan jurusan arsitektur bukan tanpa alasan. Sejak kecil beliau sudah memiliki kepekaan soal bangunan. Ia sering ikut ayahnya ketika ayahnya membangun rumah dan memprotes kesalahan-kesalahan ayahnya dalam hal sistem konstruksi. ITB menjadi tonggak beliau ke dunia properti. Saat masih kuliah, Pak Ci bersama teman-temannya sudah membuat perusahaan konsultan PT Perentjana Djaja. Setelah lulus, di usia 30, beliau memutuskan ke Jakarta karena ingin ikut membangun Ibukota. Petualangannya ke Jakarta mempertemukannya dengan gubernur Soemarno yang sedang membuat proyek pembangunan Senen. Dengan inisiatif dan kegigihan Pak Ci dibentuklah PT Pembangunan Jaya yang menjadi Cikal bakal grup Jaya. Ada pelajaran menarik dari seorang Ciputra. Beliau percaya bahwa kesuksesan bisa dimulai dari nol.  Baginya gagasan lebih penting daripada modal. Ia membuktikan bahwa dengan modal ide kreatif, semangat dan keberanian dapat menjadi pimpinan perusahaan sekaligus pemegang saham tanpa mengeluarkan modal sendiri. Satu ketika Ciputra mengatakan bahwa modal dana awalnya dapat dikatakan nol, “Modal utama saya pertolongan Tuhan dan kecakapan entrepreneurship.”

Pak Ci pernah menyatakan bahwa dirinya kerap melihat banyak orang gagal dalam bisnis karena tidak melihat peluang secara kreatif. Mereka hanya menjiplak keberhasilan orang lain tanpa menambahkan nilai-nilai kreativitas ke dalam produknya. Ada berapa banyak peluang, masalahnya adalah apakah kita melihatnya dengan kaca mata kreatif. Seorang entrepreneur adalah seorang yang bisa mengubah rongsokan menjadi emas. Itu yang dilakukannya ketika membangun Ancol yang dahulu hanya sebuah tempat kumuh, tempat jin buang anak, kata orang-orang.

Kini pak Ci lebih berkonsentrasi untuk menularkan nilai-nilai entrepreneurship, baik lewat belasan sekolah dan beberapa universitas yang dibangunnya, maupun dengan mendorong gerakan nasional entrepreneurship kepada pemerintah. "Salah satu impian saya yang ingin saya wujudkan adalah membantu agar negara Indonesia menjadi negara entrepreneur," ungkapnya. Ia menuangkan visi dan misi tersebut dalam buku “Ciputra Quantum Leap” Entrepreneurship Mengubah Bangsa dan Anda.

Ada banyak cerita lain yang menarik untuk diulas. Tapi, saya cukupkan di sini dulu.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?