Sapi dan Kerbau

10 Januari 2014 21:23:51 Dibaca :

Menggenggam mereka terlalu erat, itu hanya membuat mereka ingin pergi. Meski kau berniat baik

Hari telah pagi, kulihat sapi dan kerbau sedang asyik makan pagi. Rumput-rumput nan hijau telah tersedia dalam keranjang makan mereka. Mereka pun makan dengan lahap.

“Nyam nyam nyam enak sekali makanan kita ya, pi….” Kata kerbau.

Seraya menggerakan mulutnya, sapi pun menoleh ke arah sahabatnya. Dengan penuh keyakinan sapi pun menjawab, “Iya, segar.”

“Nanti selesai makan kau mau kemana, kerbau?” tanya sapi.

“Aku akan bermain-main di lapangan, sambil makan rumput yang jauh lebih segar dari pada ini.” Jawab kerbau.

“Ide yang bagus, sobat. Sudah lama aku tidak merasakan rumput segar lapangan.” Kata sapi.

Selama ini mereka tinggal di kandang pak tani. Jika merasa lapar, mereka tinggal teriak. Lalu pak tani pun akan mengerti. Rumput-rumut hasil sabitannya tadi pagi langsung dituang di keranjang makan mereka. Jika waktu santai tiba, mereka duduk, berbaring sekedar merebahkan badan seraya mengunyah kembali makanan-makanan yang telah masuk ke tembolok. Saat musim panen tiba, rumput itu bisa diganti batang tanaman padi yang sudah kering sebagai makanan mereka.

Angin sejuk menyapu badan sapi dan kerbau yang tengah berbaring seraya mengkhayalkan akan kebebasannya bermain dan berlari di alam luas.

“Alangkah indahnya duniaku jika aku bisa bermain bersama-sama teman-temanku di lapangan yang luas, yang ditumbuhi rerumputan nan hijau.” khayalan itu terus menari dalam benak mereka.

Hidup dengan segala fasilitas, perhatian, selalu dimanjakan oleh kebaikan pak tani memang terlihat menyenangkan. Namun bagi mereka ini adalah sebuah siksaan. Di dunia ini mereka hanya menginginkan hidup tanpa kekangan, lepas dari kandang, lalu menari, bermain dan bernyanyi bersama-sama dengan teman-teman itu jauh membuat mereka bahagia.

Pagi-pagi buta, pak tani sudah sibuk mengambil rumput-rumput di sawah. Jika dewi siang telah beranjak dari peraduannya, pak tani pun kembali ke gubuknya yang jaraknya tak jauh dari sawah. Sesampai di gubuk, pak tani menengok sebentar sapi dan kerbau yang tengah santai. Lalu ia mengeluarkan batang-batang padi yang telah diambilnya sore kemarin saat ia memanen padi milik tetangga. Keuletan pak tani memang patut mendapat acungan jempol. Ia takkan menyerah kepada teriknya matahari yang mampu meningkatkan kadar melamin dalam kulitnya, kepada hujan yang membawa doa di setiap tetesnya. Hanya agar ternak-ternak mereka tetap sehat.

Bagi pak tani, hujan adalah berkah. Jika hari ini hujan, esok rumput akan tumbuh panjang dan lebih segar. Sapi dan kerbau dapat makan dengan lahap. Meski ini membuat pak tani bekerja lebih lelah, karena kandang ternaknya harus sering disapu untuk menjaga kebersihan kandang mereka.

Sore itu, pak tani sedang duduk santai bersama Rio. Anak rajin yang suka menolong pak tani membawakan rumput dari sawah. “Besok, aku akan memanen padi-padiku. Aku takan bisa memotong rumput untuk ternak-ternakku.” Gumam pak tani.

“Dilepas di lapangan saja, paman. Supaya paman bisa meninggalkan mereka dengan tenang. Jika mereka lapar, paman belum pulang, mereka akan makan rumput disana.” Ucap Rio menyarankan.

Pak tani pun setuju dengan saran Rio. Keesokan harinya, pak tani mengeluarkan kerbau dan sapi ke lapangan.

“Kerbau…, aku senang sekali.” Sapi teriak seraya melompat girang.

Kerbau pun ikut berlari dan bersorak. “Yeeeee…. Asyiiik.”

Mereka tertawa, berlarian, dan bermain di lapangan.

“Menyenangkan. Hari yang menyenangkan.” Kata sapi.

Kebebasan yang mereka impikan akhirnya terwujud. Lalu dengan penuh kegembiraan sapi dan kerbau berlarian dan melompat-lompat. Akhirnya mereka menghirup udara bebas.

Ciganjur, 09 Januari 2014

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?