Tabrani Yunis
Tabrani Yunis pegawai negeri

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Media

Merangsang Pendengar Radio Sadar Bencana

19 Juni 2017   06:14 Diperbarui: 19 Juni 2017   08:55 41 1 0
Merangsang Pendengar Radio Sadar Bencana
Sumber: https://b0n4nz4.wordpress.com


Oleh Tabrani Yunis

Ketika berbicara soal radio, aku langsung teringat akan kebiasaanku di masa kecil. Ya, dulu, di tahun-tahun 1976-78 an,ketika aku masih duduk di bangku  sekolah menengah pertama,  di SMP  Negeri Manggeng,  yang saat itu masih masuk ke wilayah AcehSelatan saat itu. Kini masuk wilayah Aceh Barat Daya. Kebiasaan yang bersumber dari kegemaran mendengar siaran radio. Maka, kala bicara radio, aku jadi sering bernostalgia ke masa kecil. Ceritanya begini. Tapi maaf, mungkin kalau cerita ini kita ceritakan pada anak-anak generasi milenia ini, kita akan dianggap jadul, karena ceritanya sudah tidak sesuai dengan zaman ini.

Dahulu, kita masih hidup di era yang non digital dan serba susah. Sehingga, bila kepada anak-anak sekarang kita ceritakan soal susahnya hidup di era 1970 an, mereka tidak bisa membayangkan seperti kehidupan bangsa kita saat itu. Malah, mereka berfikirsama seperti sekarang yang segalanya mudah diakses. Apalagi, kalau kitabercerita soal kondisi Indonesia yang saat itu masih sangat miskin sarana transportasi, sarana komunikasi dan hiburan. Pasti mereka hanya cuwek dengan cerita itu. Oleh sebab itu, kendatipun demikian, tidak salah bila kita ceritakan sekedar menginformasikan bahwa masa lalu di beberapa daerah di Indonesia itu lebih banyak kelam dari pada kondisi terang benderang dan instant seperti saat ini.

Mengenang masa-masa di era 1970 an itu, saat aku masih kecil, daerah kelahiranku, kecamatan Manggeng, bahkan seluruh wilayah pantai barat Aceh saat  itu tergolong dalam daerah yang tertinggal dalam berbagai hal. Tertinggal akan hal pembangunan,juga tertinggal dalam hal pelayanan public. Tidak salah, bila saat itu banyak orang yang memplesetkan Aceh Selatan itu dengan sebutan, Aceh ketelatan. 

Lalu, apa kaitannya dengan radio? Jawabnya,sebagai daerah tertinggal saat itu, mass media seperti surat kabar, bahkan majalah dan media cetak lainnya termasuk benda langka pada saat itu. Apalagi yang namanya televisi (TV), pasti masih menjadi benda asing. Maka,  satu -satunya media elektronik yang dapat dinikmati saat itu adalah radio. Produk radio pun masih radio-radio yang menggunakan baterai kering, seperti baterai ABC atau eveready. Pendeknya, tidak ada radio digital. Radio yang digunakan sangat sederhana. Siaran radionya pun masih mengguanakan AM, bukan FM.

 Televisi,sebagai media audio visual pada saat itu belum ada. Selain TV masih menjadi barang yang tergolong mewah dan langka saat itu. Di kota Banda Aceh saja, juga saat itu mungkin tidak semua rumah memiliki televisi. Apalagi di daerah yangj auh dari keriuhan suasana kota. Bayangkan saja, kondisi kelistrikan di daerahsaat itu juga belum mendukung, karena banyak rumah yang tidak berlistrik.Kehidupan masyarakat juga tergolong miskin dan sebagainya. Bagaimana maumenggunakan televisi?  Ya,  kecuali  kalau bisa menggunakan lampu teplok yang menggunakan minyak tanah itu. Jadi, mau berbuat apa danbagaimana mau menonton televisi? Artinya, hidup memang tidak punya pilihan yang banyak. Sangat jauh berbeda dengan keadaan sekarang yang serba mudah sertainstant ini.

Lalu, bagaimana masyarakat dahulu bisa menikmati alunan lagu atau tembang Melayu, dangdut, rock, barat dan sebagainya? Bagaimana masyarakat bisa mengakses informasi atau berita mengenai kejadian-kejadian atauperistiwa yang terjadi di belahan dunia lain?  Nah, seperti diutarakan di atas, satu-satunya alat atau media informasi yang ada, ya radio. Radionya pun tidak secanggih sekarang. Orang-orang pun tidak mengenal model digital, kecuali istilah satu band atau dua band. Stasiun radio juga pada saat itu masih menggunakan AM dan sangat sedikit yang FM. Namun, peran radio dalam kehidupan masyarakat di tanahair dan di daerah-daerah saat itu sangat penting dan besar. Radio menjadi satu-satu media informasi yang bisa menyampaikan atau menyajikan informasi,berupa pengetahuan dan lain-lain secara cepat. Berbagai kantor berita radio didalam negeri dan luar negeri bisa diakses, seperti Voice of America, BBC London, Radio Australia, NHK Jepang dan banyak lagi. Stasiun radio ini pun saatitu memperkenalkan dunia philately serta koresponden, surat menyurat kepadapara pendengarnya. Bukan hanya itu, sejumlah radio luar negeri itu ada yangmenyuguhkan program bahasa Inggris lewat radio yang sangat banyak diminatiorang untuk bisa belajar bahasa Inggris, atau bahasa Jepang dan lainnya.

Pokoknya, peran radio saat itu memang besar. Diantara sekian banyak yang bisaa dinikmati orang pada saat itu adalah ceritaradio bersambung yang ditayangkan setiap sore hari, oleh stasiun radio RRI. Sebuahcerita radio yang disajikan secara bersambung saat itu, yang masih hingga kiniada dalam ingatan adalah cerita radio yang berjudul, "Butir-Butir Pasir DiLaut", cerita radio yang banyak memberikan pelajaran saat itu. Bayangkansaja, hingga kini, judul sandiwara itu masih belum terlupakan, padahal sudahpuluhan tahun berlalu. Jadi, keberadaan acara radio tersebut memang pada saatitu, sesuai dengan perkembangan zaman, sangat besar pengaruh atau dampaknyauntuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan atau kegiatan --kegiatan edukatif.

Kini, ketika zaman terus berubah, alat atau mediakomunikasi semakin serba digital, akses masyarakat terhadap media digitalsemakin mudah dan murah, keberadaan radio sudah mengalami pasang surut. Samahalnya seperti keberadaan media massa cetak, seperti surat kabar, majalah danmedia cetak lainnya yang sedang menyiapkan keranda kematiannya. Dalam kondisisemacam ini, stasiun radio harus mampu mengantisipasi dan menyiapkan sajianacara yang benar-benar memudahkan para pendengar mau dan suka mendengarkanradio, sebagai media hiburan, pendidikan dan lainnya. Untuk membangun budayasadar bencana melalui radio saat ini, menjadi sebuah tantangan tersendiri ditengah semakin berkurangnya orang yang memilih berlama-lama mendengar radio,dibandingkan mengakses sosial media yang serba instant dan sangat mudah diaksesdimana saja itu.

Namun, tidak perlu terlalu risau pula. Radio,sebagai media audio hingga saat ini masih tetap ada penggunanya, terutama dikalangan generasi tua. Sementara di kalangan generasi muda, jumlah pendengarradio tersebut dapat kita katakan terus menurun. Oleh sebab itu, bila inginmembangun budaya sadar bencana melalui radio, maka stasiun radio tidak hanyacukup dengan menyiarkan acara sandiwara radio " Asmara di Tengah Bencana 2"tanpa ada bumbu-bumbu lain yang dapat merangkul atau melibatkan banyakpendengar. Acara sandiwara radio ini harus dikemas secara menarik, memilikidaya pikat yang bisa melibatkan pendengar, melihat selera pendengar saat ini. Dalamkondisi masyarakat yang instan seperti sekarang ini, durasi cerita di setiap episodesandiwara radio tersebut harus dikemas secara pendek-pendek, karena parapendengar semakin malas mendengar dan bisa jadi, tidak punya waktu untukmendengar cerita.

Agar segenap masyarakat tertarik untuk mendengardan mengikuti alur cerita, maka di setiap episode yang disajikan ataudisiarkan, diikuti dengan berbagai kuis dengan hadiah yang menarik. Artinya adasejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh para pendengar dan dijawab secaratertulis yang melibatkan kemampuan menulis para pendengar, melibatkan kemampuanproduktif para pendengar, misalnya pertanyaan yang analitik, yang membuat parapendengar menganalisis secara detail tentang sebuah peristiwa bencana. Bukanhanya itu, tetapi menyiapkan pertanyaan yang menyentuh pengalaman pribadipendengar dalam hal bencana. Quiz-quiz semacam ini, akan lebih menarik apabiladisediakan sejumlah hadiah yang tentu harus menarik pula. Bukan hanyamenyediakan hadiah, tetapi juga jumlah pemenangnya harus lebih banyak. Salahsatu hadiah yang bagus untuk disediakan adalah kaos atau T.shirt yang disablondengan muatan pesan-pesan sadar bencana. Dengan demikian, acarakampanye-kampanye sadar bencana tersebut bukan hanya tersampaikan lewat radio,tetapi juga lewat kaos hadiah dari setiap episode sandiwara radio tersebut.Jadi, ibarat kata pepatah, sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Tentu saja masih banyak cara untuk bisa membangunkesadaran masyarakat untuk sadar bencana melaui radio tersebut. Misalnya, diakhir satu episode acara sandiwara tersebut, diberikan waktu kepada pendengaruntuk menyampaikan pendapat mereka secara langsung. Penyiar bisa menghubungipendengar lewat telepon, atau bahkan mengundang salah satu pendengar yangtinggal dekat dengan stasiun radio untuk menceritakan apa yang ia sudah dengardari episode tersebut. Pokoknya, radio memang harus kreatif, antisipatif danpartisipatif dalam menyiarkan acara sandiwara radio tersebut.