10

25 Februari 2013 17:50:46 Diperbarui: 24 Juni 2015 10:41:57 Dibaca : 1593 Komentar : 1 Nilai : 0 Durasi Baca :
10
13618397422110322453

Semua orang tua ingin anaknya berprestasi di sekolah,tak ketinggalan saya.Kalau mereka mendapat “10” untuk ulangan hariannya, hadiah senilai jumlah uang tertentu boleh diraih.Kalau nilai 10 diperoleh ketika ujian, maka hadiah 10 kali lipat menjadi hak mereka.Itu terjadi semasa mereka duduk di bangku SD sampai SMA.Begitulah cara saya memompa semangat belajar kedua anak saya, hingga kini sudah tamat dari sebuahPTN.

Angka 10 menjadi keramat dan dikejar banyak orang.Di bangku sekolah para siswa mendambakan nilai 10 sebagai prestasi puncak belajarnya.Sementara 10 juga menjadi ukuran tertinggi bagi prestasi di luar dunia sekolah.Para pekerja yang jempolan dinilai 10 oleh atasannya.Sementara secara kuantitatif angka 10 dipakai sebagai pengganti nilai kualitatif tertinggi dalam berbagai bidang seperti olah raga, kesenian, dan bahkan agama.

“World Record”juga ditandai dengan angka 10.Banyak obyek menggunakan 10 sebagai tanda kehebatannya.Ada 10 gunung tertinggi di dunia.Tiga urutan teratas adalah Everest di Tibet – Nepal (8850 m), Chogori di Pakistan (8611 m), dan Kangchenjunga, juga di Nepal (8586 m).

Tidak hanya gunung, kota terbesar di dunia juga diurutkan menjadi 10.Tokyo yang pertama, dengan 32 juta penduduk, disusul Mexico City, 24 juta penduduk dan Seoul, 21 juta penduduk.Masih ada 7 kota besar lainya di urutan keempat sampai kesepuluh.

Selain itu, kehebatan sungai juga ditandai dengan 10 sungai terpanjang di dunia.Yang terpanjang adalah Amazon, di Peru, Nil di Mesir dan Missisippi di di Amerika.Masih ada “10 keajaiban dunia” yang mencatat benda-benda mengagumkan yang ada di bumi ini.Tiga contoh adalahMenara Pisa di Italia, Menara Eiffel di Perancis dan Candi Borobudur di Indonesia.

Semuanya memang serba 10.Mengapa tidak 5, 100 atau 11?.Saya rasa tidak ada ahli apa dan siapa pun yang bisa menjawabnya.Angka 10 dianggap merepresentasi suatu jumlah yang tergolong “luar biasa”.Itu saja ucapan sekenanya yang mungkin bisa menjawab pertanyaan kritis, yang siapa tahu, sebetulnya tidak benar-benar perlu dijawab.Anggap saja ini sebagai suatu kebiasaan orang dalam menandai suatu kehebatan yang tidak ada dasarnya.

Kalau angka 10 di atas dianggap sebagai sesuatu yang kebetulan belaka, akhir-akhir ini ada, paling tidak, 3 angka 10 yang pantas dicatat dalam sejarah negara kita tercinta ini.Ketiganya lebih bernada tragedi, meski ada warna komedi dan parodi.

Yang pertama adalah “10 Perintah SBY”.Ia ditujukan kepada seluruh jajaran Partai Demokrat.Beberapa politisi dengan sinis mengomentarinya sebagai “10 Firman SBY”.Perintah ini keluar pada hari Minggu, 10 Februari 2013, ketika partai yang dinahkodai SBY ini, sedang mengalami prahara.Gara-gara suatu survei menyebutkan bahwa elektabilitasnya anjlog ke angka 8%, SBY turun gunung, bersih-bersih,kerja-keras dan ikut campur.SBYcancut tali wondo, saiket sa-eko proyo, membenahi partai agar terdongkrak lagi tingkat kepemilihannya.

Empat perintah pertama berkenaan dengan kerja keras dan kinerja. Enam perintah berikutnya menjadi pedoman bagaimana anggota partai harus memegang teguh moral dan etika yang tinggi, taat kepada hukum, dan memerangi korupsi.Bisa dimengerti jika SBY menghendaki seluruh anggota Partai Demokrat mempunyai akhlak yang tinggidan korupsi dijadikan musuh utama dan bersama.Merosotnya angka survei partai disebabkan masalah akhlak yang melahirkan perilaku yang tak terpuji itu.

Yang kedua adalah tersiarnya berita di media massa tentangseorang tersangka kasus korupsi dan pencucian uang.“10” rumah mewahnya yang tersebar di Jakarta, Depok, Semarang, Solo dan Jogja, disita KPK.Ya, yang disita 10 buah.Tidak ada yang paham berapa jumlah rumah yang dimiliki sang tersangka.Petugas menduga nilai ke-10 rumahsebanyak 40 milyar rupiah.

Tentunya orang tidak tahu persis berapa total kekayaan sang tersangka.Yang bisa diketahui hanyalah, ketika saat terakhir bekerja, dia menerima take home pay 30 juta rupiah per bulan.Berapa ribu bulan dia harus mengumpulkan gajinya untuk membeli 10 rumah tanpa membelanjakan keperluan lainnya sepeser pun.

Cerita 10 ketiga adalah kisah bayi kembar Dera.Nama lengkapnya Dera Nur Anggraini, usia 7 hari.Dera sakit,akhirnya meninggal dunia, setelah ditolak berobat di 10 rumah sakit di Jakarta.Satu diantaranyaadalah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).Sebab ditolak Dera tentunya sangat mudah ditebak.Ayah Dera, Elias Setionugroho, terpaksa membawa kembalinya sang Bayi karena tak mampu membayar uang DP.Tragisnya, kisah yang mirip terjadi di 10 RS yang berbeda.Gara-garanya pun juga sama, kemiskinan yang mendera ayah Dera.

Lucunya, dalam cerita “penolakan yang dilakukan 10 RS” itu,RSCM melakukan penolakan karena “10 inkubator yang dimiliki” terpakai semua.Padahal ia merupakan alat penting untuk merawat Dera.Kembali angka 10 mewarnai kisah tragedi yang mengharu-birudunia media massa nasional.

Ketiga kisah “tragedi angka 10” tidak harus terjadi jika manusia selalu ingat akan Dia.Ribuan tahun lalu, melalui Nabi Musa, Tuhan mengirimkan perintahNya yang ditulis di atas 2 loh batu.Perintah yang semula ditujukan kepada bangsa Yahudi, yang mulai memalingkan muka dari Yahwe, menjadi “batu penjuru” bagi seluruh umat manusia.Ia dinamakan “10 Perintah Tuhan”, atau “The Ten Commandments”.

Kembali 10 menjadi angka istimewa yang sakral.Iamenjadi penawar terjadinya kisah-kisah tragedi. Angka 10 bukan hanya menunjukkan kehebatan “catatan dunia” saja.Bukan hanya penyusun kisah-kisah menyedihkan.Angka 10 juga menjadi jumlah perintah Tuhan untuk memperbaiki akhlak umat manusia.Itu terjadi ribuan tahun lalu, ketika manusia belum mengenal KPK atau inkubator.Ia diikuti harapan :

“Haruslah kamu melakukan apa yang benar dan baik di mata Tuhan, supaya baik keadaanmu dan kamu memasuki dan menduduki negeri yang sejahtera, yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu”. (Ulangan 6,18)

PM Susbandono

/susbandono

Berpikir kritis, berkata jujur, bertindak praktis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana