HIGHLIGHT

Dilema Seorang Mahasiswa Ketika Pemikirannya Bertentangan dengan Keinginan Orang Tuannya

23 Mei 2012 19:01:53 Dibaca :
Dilema Seorang Mahasiswa Ketika Pemikirannya Bertentangan dengan Keinginan Orang Tuannya
Ilustrasi/Admin(trisihono.staff.uii.ac.id)

Terkadang menjadi sebuah dilema bagi seorang mahasiswa ketika pemikirannya bertentangan dengan pemikiran orang tuannya. Di satu sisi sebelum orang tua mengkuliahkan anaknya ke perguruan tinggi. Orang tua seringkali berpesan dan berharap kepada anaknya agar bisa wisuda tepat waktu. Orang tua menginginkan anaknya cepat wisuda tanpa memikirkan setelah sarjana nanti anaknya mau jadi apa,dan bekerja dimana. Sehingga demi membahagiakan orang tua,kebanyakan mahasiswa harus belajar dan fokus kuliah,jika sudah begini,sudah barang tentu mahasiswa ini tidak ada waktu untuk melihat dunia luar selain dunia kampus. Ta ada waktu untuk berorganisasi,ta ada waktu untuk membekali diri dengan ilmu-ilmu lain selain ilmu dari kampus. Sehingga setelah dia menjadi sarjana,apa yang dia dapat, tak lebih hanya karena mungkin orang tua nya bos di suatu perusahaan maka dia bisa dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Bagaimana dengan sarjana yang tidak punya apa-apa.? Tentunya mereka hanya mengharapkan pertolongan tuhan dan juga faktor nasib saja. Jika dia beruntung,mungkin dia bisa diterima kerja di suatu perusahaan yg dia lamar. Tapi kebanyakan sarjana-sarjana malah menjadi pengganguran terdidik setelah wisuda. Karena memang persaingan dunia kerja saat ini sangat berat. Lowongan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan sarjana-sarjana yang diwisuda tiap tahunnya. Kalau sudah begini,apa orang tua bangga anaknya yang dengan cepatnya menyelesaikan kuliahnya diperguruan tinggi tapi setelah sarjana malah pengganguran.? Disisi lain mungkin banyak mahasiswa berfikiran sebelum aku menjadi sarjana,apa yang mesti saya siapakan agar saya tidak sama halnya dengan sarjana-sarjana pengganguran saat ini. Dia mulai membekali ilmu-ilmu lain selain ilmu dari kampus,dia sibuk berorganisasi,dia berusaha bergaul dengan orang-orang sukses agar dia bisa belajar dari pengalaman mereka dan juga setidaknya setelah wisuda nanti,orang-orang sukses itu memberikan dia pencerahan dan jalan menuju sukses. Sehingga dengan kesibukannya dengan diluar kampus,kuliahnya menjadi terganggu dan tidak wisuda dengan tepat waktu. Tapi dia tentunya setelah wisuda nanti sudah mendapatkan bekal yang cukup untuk bersaing di dunia kerja dan juga sudah punya modal ilmu dan relasi untuk mampu menerapkan ilmu-ilmu yang dia dapat. Tanpa harus merendahkan derajat intelektual yang dia miliki. Lantas dengan lama wisuda anaknya,orang tua pun berprasangka buruk terhadap anaknya, menuduh anaknya sudah tidak becus lagi kuliah,sudah terikut-ikut temannya kedalam jurang kehancuran. Padahal tidak, lain hal nya jika orang tua maklum,tapi jika tidak.? Inilah yang menjadi dilema bagi mahasiswa itu sendiri. Seperti inilah yang saya alami saat ini sebagai mahasiswa. Saya sudah hampir 5 tahun kuliah sampai saat ini belum diwisuda. Saat ini memang saya sudah dalam tahap penyusunan Tugas akhir sebagai mahasiswa (Skripsi). Saya lama tamat bukan berarti saya bodoh. Tapi karena saya pernah cuti 1 tahun karena ada kesibukan lain sehingga mengharuskan saya menunda kuliah saya. Pemikiran orang tua saya dengan saya sangat bertentangan. Bukan saya tidak bisa memenuhi keinginan orang tua untuk tepat waktu wisuda. Tapi saya mau jadi apa setelah wisuda dengan banyaknya sarjana pengganguran saat ini,apa saya harus seperti mereka juga.? Disatu sisi memang kita tidak menyalahkan pemikiran orang tua karena mereka merasa terbebani jika anaknya lama wisuda,sebab semakin lama anaknya wisuda semakin banyak biaya yang dipersiapkan orang tua. Tapi menurut pandangan saya,alangkah baiknya jika orang tua mempertimbangkan pemikiran anaknya. Ada baiknya dan ada buruknya pemikiran anaknya tersebut tetapi kebanyakan hal baik dari pemikiran anak yang mempersiapkan diri secara matang sebelum menjadi sarjana. Harapannya semoga tulisan ini bermanfaat,setidaknya membuka mata kita sebagai mahasiswa agar mempersiapkan diri secara matang sebelum menjadi sarjana. Sebab bukan tidak mungkin kita malah menjadi bagian dari pengganguran terdidik. Dan bukan tidak mungkin juga kita masuk dalam kelompok orang-orang yang sukses setelah sarjana. Begitu halnya kepada orang tua.semoga mempertimbangkan setiap keputusan yang diambil anaknya yang sedang kuliah. Biarkan anak menjalani hidupnya seperti yang dia inginkan,kalau itu demi kebaikannya untuk masa depan tetapi tetaplah mengontrol anak jika sudah mulai menyimpang. Salam Memerdekakan diri dari penindas kehidupan J

Suryono Brandoi Siringoringo

/suryono.briando

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Aku bukan seorang optimis yg naif yg mnghrapkan harapan-harapanku yg dkecewakan akan dpnuhi dan dpuaskan di masa dpan. Aku juga bukan seorang pesimis yg hdupnya getir, yg trus menerus brkata bhw masa lampau tlh mnunjukan bhw tdk ada sesuatu pun yg bru dbwah matahari. Aku hanya ingin tmpil sbg manusia yg membwa harapan. Aku hdup dgn kyakinan teguh bhw skrng aku bru mlhat pantulan lembut pd sbuah kaca, akan tetapi pd suatu hari aku akan brhdpan dgn masa dpn itu, muka dgn muka.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?