PILIHAN

Liga 1, Regulasi Pemian dan HUT 87 PSSI

21 April 2017 19:39:01 Diperbarui: 21 April 2017 20:58:47 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

"Kesuksesan itu, bukan saat kau mencapai impian, tetapi saat kau sanggup mempertahankan dan terus meningkatkan."(Supartono JW.15092016)

Pekan pertama,  kasta teratas kompetisi sepak bola nasional sudah bergulir. Kompetisi bertajuk Go-Jek Traveloka Liga 1 dibuka dengan pertarungan dua raksasa Pulau Jawa Persib Bandung kontra Arema FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Sabtu 15 april 2017. Megaduel antara juara bertahan liga dengan kampiun Piala Presiden 2017 ini sekaligus menandai kembali dimulainya liga resmi domestik setelah terhenti dua tahun silam. Menganut format kompetisi penuh, kandang dan tandang, sejumlah 355 pertandingan digelar secara maraton dengan melibatkan 18 klub yang dijadwalkan rampung pada 12 November 2017. Sistem promosi dan degradasi kembali dilakukan. Tiga kesebelasan terbawah di Liga 1 akan terdegradasi ke Liga 2. Sebaliknya, tiga tim teratas Liga 2 akan promosi ke Liga 1.

Waktu 'kan membuktikan

Pekan pertama sudah dilewati, namun publik sepakbola nasional merasakan adanya hal yang aneh dalam kompetisi kali ini. Bagaimana tidak, Kompetisi yang bernama Liga 1 dengan label sponsor Go-Jek Traveloka, sejatinya adalah kompetisi sepakbola nasional di kasta tertinggi. Namun, tontonan berkelas yang seharusnya didapatkan oleh publik sepakbola nasional sepanjang pertandingan dari menit pertama hingga menit akhir, baik disaksikan langsung di Stadion maupun lewat layar televisi, nyatanya tidak lagi layak disebut berkelas. Apa pasalnya?

Dalam Liga 1 ini, PSSI tetap mengadopsi regulasi pemain muda yang sudah diterapkan pada Piala Presiden 2017 lalu. Setiap kontestan wajib memiliki minimal lima pemain muda yang tiga di antaranya wajib dimainkan pada 45 menit pertama. Tetapi pada peraturan lainnya, PSSI malah menambah jatah jumlah pemain asing melebihi tiga pemain. PSSI membuka lebar kesempatan bagi klub-klub untuk merekrut pemain-pemain asing "tua" bahkan hingga lima pemain, asalkan berlabel pemain bintang internasional (marquee player) yang pernah berlaga di tiga edisi Piala Dunia terakhir atau pernah berkiprah di Liga top Eropa seperti Liga Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Belanda, Prancis, Portugal, dan Turki.

Inilah yang memicu, publik berkomentar bahwa, menonton Liga 1 itu aneh. Karena publik sepakbola nasional harus menyaksikan setiap pertandingan Liga 1 yang sulit ditebak, karena setiap tim wajib memainkan tiga pemain u-23 di 45 menit babak pertama, tidak ada penawaran. Namun, pemain asing atau  marquee player  malah boleh berusia tua.

Sebagai ilustrasi, kala menyaksikan Persib versus Arema. Baik Persib maupun Arema, kebetulan memiliki pemain muda di bawah 23 tahun yang kemampuannya sudah dapat mengimbangi pemain senior. Namun, Persib yang didukung oleh marquee player,ternyata tidak mampu lepas dari permainan ketat Arema dan akhirnya ditahan imbang. 

Publik memang hadir memenuhi Stadion, atau setia di depan layar televisi, berharap menyaksikan pertandingan berkualitas pembukaan Liga 1. Nyatanya, marquee player yang digadang-gadang bukan hanya untuk menaikkan gengsi tim/sepakbola nasional, justru kedodoran fisiknya karena harus mengimbangi pemain-pemain muda yang masih memiliki kemampuan fisik tinggi. Pertandingan Persib-Arema memang berlangsung ketat, namun aneh karena ada pemain yang fisiknya kedodoran, cara berlarinya juga terlihat jauh dari level kasta tertinggi, karena dimakan usia.

Persib dan Arema memang tidak kesulitan memasang pemain U-23  karena kedua tim ini memiliki pemain muda yang bertalenta dan bahkan sudah direkrut dalam timnas U-22, meski pengalamannya masih jauh  dari pemain senior lainnya, namun seluruh pemain bintang kedua tim tetap tidak dapat turun sejak kick off dimulai. Hasilnya, sejak awal hingga akhir pertandingan, publik tidak dapat menyakiskan pertandingan hebat sekelas kasta tertinggi sejak menit awal. Bagaimana pula dengan kontestan lain, yang pemain U-23nya belum selevel pemain-pemain U-23 Persib dan Arema?

Sementara  ilustrasi di pertandingan lain, publik dibuat geregetan karena di babak pertama seperti menonton kompetisi sepakbola antar kampung. Bagiamana tidak, karena terpaksa harus menurunkan pemain U-23 di 45 menit babak pertama, sementara pemain U-23 masih belum dapat mengimbangi permainan seniornya, hasilnya, jangankan membuat tim mengimbangi lawan, strategi permainan tim sendiri juga tidak dapat berjalan karena adanya perbedaan kualitas pemain muda dan senior. Nampak jelas, kebingungan, strategi dan pola pelatih yang tidak dapat dikembangkan pemain, hingga salah kontrol dan salah passing.

Catatannya, pelatih kasta tertinggi kompetisi sepakbola di seluruh negara lain, seluruh dunia kecuali Indonesia,  tentu tidak akan sesulit menjadi pelatih di kompetisi Liga 1. Bagaimana mungkin, kasta tertinggi masih harus diatur dengan regulasi cara menurunkan pemain karena pesanan regenerasi pemain dan percepatan sepakbola nasional yang didengungkan Presiden. Tidak ada satupun klub kasta tertinggi di dunia, memaksakan pemain muda turun, kecuali pemain tersebut benar-benar sangat bertalenta. 

Terlebih harus memaksa 3 pemain muda turun bersamaan di level kompetisi tertinggi. Banyak yang dipertaruhakan pelatih dan klub. Reputasi pelatih, reputasi klub, dan tanggungjawab kepada pihak sponsor, bila klub tidak menggaransi prestasi. Kasta tertinggi itu sama dengan prestasi!

Jika pemain-pemain muda yang wajib bertanding itu memang secara kualitas sudah siap, tentu jalannya pertandingan pekan pertama tidak akan seperti yang sudah dibicarakan publik dan pelatih. Arena peningkatan mutu pemain muda idealnya adalah Liga U-21, atau dulu LSI U-21. Liga ini sekarang dihapus diganti U-19. Sejatinya, regulasi penambahan jumlah pergantian pemain dari tiga menjadi lima pemain dalam satu pertandingan adalah kontroversi. Aturan ini melabrak regulasi FIFA yang merupakan induk PSSI. Berdasarkan Laws Of The Game FIFA, lima pergantian pemain memang diperbolehkan, namun bukan untuk kompetisi kasta teratas yang melibatkan tim utama klub-klub di divisi tertinggi. Efek selanjutnya, pergantian lima pemain ini membuat PSSI memperbolehkan tim mendaftarkan maksimal 20 pemain pada setiap pertandingan. PSSI menambah kontroversi.

Pada satu sisi, PSSI berupaya memberikan panggung bagi pemain muda namun  "membunuh" karir para pemain senior, dengan membatasi jumlah pemain berusia di atas 35 tahun yang boleh dipekerjakan oleh suatu tim menjadi hanya dua pemain.

Publik memang harus bersabar. Butuh waktu untuk semua tim, pemain, dan pelatih  membuktikan bahwa regulasi baru ini dapat secepatnya mendarah daging.

Kini,  selepas semua tim menjalani pertandingan perdana pekan pertama, ternyata di pekan kedua, pertandingan kedua, ada tim yang langsung cepat beradaptasi dan sangat  signifikan peningkatan permainan timnya. Layaklah Liga 1 sebagai kasta tertinggi sepakbola nasional. Bahkan pekan pertama Liga 2 yang mempertemukan PSS Sleman versus PSS Cilacap, kemudain Persebaya menjamu Madiun, juga cukup berkelas.

Regulasi usia muda

Regulasi pemain di Liga 1 yang baru, ternyata sudah tidak asing bagi penggiat sepakbola usia muda, khususnya di Jakarta, karena di Jakarta sudah ada regulasi peraturan pemain yang sejenis regulasi Liga 1. Semisal dalam liga sepakbola usia 13/14 dan usia 15/16 tahun yang diselenggarakan pihak swasta (Liga TopSkor), bahkan sudah melibatkan 8 kota, 224 tim, 7.000 pemain, dan 1.200 ofisial, peraturan tentang pemain ini telah dijalankan dan menjadi sebuah keharusan karena dasar pemikirannya, liga ini adalah kompetisi untuk usia muda. Jadi setiap pemain wajib mendapatkan kesempatan bermain minimal dan adil.

Di kompetisi U-13/14, malah ada istilah pemain joker, yaitu pemain U-14/15 yang dimaksudkan untuk dapat memberikan panutan dan contoh bagi adik-adiknya yang berusai 13/14 tahun. Joker ini dibatasi hanya 4 pemain setiap tim, dan hanya diturunkan 2 pemain disetiap babak. Semetara, daftar susunan  pemain tetap sesuai aturan FIFA yaitu minimal 18 pemain. 

Namun, seluruh pemain yang didaftarkan dalam Daftar Susunan Pemain (DSP) Wajib diturunkan dibabak kedua. Perlakuan joker juga diberlakukan di kompetisi U-15/16. Bedanya, pergantian pemain di U-15/16 seperti dalam pertandingan futsal. Pergantian pemain bebas, dan pemain yang sudah diganti dapat bermain kembali sesuai kebutuhan tim.

Dengan regulasi seperti itu, kompetisi U-13/14 dan U-15/16, menjadi kompetisi yang menarik. Menarik untuk pihak Sekolah Sepakbola (SSB) dalam rangka regenerasi pembinaan, menarik untuk pemain menjadi punya banyak pengalaman, karena bukan prestasi yang dikejar, menarik buat pelatih untuk melatih daya strategi, dan menarik bagi stakeholder yang terlibat. Dan tentunya, keuntungan buat PSSI karena akan memiliki stok pemain muda yang terasah dalam kompetisi. Percuma seorang pemain berbakat dan bertalenta, namun tak ikut kompetisi. Kompetisi adalah bangku sekolah bagi calon pemain nasional.

Regulasi yang tepat

Kendati Liga 1 baru berjalan sepakan, rasanya menyoal regulasi pemain ini memang menjadi pertanyaan, apakah tidak salah tempat, meski pemimpin negeri ini menghendaki adanya percepatan sepakbola nasional demi prestasi. Namun demikian, jalan ini memang harus ditempuh oleh PSSI demi menggenjot prestasi timnas. Dengan mengedepankan pemain muda anak negeri tampil lebih banyak di Liga 1, maka akan menggaransi cerahnya timnas Garuda di masa depan.

Tidak akan  ada kambinghitam atas regulasi pemain sebagai biang keladi bila kompetisi kasta tertinggi Indonesia ini ujungnya kurang bermutu. Mumpung masih pekan pertama, dan menginjak pekan kedua, ayo para pemain muda, yang sudah dipilih setiap klub bermain di kasta tertinggi, tunjukkan talenta kalian. Hapus citra bahwa kalian adalah pemain muda yang masih terlalu hijau dan belum mampu memberi warna kompetisi. Demikian pula untuk pemain asing dan marquee player,kalian bermain di kasta tertinggi sepakbola nasional. Buatlah kalian berdampak untuk klub, untuk citra sportivitas sepakbola, untuk Indonesia di mata dunia.

Untuk saluruan televisi yang menyiarkan langsung Liga ini, manfaatkanlah komentator yang mumpuni, komentator yang dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan benar, karena setiap kalimat yang Anda ucap dan saat Anda mengiringi jalannya pertandingan, jutaan publik sepakbola nasional mengiringi Anda! Bukankah banyak sekali komentator sepakbola nasional yang bertalenta? TV One, jangan salah memilih komentator!

Selamat HUT ke 87 PSSI, semoga timnas U-16, U-19, U-22, dan U-15 Putri merengkuh prestasi. Jalankan roda organiasi yang amanah, jauh dari intrik, taktik. PSSI bukan kendaraan politik! Selamat datang industri sepakbola di negeri ini, yang akan mengangkat harkat dan martabat Ibu Pertiwi. Bravo!

Supartono JW

/supartonjw

Pengamat pendidikan, bahasa, dan sastra. Pengamat sepakbola nasional.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL bola

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana