Keheninganku

25 Mei 2013 20:17:36 Dibaca :

Lelah rasanya

menari di lingkaran keramaian kota

seakan ingin pergi meninggalkanya

menikmati sebuah keheningan

***

Aku ingin berlari ke hamparan hijau

biar diselimuti embun  sampai matahari naik ke atas bumi pelahan

kemudian  rebah  di pelataran keheningan

sehingga  angin mengelus rambutku

membawa kepangkuan  tangan masa lalu

yang membelai lembut mengusap kepalaku  dengan nyanyian doa-doa

***

Dengan penuh harap suaraku  menembus dinding tebing

Menanti gema memancarkan  kata-kata suci

Ingin rasanya aku melepaskan kehidupan

Yang kadang membuat aku lupa pulang

***

Apakah itu  keheninganku ?

***

Terbayang…

Aku melihat wajah  kebahagiaan dalam keheningan

para perempuan pemetik  teh  yang dinyatakan  dalam dendang  nyanyian

sementara  tangan-tangannya  memetik dengan tangkas

Indah rasanya…

Tangan tangkasnya adalah amal

Nyanyiannya adalah doa-doa

***

Oh…keheningan, ternyata

Nyanyian-nyanyian doa  bersetubuh amal

Bukan seperti  yang  aku inginkan

berlari ke keheningan,  berdiam diri menikmati kesunyian di keramaian kota

sebagai pecundang, tanpa amal dan doa

Asep Sudrasyah

/sudarsyahasep

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Membaca teks dan konteks
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?