Tentang Segala Hal

30 Maret 2013 19:16:35 Dibaca :

lembab dedaun begonia, sisasisa embun masih terasa-- menggurat puisi di dada yang terluka


***


dan di timur yang jauh cahayacahaya menggelombang,menabur hangat pd jiwajiwa yang terabaikan;merupa nafas bagi dada yang dipenuhi kesesakan


***


di dada angin, pagi mendegupkan segala kebaikan untuk kita rayakan-- sepanjang perjalanan


***


beranda ini kini riuh setiap pagi menjelang, karna kita mengisinya dengan bunyibunyi nan riang, nyanyian rindu anakanak yang baru pulang


***


dan kita memetiknya sebagai cendera mata untuk pengobat luka, menyimpannya dalam kotak pandora #embun


***


Tuhan menitipkan teduh pagi pada bening embun di tiap batang-batang padi


***


lalu desau pawana mendaraskan sajak kesunyian,dan di antara biru semesta, kenangan kumakamkan dalam ruang keabadian


***


dan derai luruh daundaun randu di sisi jalan, menyuarakan hening sebuah perpisahan--betapa kepedihan kadang harus dirumahkan


***


aku mencoba menyelami hening yang lindap di dada pagi; dan kutemui sebaris puisi adalah nyawa dari semua ini


***


kubayangkan pagi adalah matamu tempat lahir hangat cahaya; sementara aku pengelana purba di sepanjang jazirah tak berpenghuni--dipeluk sepi


***


menyusuri petakpetak pagi kutemukan barisan embun melanggam puisi,mengurai sepi yang semalam berdiam di ruang mimpi


***


Di antara riuh derit rerumpun bambu pagi datang bersama cerlang cahaya; mensiluetkan senyummu di rerimbun bungabunga rosela


***


Embun mengetuk jendela, dikabarkannya tentang rekah cakrawala tempat lahir hangat cahaya; muasal doadoa


***


di sini aku memeram sunyi yg kita petik dari rahim puisi;kubiarkan angin membawanya ke langit dan menjatuhkannya bersama hujan di awal musim


***


sebaris cahaya memapah gundah yang tersisa di tepi mimpi,kini menjelmalah segala doa yang kita laungkan di luas semesta;bersama sejumput asa


***


Selarik cahaya mengecup sepi jenggala. Di pondok tua, sekeping hati sibuk menata berai kenangan yang terlupa


***


kidung angin lembah; ini senja kesekian aku menyandarkan kenangan di dermaga tua, sendirian di tikam lelah


***


hujan telah lesap ke dalam matamu yang senja, mendendangkan kenangan juga sepotong kisah yang tlah usang


***


ada kenangan terburai di sela derai cemara luruh; dan angin menerbangkannya ke tempat yang jauh bersama rasa yang kian luluh


***


sunyi siang, aku mendengar derap hujan di kejauhan, mungkin ia akan bertandang, membawa bulirbulir kenangan


***


kesiur angin lembah menggoyang rerimbun akasia, dan tetiba saja kenangan begitu kuat mengetuk pintu kesunyian-- di dada


***


di sudut sunyi ingatan kenangan berdiam, terkadang menjelma malam yang penuh dengan kunangkunang


***


Selarik cahaya mengecup sepi jenggala. Di pondok tua, sekeping hati sibuk menata berai kenangan yang terlupa


***


ada yang diceritakan pagi, tentang luruh daundaun jati yang jatuh ke bumi, betapa segala takdir memang telah ditulis abadi


***


dan desau angin utara di sepanjang lengang sabana, melahirkan derap irama puisi semesta; kita menyebutnya symponi rasa


***


lalu di ufuk sana pagi rekah bersama rona cahaya, memancarkan hangat yang menjalar di antara sulursulur kenangan masa


***


Terang lembah, pohonpohon cahaya riuh mendaras puisi; sejenak angin singgah menggurat musim di tubir sep


***


sesaat kita tercekat, ketika matahari lelah dan memucat sementara kenangan berdiam di sudut waktu yang berjalan begitu cepat


***


di remang senja kita telah lupa, berapa lama melukis kenangan di sepanjang laguna, hingga matahari lingsir dan kita hanya tersenyum getir


***


Dan luruhlah senja di senyap jenggala, mengendapkan sejenak letih kembara di antara merah jingga semesta #puisisenja


***


dalam setiap hembus nafas doa membias, merengkuh sunyi ini bersama gerimis yang kian tempias #puisimalam


***


selalu kau tinggalkan setengah cangkir kopi di beranda pagi, mungkinkah segala mimpi ini juga akan kau genapi?


***


Senja datang bersama kenangan dan seuntai langgam; juga sekeping asa yang begitu erat kita genggam #puisisenja


***


taman senja kita menyebutnya, saat matahari kuning tua meluruhkan hangat, di antara debur ombak dan pekik camar bermain di sepanjang laguna


***


siang hampir usai;angin menyentuh gerumbul kembang sore, mengusap lembut punggung bukit sebelum matahari redup bersama irama yang kian sayup


***


sunyi siang, kita mengayun kenangan agar lelap di ingatan;kelak musim akan mewujudkannya sebagai bisik angin selatan


***


lalu pada bukitbukit biru di utara kita pernah menggenggam kabut; merasakan riuh kenangan melaju di sepanjang titian semu


***


pada dahan rapuh pohon kenari tua, sepasang burung gereja bercakap tentang musim, ketika begitu banyak kembang kamboja meluruh di beranda


***


maka bersama tetes gerimis yang merinai, aku melukis keping bayangmu, semata agar kesunyian tak begitu erat memelukku


***


Menatap jingga yang memenuhi cakrawala, kita, mencoba melabuhkan gores luka agar pupus duka di dada


***


jelang sore; silir angin di curam tebing,redup cahaya biaskan sederet jingga--kita menikmati warna angkasa dengan berjuta kenangan di kepala


***


maka hangat pagi yang jatuh di rerumputan; kuabadikan sebagai pelukmu; peluruh segala gigil kerinduan


***


maka mengalirlah segala tenang, pada ruang, sesuatu yang kita diami dan kita namakan; rumah hati


***


di antara pekat halimun yang menyentuh sisi bukit, pada sebuah malam berhujan, kita melarung kenangan, di sela sedu sedan perpisahan


***


maka di keheningan yang jauh malam terasa begitu lengang, mengisahkan kesunyian di antara runduk pucukpucuk ilalang


***


akhirnya, segala kenang kini tersimpan dalam bingkai pigura; terpasang bisu di terangi remang cahaya lilinlilin tua


***


dan dalam keteduhan malam aku membaringkan letih yang merajam; melelapkan rintih kesakitan pada matamu yang legam


***


Dan pada sunyi ilalang setangkup kenangan hinggap mengurai pesan, sebuah kisah yang kita simpan bersama bisik angin selatan


***


Pada dingin pusara luka pagi menjelma cahaya, menguarkan hangat doadoa, merengkuh tabah yang tereja di genang air mata


***


sebuah pagi di beranda; jatuh reranting getas di tanah basah, membawa tabah kepergian; melarung luka kehidupan


***


hening memayungi senja yang perlahan luruh dari matamu; membawakan sepotong kenangan di relung hati paling dalam


***


senja hening di bibir telaga; remang temaram jingga mengangkasa;kita bersama mendayung perahu kayu tua--menjala rasa #puisisenja


KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?