HIGHLIGHT

Petrus: Pemegang Kunci Sorga

20 April 2010 08:53:00 Dibaca :

Dalam bahasa Yunani, cinta dibagi 3, yaitu: eros, fhilia dan agape. Cinta eros : adalah cinta yang menggila, mencintai karena hasrat yang amat sangat dalam untuk memiliki seseorang. cinta eros tak kenal logika. Cinta ini akan memberikan rasa sakit yang amat sangat bila tidak tercapai. Orang bisa bunuh diri karena cinta jenis ini. Cinta Fhilia: cinta yang tulus kepada siapa saja disebut juga cinta sahabat, iklas memberi kepada siapa saja tanpa pandang bulu,  seperti kepada teman, sahabat, orangtua, ataupun anak-anak jalanan dan fakir miskin. Cinta agape. cinta tingkat tertinggi; bersedia berkorban dan menderita untuk orang yang dicintai. bahkan rela tetap mencintai seseorang itu walaupun sebenarnya orang itu sudah tak pantas lagi untuk di cintai. Ini adalah cinta yang penuh pengertian, kasih sayang, kesetiaan, dan kesucian. Cinta ini adalah gambaran dari cinta Allah kepada manusia.



Sebuah refleksi yang menarik dari kotbah seorang pastor dalam Misa yang saya ikuti minggu kemarin. Injil mengetengahkan dialog antara Yesus dan Petrus. Yesus bertanya sampai tiga kali kepada Petrus, apakah engkau mencintai-Ku. Dan Petrus menjawab benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau. Tiga pertanyaan tentang cinta ini direfleksi sebagai tiga tahapan tentang cinta Petrus kepada Yesus, Guru dan Tuhannya. Dan Yesus mau mengingatkan Petrus bahwa cinta kepada-Nya harus sampai pada tahap cinta yang dimaksud oleh Allah sendiri dan yang sedang diajarkan oleh Yesus kepada mereka. Mari kita lihat satu per satu.



Pada pertanyaan pertama “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Petrus spontan menjawab: “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Jawaban spontan, tanpa dipikirkan, mengisyaratkan bahwa Petrus merasa sudah memiliki cinta yang tak diragukan lagi kepada Yesus. Cinta yang membuatnya meninggalkan pekerjaannya, cinta yang membuat dia berubah status menjadi kelompok orang yang disegani orang banyak karena kedekatannya dengan tokoh hebat. Yesus: Penyembuh penyakit dan pengkotbah ulung. Cinta yang memiliki Yesus. Cinta yang muncul karena Petrus mendapatkan banyak hal dari Yesus. Cinta yang berorientasi kepada kepentingan sendiri. Terang saja Petrus akan berkata aku mencintai Engkau karena ia sudah lebih dahulu mendapat banyak keuntungan dari kedekatannya dengan Yesus.  Tentu saja kalau tidak mencintai Yesus, Petrus merasa terancam tidak akan mendapatkan apa-apa. Cinta ini bisa membuat orang putus asa ketika kehilangan orang yang dicintai. Orang yang dicintai adalah segala-galanya. Tempat berjuta pengharapan disandarkan. Kehilangan Dia berarti mati. Inilah cinta eros.



Pada pertanyaan kedua, Yesus tak lagi memakai kalimat “lebih dari mereka ini.” Yesus memang tahu bahwa Petrus punya potensi menjadi orang yang punya cinta lebih dari para Rasul yang lain. Itu pernah ditunjukkan dengan menghunus pedang dan memotong telinga hamba imam besar di taman Zaitun, malam ketika Yesus ditangkap. Artinya saat itupun Petrus sebetulnya siap mati juga untuk membela Gurunya, tapi dengan harapan ia akan dipuji oleh Yesus sebagai orang yang paling setia di antara Rasul yang lain.  Karena sangat mungkin saat itu Petrus masih berpikir bahwa Yesus tak akan tersentuh oleh penangkap-Nya. Yesus pasti akan menggunakan kuasa-Nya yang ajaib untuk melepaskan diri dari kepungan mereka.



Tapi Petrus mendapati kenyataan yang lain sama sekali dari dugaannya. Ia tak menangkap tanda-tanda bahwa Yesus tidak akan memakai lagi kuasa itu, karena saat-Nya untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya telah tiba. Tanda-tandanya adalah doa-Nya dalam sakratul maut di taman itu. Petrus terkejut. Justru ia disuruh menyarungkan pedangnya, karena siapa yang menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang juga. Sebuah keputusan yang aneh yang tak bisa dimengerti oleh Petrus.  Penyangkalannya kemudian kepada Yesus, menggambarkan dengan jelas ketidakmengertiannya itu sekaligus kekecewaannya. Ia menyangkal bukan karena takut, tapi karena tidak mengerti Yesus. “Ah… aku tak bisa mengerti mengapa Yesus membiarkan diri-Nya ditangkap, aku tak mengerti kenapa Ia tak menggunakan kuasa-Nya yang besar itu untuk menyelamatkan diri, aku tak mengerti kenapa Ia menjadi begitu lemah dan tak berdaya. Aku tak tahu, aku tak kenal orang itu. Ia orang bodoh dan aneh, punya kuasa tapi tak digunakan.” Ya sampai tiga kali Petrus menyangkal karena dalam pikirannya masih berkecamuk keheranannya akan perubahan dalam diri Yesus, sehingga dia tak mengerti, tak bisa memahami lagi Gurunya itu.



Nah pertanyaan yang kedua ini mengajak Petrus untuk mengerti maksud Gurunya. Kehendak Allah untuk melewati jalan salib, jalan sulit, jalan aneh itu tak berhenti di situ. Dari yang tampaknya kalah, akan terlihat terang kemuliaan. Dari sengsara dan kematian akan muncul kemenangan, kebangkitan dan kemuliaan itu. Cinta itu memang sulit, cinta bukan untuk dipikirkan atau digugat sana-sini, tapi untuk dilaksanakan dengan tulus. Inilah cinta fhilia. Petrus menyadari ia sudah mendapat banyak kasih, maka ia juga musti mengasihi. Kasih itu harus melampaui kepentingan diri. Masih banyak orang lain yang perlu dipikirkan, bukan hanya diri sendiri.



Dan pada pertanyaan yang ketiga,  Petrus menjadi sedih. Ia mengingat semua yang pernah terjadi dengan dirinya. Ia menyadari bahwa selama ini ia salah mengerti. Ia menjadi tahu, yang harus diikuti adalah kehendak Yesus, Guru dan Tuhannya, bukan kata hatinya. Ia menjadi paham bahwa kerajaan Yesus bukanlah kerajaan duniawi. Ia memang menggantikan dan meneruskan tahta Daud leluhur-Nya, tapi dalam bentuk yang baru. Dengan cara memerintah yang sama sekali berbeda, pemimpin adalah pelayan bagi sesama.



Petrus harus melupakan mimpinya untuk menjadi panglima perang seperti Yoab, yang disegani, tangan kanan Daud. Karena sekarang ia justru diserahi langsung tugas untuk menjadi pemimpin tetinggi Gereja-Nya, kawanan domba-Nya. Bahkan dengan tugas yang jauh lebih mulia dan agung ketimbang Daud sendiri. Karena padanya diserahkan suatu kuasa mengikat dan melepas dosa orang. “Engkaulah Petrus, dan di atas batu karang ini kudirikan jemaatku. Alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu kuberikan kunci kerajaan sorga; apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga, dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”. Petruslah yang pertama di antara para Rasul. Dialah dasar apostolik bagi Gereja Kristus. Ia harus menggembalakan kawanan domba Yesus ini untuk menyebarkan warta cinta agape ini. Maka tolok ukurnya juga tak main-main: “Kamu baru disebut murid-murid-Ku kalau kamu saling mengasihi.” Dan lagi “Barangsiapa melakukan sesuatu untuk saudara-Ku yang paling hina ini, ia melakukan-Nya juga untuk Aku”. Dan yang lain lagi: “Kasihilah musuh-musuhmu, berdoalah bagi orang yang menyakiti kamu dan mohonkan berkat bagi orang yang mengutukmu. Ampunilah maka kamu akan diampuni”. Inilah Cinta agape, cinta Tuhan kepada kita manusia, walau kita sebetulnya tak layak untuk dicintai-Nya mengingat segala dosa dan pelanggaran kita.  


 


Mari kita berusaha mencapai cinta agape, cinta yang memungkinkan kita bisa masuk dalam lingkaran Cinta Tuhan sendiri. Sebab tujuan hidup kita adalah masuk dalam kesempurnaan Kasih untuk hidup yang kekal. Tentunya hal itu bukan sesuatu yang nanti saja…. tetapi musti kita awali sejak kita masih di dunia ini. Sebab tinggal ketiga hal ini: Iman, Harapan dan Kasih dan yang terbesar di antaranya adalah Kasih. Iman akan berakhir dan harapan akan lenyap ketika kita sudah masuk dalam persekutuan Sang Maha Kasih itu sendiri.

Setiawan Triatmojo

/setiawan_vst

Lahir di Rejang Lebong, 05 - 04 - 1971. Belajar filsafat umum. Pekerja sosial. Saat ini sedang mendalami teologi sosial di Paris.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?