HIGHLIGHT

Keras Kepala

21 April 2013 23:09:33 Dibaca :

Di beranda rumah. Ada sepasang kursi. Dan sebuah meja kayu yang bertaplak rajutan bunga-bunga.  Sebuah taman kecil yang menghadap langsung ke arah beranda akan menarik mata yang memandangnya. Anyelir dan bunga Dahlia yang sengaja ku tanam sebagai penyedap. Di pojok kiri ada bunga Melati yang ku suka harumnya. Semerbak harumnya akan menyeruak hingga ke lorong-lorong rumah jika sedang musim berbunga.

Setiap senja, sebelum remang datang bertamu ke beranda rumah. Kami biasa bercengkerama di beranda. Aku, Papa, Izul, Salsa dan Daus. Biasanya ada sepasang gelas bertuliskan Mama dan Papa diatas meja kayu. Segelas teh manis hangat milikku dan segelas lagi teh hangat dengan rasa manis jambu, suamiku tidak menyukai teh yang terlalu manis rasanya agar terhindar dari penyakit gula katanya. Di beranda ini pula, aku dan suamiku berbincang tentang masa depan anak-anak kami. Tentang ke sekolah dasar mana Izul dan Salsa akan melanjutkan sekolahnya.

Izul dan Salsa yang bermain kejar-kejaran. Dan Daus yang baru berumur dua tahun asyik bermain-main dengan sepeda roda tiganya. Daus lebih suka mendorong-dorong sepeda itu kesana kemari dari pada menaikinya apalagi menggowesnya, mungkin ia belum mengerti. Itu kenangan manis tujuh tahun yang lalu.

Kini diberanda itu, diatas meja kayu cuma ada sebuah gelas yang berisi teh manis yang masih mengepul. Aku istirah diteras itu sambil memandang berbagai anyelir yang tak sempat lagi ku urus. Dan tak ada lagi rerimbunan tanaman bunga Dahlia yang telah lama mati. Bunga Melati yang hanya rimbun daunnya saja tapi tidak lagi lebat bunganya. Aku menyesap hangat teh manis itu penuh hikmat.

Izul dan Daus, entah main kemana? Atau ke rumah temannya yang mana?. Aku benar-benar tak ada waktu lagi untuk mengurusi mereka. Sementara Salsa, mungkin bernasib lebih baik karena ia disekolahkan di sebuah pesantren di daerah dekat kampung orang tuaku tinggal.

Suamiku menganggap aku adalah orang yang keras kepala. Karena tak mau dimadu oleh suamiku. Terlalu sakit utnuk menerima kenyataan bahwa suamiku telah beristri lagi. Teman sekantornya yang lebih muda usianya dari ku. Terlalu lama aku terlena dengan perlakuan dan kata-katanya yang manis dan penuh perhatian tapi ternyata diluar sana, ia telah mempunyai seorang putri yang usianya lebih muda dari Daus anak terakhir kami.

Kenyataan yang harus ku terima seperti petir di siang bolong. Tiba-tiba saja aku yang disudutkan oleh keadaan. Aku harus menerima suamiku berpoligami atau … ?

Semua pilihan yang tidak menguntungkan bagiku. Seperti makan buah simalakama. Tapi aku telah menentukan pilihan. Lebih baik bercerai dari pada hidup penuh dengan kebohongan. Sebuah pilihan yang awalnya terasa berat, aku yang sudah terbiasa hanya mengurusi rumah dan anak-anak. Kini aku harus memikirkan bagaimana mencari uang untuk mencukupi kebutuhan aku dan anak-anak.

Dari pagi sampai sore hari, aku berkeliling dengan sepeda menjajakan es buah dari warung ke warung atau aku mangkal di sebuah sekolah SD. Malamnya aku membuat juice buah lalu ku masukkan ke dalam kantong-kantong plastik untuk kemudian ku masukkan ke freezer agar menjadi es. Pagi harinya setelah selesai mengurusi sarapan dan mengantar Izul dan Daus ke sekolah, aku mengayuh sepeda untuk menjajakan es buah daganganku.

Untung saja Izul dan Daus sudah bisa mengurusi dirinya sendiri. Aku harus mendidik mereka mandiri karena aku harus mencari uang. Siangnya setelah mereka pulang sekolah, lauk makan siang yang telah ku buat di pagi hari tersaji di meja makan jadi Izul dan Daus tidak kesulitan untuk mengambil makannya sendiri.

Aku menolak segala bantuan dari suamiku. Baik berupa uang maupun barang-barang kebutuhan sekolah anak-anaknya. Itulah yang sering membuat suami ku atau mantan suamiku kesal dan menyebutku si kepala batu. Aku tak perduli! Bukankah dia yang telah merusak semua ini?

Tanpa terasa telah beberapa tahun kerasnya kehidupan ini ku jalani. Dalam lelah ku mengayuh sepeda memasuki kampung demi kampung, aku berusaha menepis segala kenangan manis yang pernah kami alami di beranda rumah. Sebuah gelas lagi, yang bertuliskan Papa tak pernah tersaja di meja kayu, hanya tersimpan di rak dapur, sebuah gelas kosong, dingin dan telah retak.

Pak Imron, wali kelasnya Daus pernah datang bertamu. Ia ingin melamarku untuk menjadi istri keduanya. Alasannya karena ia merasa kasihan melihat nasibku dan Daus yang tidak mempunyai ayah. Ah! laki-laki, dimana-mana sama saja!

Aku memilih cerai karena tidak mau suamiku beristri lagi, lah kok malah datang lagi seorang laki-laki yang berniat poligami.

“Pak Imron serius? Atau cuma kasihan saja melihat kehidupan kami?”

“Ummi Salsa, niat saya cuma ibadah.”

“Masih banyakkan ibadah-ibadah lainnya yang masih bias kita kerjakan, Pak Imron? Bukan melulu poligami!”

“Jadi bagaimana Ummi, apakah pinangan saya diterima?”

Aku terus berpikir keras, biar bagaimanapun Pak Imron adalah wali kelasnya Daus. Bagaimana kalau dia sakit hati atau kecewa apakah tidak akan berdampak pada sekolahnya Daus?.

“Pak Imron sudah ijin belum dengan istrinya?”

“Memangnya harus ijin Ummi?, bukan kewajiban Ummi.”

“Itu syarat utama dari saya, Pak. Pak Imron harus ijin dulu dan disetujui oleh istri bapak. Istri bapak harus datang menemui saya dan menyatakan kalau ia rela dan ikhlas dunia akhirat untuk di madu oleh saya. Kalau syarat itu sudah terpenuhi saya baru mau dinikahi oleh Pak Imron”

Pak Imron diam melongo beberapa saat. Setelah itu ia pamit permisi tanpa mengucapkan apa-apa hanya ucapan salam saja.

Setelah kepergian Pak Imron, pikiranku terus berkecamuk. Bagaimana kalau ia diijinkan dan direstui menikah lagi oleh istrinya?. Apakah aku bisa menerima pinangan Pak Imron?. Tapi, di dunia ini mana ada wanita waras yang mengijinkan suami nya menikah lagi dengan perempuan lain. Apalagi sampai merelakan dan mengikhlaskannya. Setelah berpikir seperti itu, aku mulai bias bernapas lega.

Seminggu hingga sebulan Pak Imron tidak pernah datang lagi ke rumah. Hingga berbulan-bulan Pak Imron tidak pernah datang lagi. Akupun menjalani rutinitas kehidupanku seperti biasa, mengayuh sepeda dari kampung ke kampung menjajakan es buah pada setiap warung yang kulewati.

Serpihan Abad

/serpihan_abad

aku bukan anak rembulan yang dihamili matahari. aku- tak sengaja di tetaskan embun di ujung-ujung daun. sepenggalan matahari naik, aku kan musnah. tanpa catatan sejarah. menguap dilautan sarwa purba. ada. dan atau tiada. ke niscayaan kah?. - S.A.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?