Tlembuk-Tlembuk Gang Sadar (+18 Inspeksi dalam Sketsa)

31 Maret 2011 15:33:53 Dibaca :
Tlembuk-Tlembuk Gang Sadar (+18 Inspeksi dalam Sketsa)

"Xiixixixi, masuk saja sini mas..." suara tawa perempuan halus bertanya dengan sorot mata hampa, kami berdiri di depan pintu model rumah huni biasa, disitu dilihat ada 3 perempuan duduk di sofa panjang, berdampingan. 2 perempuan sibuk dengan Hpnya yang satu melihat sinetron dengan suara tape menyeruak dari dalam kamar, pintu tertutup hanya kelihatan korden luar warna pink. di meja penuh abu rokok, lantai keramik putih susu. Udara di lereng gunung malam ini  dingin, dengan udara semilir. langit cerah bintang-bintang kelihatan berkelap-kelip. Suara musik dan TV acara sinetron terdengar campur aduk, dari dalam dalam rumah disepanjang gang. Lampu dalam ruang tamu terlihat sangat terang, dengan korden tembus pandang. Dirumah ini aku dan Sigit berdiri disamping pintu, ada perempuan satunya yang duduk ditengah sofa menyilangkan kaki, memamerkan paha mulusnya. rok ketat pendek dengan kaos ketat lengan sangat pendek, belah dada ah...bukan belah lagi, kaos bagian dada ketatnya sudah sobek memamerkan gundukan bukit kembar tanpa hutan. Kebawah lagi kaos warna creamnya waktu buat kekurangan bahan jadi udelnya kelihatan, pikirku. "Jalan-jalan...lihat-lihat" jawab Sigit sambil kulihat wajahnya. mata jelalatan dengan tarikan nafas mencium bau parfum, tajam. suara musik bercampur sinetron TV,  "Maas... sini donk masuk duduk ....." sahut perempuan sambil jari jemarinya memainkan tombol2 HP. Semua gaya 3 perempuan hampir sama demikian juga di tempat/rumah yang kami lalui tadi, hanya bentuk bodi yang beda2, ada yang agak gemuk tinggi rambut lurus sebahu diponi, bibir dengan lipstik merah muda tipis, alis kecil melengkung, dengan bedak wajah warna pink. kuku jari dan kaki pakai kitek berwarna-warni, dan ada gelang kecil dikakinya. mataku sambil melihat-lihat suasana ruang tamu sambil melahap tubuh perempuan dari atas sampai ujung kaki, wajah relatif. Disini aku dan Sigit melakukan 'inspeksi' di salah satu rumah di dalam Gank Sadar dari puluhan rumah berdempetan ciri khas rumah di pinggir kota, dengan tipe rumah kelas menengah Perumnas. Cat-cat tembok warna-warna cerah, letaknya tidak beraturan. dua tiga rumah berdempetan dengan yang lainnya dipisahkan dengan gang/lorong. Hari ini malam Minggu pantas ramai hilik mudik orang-orang tua muda, dilorong gang. ada yang sendiri, berdua terkadang lebih dari tiga dengan berbagai gaya dan dandanan. Terlihat seorang pemuda sambil diikuti perempuan, keluar dari sebuah rumah. Yah...dibawa kemana lagi kalau bukan ke villa-villa dan hotel-hotel yang berserakan dilokasi wisata, yang jelas pasti sudah ada yang menunggu di dalam kamar disuatu tempat untuk memadu kasih instan, entalah. "oh, yaa...yang lain pada kemana" tanyaku masih berdiri didepan pintu masuk, "mas mau cari siapa, mbok yang ada saja, yang lain biasa mas...lagi pada narik" jawabnya. perempuan sebelahnya nyeletuk "lihat-lihat apa mau di jilat-jilat xixixixxi" sambil mata melototi monitor Hp, "hus saru..nah" tegur Sigit sambil melangkah ke kursi sofa, duduk. Saat bersamaan ada perempuan masuk nylonong masuk keruang dalam, dia hanya berhenti sebentar di ruang tamu, say hello. sepintas tadi aku lihat memakai jelana jins ketat dengan baju putih lengan panjang, wajah oval, matanya lebar dengan alis mata tebal, dagunya runcing, bibir tipis alami, tinggi semampai dan rambut panjang lurus. Penampilan dan dandanannya beda, aku lirik Sigit mulutnya melonggo dengan mata terbelalak. "siapa itu mba..." tanya Sigit, "oh itu anak kesayangan mamih, biasa istirahat sebentar mesinya suruh dingin dulu....xixiixixixi" jawab perempuan cekikikan sambil lihat sinetron TV. Perempuan ini sudah mulai mancing-mancing pembicaraan yang mengarah, ya bisa kemana saja sih....terserah imajinasi masing-masing. "aku tadi kaget lihat tuh cewek, wajah klasik, mantap tuh body tinggi semampai, rambutnya panjang sampai pinggul, itu yang aku cari" bisik-bisik Sigit ke arahku, diantara suara bising TV dan tape. pikirku 'wah payah nih...inspeksinya jelas sampai dirumah ini saja, malam ini'. Teman karibku satu ini susah kalau sudah ngincar satu, pasti ditunggu terus. "terserah kamu Git...seleramu payah, itu tadi bekas salome (satu lobang rame-rame)" bisiku juga. Sigit hanya nyengir-nyengir, sambil bisik-bisik "wajah klasik dan rambut panjangya itu lhoo yang aku cari...". Sebuah lorong gang sempit, dengan jalan yang sudah di paving cukup untuk 2 motor masuk, itupun salah satu harus berhenti. kanan kiri tembok-tembok tinggi rumah-rumah, Hanya motor penghuni saja yang boleh masuk. Di depan gang dekat jalan raya ada pintu pagar besi dan papan pengumuman, hanya sebuah simbol. Simbol bahwa disitu ada pembatasan waktu dan aturan di papan pengumuman, menempel ditembok. Lihat diatas ada tulisan warna merah jam bertamu jam 19.00 s.d 23.00 WIB "oyaa dari tadi belum kenalan..." celetuk Sigit sambil mengulurkan tangannya, kasih salam. "Nina, Santi, Wati..." bersamaan sambil jabat tangan satu-satu. itu Nah...ini pasti kalau ada maunya pasti sok akrab. "oya kenalkan ini temanku yang tinggal di kota ini juga" yaah terpaksa ikut kasih salam juga, memperkenalkan diri. Bersamaan selesai saling memperkenalkan diri, ada pria masuk pakai jaket hitam. Tampang keras, rambut cepak. Dia kelihatan sudah akrab dan familiar dengan perempuan-perempuan didepanku, "San, Wati ayo...ada tamu nunggu, biasa langgananmu" sambil masuk, tanpa permisi. Sahut berbarengan "tunggu sebentar mas..." sambil berdiri masuk ruang dalam, menuju kamar bersama mereka. Aku iseng-iseng nanya ke mas2 yang berdiri di dekat pintu masuk "wah...mas ada bokingan double, apa?". "ah biasa...mas, biasanya tamu ini minta tiga sekaligus..". "masa...top banget tuh orang, buat sendiri" sahutku, "iya sendiri..." tampang mukannya malas diajak omong. Mas itu narik napas berat "ayo...cepat. aku ada kerjaan lain". Tidak seberapa lama 2 perempuan keluar, sudah ganti baju dan pakai celana panjang. Langsung nylonong saja keluar mengikuti mas-mas tadi dari belakang. Aku mengikuti langkah mereka, sampai tidak kelihatan punggung mereka. Ah kehidupan memang, terus berputar. Si Kupu-Kupu Malam yang terbang...... By. Titiek Puspa . Ada yang benci dirinya. Ada yang butuh dirinya Ada yang berlutut mencintanya Ada pula yang kejam menyiksa dirinya Ini hidup wanita si kupu-kupu malam Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga Bibir senyum kata halus merayu memanja Kepada setiap mereka yang datang . Dosakah yang dia kerjakan? Sucikah mereka yang datang? Kadang dia tersenyum dalam tangis Kadang dia menangis di dalam senyuman . Oh... apa yang terjadi terjadilah Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya Oh... apa yang terjadi terjadilah Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa . Bersambung.... . Mohon Maaf.... bila ada persamaan nama, bila ada  cerita isi sama, ini hanya angan  semata . dikala warung lagi sepi, tiada pembeli, didampingi istri, berkhayal diri, menyapa sepi, . Tidak ada maksud hati, mengumbar hasrat diri. . cerita ini hanya ilusi, jangan bawa emosi, bacalah dengan hati. . Bhs Banyumas: Tlembuk = WTS (wanita tuna susila) . Purwokerto, 31 Maret 2011 Salam . sumber gambar  : http://geniusbeauty.com/wp-content/uploads/2009/05/black-butterfly-clock.jpg

Singgih Swasono

/satejamur

TERVERIFIKASI (HIJAU)

saya usaha di bidang Kuliner, dan pendiri sanggar Seni Kriya 3D Banyumas 'SEKAR'. 08562616989 - 089673740109 satejamur@yahoo.com - indrisekar@gmail.com https://twitter.com/aaltaer7
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?