Mohon tunggu...
Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Blogger/Content Creator

walau orang digaji gede sekalipun, kalau mentalnya serakah, bakalan korupsi juga.

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop Pilihan

Mengurai Kemacetan dengan Membudayakan "Ride Sharing"

4 November 2017   12:18 Diperbarui: 4 November 2017   21:09 796
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Konsep Ride Sharing, Efisiensi & Efektifitas (sumber : sharedmobility.news)

Sebagai individu yang tinggal dan beraktivitas di Jakarta, sukar rasanya untuk tidak mengeyampingkan kemacetan dalam daftar problematika Jakarta tak kunjung usai. Bagaimana tidak, seiring waktu kondisi kemacetan di Jakarta semakin hari kian memprihatinkan.

Kemacetan seolah membuang waktu, menghambur-hamburkan uang dan bahan bakar, menyebabkan tingginya polusi udara yang berdampak pada kesehatan, kemacetan tidak hanya terjadi di setiap sudut-sudut Ibukota melainkan kini sudah sampai terjadi setiap hari tanpa mengenal waktu terkecuali libur Hari Raya Lebaran dimana mayoritas warga beranjak pulang ke kampungnya masing-masing.

Jumlah populasi yang berinteraksi di Jakarta meningkat drastis, jumlah kendaraan bermotor yang tidak terkontrol dibarengi luas jalan yang tidak lagi memadai, dan bervariasi bentuk ketidakdisiplinan di cap sebagai biang keladi dari sumber kemacetan Jakarta. Beragam bentuk solusi guna mengurai kemacetan Jakarta seolah tidak ampuh.

Upaya agar publik beralih dari transportasi pribadi ke transportasi umum sulit direalisasi, aturan-aturan lalu lintas yang diperketat terasa kurang manjur, perbaikan-perbaikan infrastruktur penunjang membutuhkan waktu lama dan manfaatnya masih perlu dikaji. Kesemuanya seolah basa basi bagi kemacetan Jakarta, oleh karena itu perlu kajian mendalam bagaimana upaya menyelesaikan setidaknya meminimalisir permasalahan kemacetan yang sangat merugikan bahkan turut mempengaruhi elemen kehidupan secara personalitas.

"Saya rasa orang dengan tekanan pekerjaan yang tinggi dan bertahun-tahun berada di lingkungan lalu lintas seperti di Jabodetabek sangat berpotensi menderita gangguan kejiwaan," - Kepala Satuan Medis Fungsional Psikiatri Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo Kembaren. Sumber : Kompascom 2014

Dipandang dari aspek kejiwaan, kemacetan bersumbangsih mengubah kepribadian individu dari sikap maupun sisi produktifitas. Tidak jarang kemacetan sebagai sumber meningkatnya kadar stress seseorang sehingga memicu penyakit dalam dirinya maupun pada pikirannya yang mengakibatkan perubahan karakter, seperti tempramen, mood yang berubah-ubah, bahkan berbuat kekerasan.

Dari sisi produktifitas, kemacetan punya andil yang bisa diamati maupun pribadi rasakan sendiri. Kemacetan dapat membuat fisik seseorang menurun, seperti letih dan lesu. Kemacetan mengakibatkan produktifitas kerja menurun, seperti telat berkerja, meeting delay, bahkan bentuk ketidakprofesionalan yang berujung kepada hilangnya relasi. Begitu banyak kerugian yang kemacetan dapat timbulkan, sejatinya permasalahan ini perlu untuk segera teratasi.

Jakarta sebagai Ibukota memang dalam kendali otoritas baik pemerintah pusat maupun daerah sebagai penanggungjawab, namun andil elemen-elemen diluar pemerintahan guna meminimalisir problematika khususnya persoalan kemacetan Jakarta sangat diharapkan dan turut pula diapresiasi.

Di Jakarta, respon publik terhadap kepemilikan mobil tetap positif. Sebanyak 27 persen tetap berkeinginan memiliki mobil serta 71 persen yang belum memiliki sedang mempertimbangkan untuk membelinya. Tapi mereka juga tetap terbuka untuk tidak memiliki mobil.

Sepertiga dari seluruh pemilik mobil (29 persen) mempertimbangkan untuk tidak lagi memiliki mobil. Jumlah tersebut meningkat hingga 49 persen, jika kondisi terkait parkir tidak membaik. Untuk kebutuhan transportasi sehari-hari, pemilik mobil di Jakarta terbuka terhadap solusi alternatif seperti skema berbagi tumpangan. Sebanyak 53 persen meyakini bahwa layanan berbagi tumpangan bisa menjadi alternatif dibanding memiliki mobil pribadi. - Sumber : Kompascom

Salah satu inovasi untuk meminimalisir kemacetan di Jakarta yaitu dengan hadirnya aplikasi mobile dari pihak ketiga yang menyediakan fitur "ride sharing". Fitur ini merupakan adaptasi dari "car pooling" atau menebeng mobil secara konvesional yang kemudian dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi internet serta pertumbuhan pengguna perangkat mobile. Dengan mengakses fitur ride sharing pada aplikasi maka individu secara real-time dapat mencari mobil yang dapat ditumpangi sesuai tujuan tempat dimaksud dan membayar sejumlah biaya sesuai tarif yang tertera dalam aplikasi atas layanan jasa tersebut.

Konsep dari ride sharing ini adalah mengutamakan sisi efisiensi (cepat) dan efektifitas (mudah), sehingga tercipta simbiosis mutualisme baik bagi pemilik mobil dan penumpang. Sebagai pemilik kendaraan dengan memanfaatkan kursi penumpang yang kosong maka ia mendapatkan upah sebagai pengganti jasa yang ia berikan. Sedangkan bagi penumpang, mereka terbantukan karena mereka dapat menghemat biaya transportasi, mengurangi penggunaan bahan bakar, serta mendapatkan layanan transportasi sesuai tujuan atau tidak dilayani oleh transportasi umum.

Sebuah penelitian dari lembaga riset AlphaBeta berupaya menjawab pertanyaan tersebut. Studi yang dilakukan menemukan biaya sekitar Rp138 triliun bisa dihemat pada 2020 apabila situasi itu terjadi. Keadaan itu juga bisa menekan angka perjalanan mobil pribadi menjadi 71 juta perjalanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun