Sisi Gelapku

27 April 2013 08:06:19 Dibaca :

Aku hidup hanya berdua dengan mamah, sejak kecil aku tak pernah mengenal sosok Bapak. Mamahku bilang dia meninggal sejak aku masih dalam kandungan. Tiap malam aku selalu melihat mamah di bawa oleh teman laki2nya yang tak pernah aku kenal karena tiap malam teman mamah selalu berganti-ganti. Dan aku heran kenapa teman2 SD selalu mengolok-olok aku dengan sebutan anak haram, sampai SMA aku selalu sendiri dan tak pernah punya teman.

Menjelang kuliah, mamah mengajariku bagaimana caranya mencari uang, dia bilang aku harus menuruti apa yang laki-laki mau dan mereka akan membayar kita dengan jumlah uang yang sangat banyak, dan aku bisa membeli apapun yang aku mau. Aku tak pernah bisa menolak perintah mamah, mungkin ini sudah jadi jalan hidupku.

Tiap malam aku mencari uang untuk biaya kuliah, teman kuliahku tidak pernah tau kehidupan gelapku, aku tak pernah mengajak mereka main kerumah meskipun mereka maksa ingin tau di mana tempat aku tinggal. Karena aku tidak ingin di kucilkan teman2 kalau mereka tau profesiku. Dan baru kali ini aku merasakan senangnya mempunyai seorang teman. Temanku itu sangat lugu dan pemalu, dia gadis berkerudung yang berasal dari kampung. Tapi dia sangat pintar dan baik hati, dia selalu menolongku mengerjakan tugas2 yang sangat sulit. Karena dia sangat baik maka aku selalu mengajak dia makan siang dan membayar angkot tiap kami pulang dan pergi kuliah, kebetulan rumahku dengan kost an dia satu jurusan, jadi tiap berangkat kuliah aku selalu menyempatkan diri untuk menjemput dia supaya bisa bareng kuliah. Pertemanan kami semakin erat, aku sering membelikannya baju, sepatu, tas dan semua kebutuhan dia. Aku kasian melihat keadaannya karena dia berasal dari keluarga yang kurang mampu tapi punya semangat tinggi untuk mencari ilmu. Aku sangat menyayangi dia, aku sudah menganggap dia sebagai kakakku. Dia selalu menasehatiku dengan nasehat2 yang membuatku segar dan semangat kembali.

Suatu hari dia mengajakku Sholat ke Mesjid, aku sedikit tercengang, karena selama ini aku tidak pernah menyentuh yang namanya mukena, di KTP aku memang beragama Islam tapi aku tidak pernah mengerjakan ajaran2 Islam, aku hanya tau gerakan sholat tapi tidak pernah hafal bacaannya, aku tak bisa membaca Al-Qur’an dan aku tak pernah tau apapun yang menyangkut ajaran Agama. Dari pada aku keliatan kikuk lebih baik aku berterus terang kalau sebenarnya aku tidak tau ilmu agama, untungnya temanku bisa faham dan dia bersedia jadi guru spiritualku. Tiap ada kesempatan aku selalu di ajarinya mengenai agama. Semakin tau agama lebih dalam aku semakin tau juga kalau aku sudah sangat berdosa dan aku harus meninggalkan profesiku ini. Tapi tantangan terberat bagiku adalah mamah dia akan sangat marah besar kalau aku berniat untuk berhenti. Anak2 peliharaan mamah suka dipukuli bodyguard kalau mereka minta berhenti kerja.

Sebentar lagi gelar Sarjana akan kami sandang, tapi musibah telah menimpa temanku. Ayahnya telah meninggal dunia karena tertimpa tembok runtuh saat dia kerja, sehingga sekarang dia tidak mampu lagi untuk membayar kost dan biaya lainnya. Padahal sebentar lagi kuliah kami selesai, sekarang kami sedang mengerjakan Tugas Akhir.

Temanku minta tinggal di rumahku sampai wisuda nanti, aku sangat sedih dan menyesal karena aku tidak mampu memenuhi permintaan temanku kali ini.

Ma’af Rin…kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, bukannya aku merasa terbebani tapi aku tidak bisa terbuka untuk masalah kondisi rumahku. Bagaimana kalau aku yang bayar kost an mu itu ” Usulku.

Tapi temanku itu tidak mau menerima usulanku dia memilih untuk pulang kampung dengan alasan tidak ingin merepotkanku, dan aku tidak bisa mencegah dia karena aku sendiri tidak bisa menolong dia.

Sampai sekarang aku kehilangan jejak dia, aku ingin sekali bertemu dengan teman terbaikku itu, aku ingin mengucapkan terima kasih karena dia telah meluruskan jalanku. Andai dia tau, tentunya dia akan ikut bahagia karena sekarang akupun sudah berkerudung seperti dia dan sekarang aku tinggal di Asrama Putri untuk lebih mendalami Ilmu Agama. Aku memutuskan untuk meninggalkan dunia glamorku dengan konsekuensi di benci ibuku sendiri. Kini aku merasakan kedamaian yang selama ini aku mimpikan. Dan aku selalu berdo’a mudah-mudahan suatu saat nanti aku akan bisa mengajak mamahku untuk tinggal di Asrama ini. Supaya bisa sama-sama merasakan kebahagiaan yang Hakiki.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?