Bahasa Kitab Suci Seharusnya Komunikatif

25 September 2012 08:31:08 Dibaca :
Bahasa Kitab Suci Seharusnya Komunikatif
-

Salah satu turbin penggerak agar agama diperkuat adalah adanya kitab suci yang digunakan sebagai pegangan ajarannya. Kelihatannya tak afdol jika suatu agama tak memiliki sumber referensi pribadinya bernama kitab suci. Mungkin seperti sayur tanpa garam. Yang jadi hal kekanak-kanakannya ialah buku kuno  yang dikeramati itu sesering mungkin steril daripada kritikan apalagi sentuhan skeptis. Maka, tamengnya adalah dengan pemberian poin berupa dosa yang secara tersurat tercantum dalam kitab suci bersangkutan. Dari itu tampak jelas bahwa sebuah kebablasan terjadi dalam pemikiran masyarakat. Bayangkan saja, Naturé du Systeme hasil pemikiran d'Holbach yang sarat filosofis dan sains dengan kajian tidak subyektif tentunya, dikutuk dan dimusnahkan secara terang-terangan di depan parlemen Perancis lantaran dianggap menonjok pemikiran religi. Hal itu terjadi pada salah satu belahan abad èclaircissement (pencerahan). Hal yang nyaris serupa terjadi pada Diderot yang nyaris ketar-ketir karena ia dkk diancam dan Esiklopedi Besarnya nyaris dibumihanguskan. Bobroknya, orang-orang lebih membela buku bergenre kitab suci yang tak jelas riwayatnya. Padahal, isi dari buku itu tidaklah jauh dari semacam cerita kancil dan Aladin. Jelas penuh kefiksian. Juga, di dalamnya termaktub berbagai syair-syair yang tak dapat dipertanggungjawabkan siapa penulisnya. Sebagai hansaplasnya, dikaranglah ilmu tentang cara-cara penafsiran kitab itu karena saking sakralnya. Walaupun jika seseorang menguasai bahasa yang dipakai dalam kitab, maka ia akan dianggap salahkaprah jika secara harafiah menerjemahkan kitab itu. Dalam Al-Quran misalnya, ada sebait ayat yang jika diliteralkan kurang lebih akan berarti  "... Tangan-tangan Allah ada di atas kalian ..." makannya, berlakulah ilmu tafsir agar tak salah faham, katanya. Pertanyaannya, apakah para penafsir itu sudah mutlak menjadi kunci pemaknaan kitab suci mereka? Bukannya su'uzon atau mengangap mereka bau duren, tapi tak bisa ditampik kalau mungkin para penafsir ulung itu masih keliru atau bahkan tega memanipulasi kitab agar agamanya disegani. Dampaknya, banyak sekali comotan-comotan ayat yang diklaim cocok dengan penemuan ilmiah. Setelah diedit pun, bahkan masih ada larik-larik yang bersimpangan dengan ajaran agama itu sendiri. Hal ini seperti semacam virus yang menginfeksi inangnya. Seperti dalam Al-Quran, surah Al-Kahfi ayat 5: "mereka sama sekali tidak tahu tentang itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya perkataan yang keluaq dari mulut mereka ..." dari ayat itu, yang dimaksud "nenek moyang" itu apa? Bukankah secara melotot dalam islam ditegaskan bahwa nenek moyang manusia adalah Adam? Atau Al-Quran yang mendukung gagasan Darwin? Atau ayat itu menghujat Adam yang "tak tahu apa-apa tentang hal itu". Secubit ayat itu pun membuat saya lupa kalau teh saya dingin karena berlarut-larut menyikapi ayat itu. Belum lagi dongeng manusia dalam gua yang imajinatifnya setinggi dongeng Cinderella. Oleh karenanya, kitab suci seharusnya menggunakan bahasa yang komunikatif (ini mah puitis engga, malah berhayal!). Singkatnya, dangkalnya kitab suci membuat cara memahaminya pun harus mengikuti prosedur neko-neko. Sehingga para penafsir ulung itu bisa dengan mudah memunafikan kitab mereka sendiri. Lantas bagaimana? Kita kembali lagi pada logika bahwa kitab bukanlah sesuatu yang luar biasa, apalagi diototi sebagai bukti eksistensi Tuhan karena isinya tak lebih dari karya sastra yang penulisnya lepas tangan dari tanggung jawab tulisam raksasanya. Mengapa banyak manusia malas berpikir dengan menghayal utopia yang menggiurkan? Dengan mengamini ceritera-ceritera anonim setengah fabel yang penuh hiperbola, yang hanya layak diangguki setetes ingus anak TK?

Isep Saepul

/saefuliseph

soy un chico y hay unas personas que dicen que estoy loco :0. jajaja
Ich hasse Gott weil er niemals mich seht, niemal mich versteht!
so what else
ah ja! vanavond gaat ik met mijn vriendje. Hij is een mooi man, weet jij!?
pourquoi? oh je ne peux pas parler Francais beaucoup! c'est seul, si! je suis un gai! haha mais ... tha-ra!
ani ohev otakh!
ya tebya lyublyu!
sa agapo! thata!! :-)

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?