Akhir untuk Bukan Vonis Kepagian

16 Desember 2011 08:09:29 Dibaca :
Akhir untuk Bukan Vonis Kepagian

Wherever a beautiful soul has been, there remains a trail of beautiful memories -- Anonymous

.

Kebumen, 12 September 2011

.

Di makam ini, kami menabur bunga untuk sebuah keberpulangan. Kami menabur bunga sebagai ganti ucapan selamat jalan dan selamat berpisah yang tak mampu keluar dari bibir kami. Kami mencucurkan air mata sedih untuk seorang baik yang telah purna memerankan aktor utama bagi hidupnya dan juga purna mengambil peran pendukung sebagai anak, adik, suami, ayah, dan sebagai sahabat. Ya, sahabat kami.

. . Dari dekat, kurekam momen hari ini! . .

Kulihat ibumu!

Ibumu adalah yang pertama menabur bunga ke atasmu di mana tubuh wadakmu untuk selamanya diperbaringkan. Untuk ketiga kalinya, ibumu datang ke tempat ini, menyerahkan satu persatu para lelaki terkasihnya pergi. Fragmen hidup yang miris di mana ibumu sebagai orang pertama yang merasakan kehadiranmu di dunia, akhirnya harus merelakan kepergian putranya. Putra yang dulu beliau kandung dan datangkan dengan semangat susah payah-bahagia dan gadang-gadangkan sebagai panglima penerus cita-cita keluarga akhirnya kini harus kembali ke dalam rahim Bumi. Ah, Bumi sang sumber kehidupan, yang menumbuhkan padi, ubi, sagu, dan jagung, kini memelukmu erat, kembali, dalam rangkulannya. Tapi Ibumu tetap tegar. Tak ada air mata yang tampak jatuh atau mungkin beliau telah mengangsurkannya habis sebelum hari ini datang. Atau mungkin pengalaman hidupnya sebagai sepuh telah mengajari beliau bahwa untuk segalanya, seluruhnya harus direlakan. Beliau mengamini garis takdir bahwa pada akhirnya semua ibu harus merelakan kepergian anak-anak terkasihnya entah ke penjuru mata angin mana saja.

. .

Di belakang ibumu, kupandangi satu ibu lagi. Ibu dari anakmu.

Hujan air mata tumpah dari tampuk matanya. Semuanya. Bahkan kalau pun bisa, ia akan meminjam air mata langit untuk dipersembahkan padamu. Ia ingin memberikan apa yang masih bisa ia perbuat, seolah-olah sebelumnya cintanya tak pernah cukup ia berikan. Maka kini, ia mencurahkannya habis untuk yang terakhir kalinya bagi seseorang yang kepadanya dulu ia menyerahkan dirinya untuk berjanji berbagi hidup bersamamu. Seseorang tempat ia melabuhkan seluruh kegembiraan dan kegalauannya; seseorang tempat ia berbagi kegelisahan bila sang buah hatinya sakit atau pun jatuh; seseorang tempat ia menumpangkan tangan ke atas bahumu demi mengalirkan kekuatan untuk jangan pernah takut tentang segala kemungkinan. Pun sebaliknya, kamu ke dia.

. .

Bersama yang lain, kulihat dua sahabatmu turut hadir bersama sepaket penuh salam doa selamat jalan dari para rekan yang tak sempat berkunjung. Mereka hadir menjengukmu untuk yang terakhir kali setelah jalan-jalan panjang sebagai sahabat pernah kalian tempuh bersama. Berdiri di sini, mereka ingin ada di sisimu, mengantarmu ke depan pintu istirahatmu selamanya, sama seperti dulu, zaman ketika masa muda adalah surga kenikmatan tanpa beban, kalian sama-sama berbagi.

■ Kuperhatikan si lelaki bayang-bayang itu. Dua-tiga tetes air mata tersembunyi menggantung pelan di ujung matanya. Aku tahu itu apa. (Ada rasa bersalah yang dalam bahwa ia telah terlalu banyak membuang waktu berharga yang seharusnya bisa ia habiskan untuk menemanimu dalam kesusahan-kesusahan kemarin. Namun di atas semuanya, meski diam-diam dan berat diakui, ia merasa lega. Akhirnya kamu merdeka, lepas dari bayang-bayang kesakitan. Ia bangga denganmu, paling tidak kamu sudah melawan sakit dengan sehormat-hormatnya.)* ■ Di pojok kerumunan, berdiri seorang lelaki lain yang terobsesi dengan frasa burung rantau, menatap makammu, memandangi rumah barumu. "Satu burung rantau kini telah pergi, terbang menyelesaikan rute final migrasinya," demikian ia berguman dalam hatinya padahal ia belum sempat mengucapkan terima kasih atas banyak kalimat semangat dan dukungan yang pernah ia terima ketika ia merangkak melewati masa-masa suram dalam hidupnya. . .

Kutekan tombol shutter ke kanan, lalu layar pelan-pelan off di kamera. Di dalamnya terekam kisah hari ini dan bersamanya kami menutup satu episode nyata di kehidupan kami namun betapa kenangan akan selalu meninggalkan jejak-jejaknya yang dalam tentang seorang baik yang pernah singgah, berbagi dan mengisi hari-hari di hidup kami, lalu kini telah pergi.

. .

---

. .

Istirahatkan lelahmu di atas sana tanpa ritus rasa sakit, tanpa multiresep 3 X 1 dan nikmati nikmat tidur panjangmu dalam rumah mahadamai serta lepaskan semua yang berbau dunia tempat kau sumuk mendapati banyak tragedi yang dihadirkan dunia pada manusia namun kau yakini pasti bahwa semua tumpahan kemalangan apa pun itu punya maksud agar masing-masing kita yang dicap dan mencap diri sebagai manusia peka merasai bahwa untuk setiap satu derita manusia yang tidak diringankan adalah kegagalan manusia seluruhnya.

. .

Untuk dua dewi dalam hidupmu, kini tak perlu kau cemaskan mereka. Pada akhirnya, kita harus percaya, selalu, lewat iman yang jauh melintasi kematian bahwa ada Tangan Mahakasih yang juga jauh lebih menjaga mereka dibanding kedua tangan kita sendiri. Tangan yang akan ganti mengusap air mata di pelupuk mata mereka. Tangan yang akan ganti memegang suluh penunjuk ke mana mereka berdua akan pergi untuk malam-malam ke depan. Dan, tangan yang akan selalu merangkul, mendekap aman mereka sambil berkata, "Meski berat, semua akan baik-baik saja, Anakku!"

. .

Kini, tinggal kami yang masih sementara menapak jalan fana ini di mana kami akan sering diharu-birukan oleh rasa manis yang syukur bisa kami cecap dan rasa kecut yang terpaksa kami reguk. Setiap hari kami akan bergumul dengan itu.

. .

---

. .

Akhirnya, terima kasih dan terima kasih, Dab! Terima kasih untuk setiap napas persahabatan, tunas persaudaraan yang kau hembuskan dan tumbuhkan bagi kami dan bagi setiap persinggunganmu dengan orang lain. Kelak bila giliran kami tiba, kami berharap bahwa di depan pintu ke mana kami menuju, ada seorang sahabat yang datang menyambut kami dan menunjukkan jalan ke muara seluruh rasa damai yang abadi.

. . . . Kredit:

1.  Kalimat (...)* adalah email dari Mr. Dann. Tak ubah dikit, yah!

2. Ilustrasi gambar diambil dari www.denniskotelkoart.blogspot.com

Ryan Andin

/ryan_andin

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Under Construction
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?