[Untukmu Ibu] Melukar Gulungan Nostalgia Bersamamu, Ibu.

22 Desember 2013 13:25:25 Dibaca :

No. Peserta: 268

Ibu...

Tak ada kasih yang menyerupaimu.

Tak ada makna yang sedalam dirimu.

Ibu, setelah sekian lamanya kita tersekat jarak dan waktu. Tadi pagi, aku menemani Ibu ke sawah. Menanam padi. Mumpung waktu liburku lumayan panjang. Pernikahan dan pekerjaan telah membuat aku jauh dari Ibu. Dari tangan hangat yang yang selalu membelaiku. Ibu, aku tahu, jarak dan waktu takkan memutuskan kasih sayangmu. Tapi hatiku selalu berkata ingin memelukmu.

Baru juga sebentar aku membantu Ibu, rasa lelahku telah memuncak. Ibu menyuruhku beristirahat di pondok yang sengaja Bapak bangun untuk melepas penat. Di pondok bambu itu aku leluasa memandangi setiap gerak-gerik Ibu yang masih lincah dan gesit. Tubuh celekeh Ibu mengkilap tersapa matahari. Bagi Ibu lumpur adalah sahabat yang baik. Sedang aku di pondok sibuk mengoles tangan dan kakiku dengan lotion agar gatal tak menjangkit kulitku. Tatkala tanganku mengusap lutut, bekas luka di kedua lututku terlihat jelas. Bagai tombol otomatis yaang melukar gulungan nostalgia. Seketika itu kenangan-kenangan masa lalu bersama Ibu terbaca dengan jelas di lembar memoriku.

Umurku waktu itu masih dapat dihitung dengan jari tangan kiri Ibu. Saat itu Ibu mengajakku ke sawah. Mengantar makanan untuk Bapak dan beberapa orang yang sedang mencangkul. Ibu membawa bakul besar berisi makanan di atas kepala. Tangan kiri Ibu membawa cerek. Dan tangan kanan Ibu menuntunku. Masih tak lupa Ibu menyelipkan selendang di ketiak Ibu. Pelan-pelan Ibu berjalan. Mengimbangi langkah kecilku. Padahal beban di kepala Ibu tidaklah ringan. Sesekali Ibu harus berhenti karena menunggu aku yang sibuk dan asyik memperhatikan tanaman di pinggir jalan yang tampak asing bagiku. Dan ibu tidak marah sedikitpun. Ibu juga selalu menjawab setiap celoteh dan pertanyaan dari mulut kecilku.

Jalan masih berbatu. Jika tidak berhati-hati, bakul di kepala Ibu bisa jatuh. Karena kedua tangan Ibu tak bisa memeganginya. Kakiku yang kecil belum terbiasa menapak di jalan berbatu seperti kaki Ibu. Sehingga sering kakiku harus terantuk batu. Namun tangan Ibu yang cekatan berkali-kali mampu menahanku agar tak terjatuh. Ibu masih ingatkan, aku memaksa berjalan sendiri tanpa pegangan tangan Ibu. Aku sedikit berlari sambil mulutku tak bisa diam. Niatnya ingin mendahului Ibu. Tapi naas. Aku tersandung batu besar dan terjatuh. Pecahlah tangisku. Aku kesakitan dan membuat Ibu panik. Apalagi terlihat banyak darah di lututku.

Saking paniknya, Ibu letakkan bakul dan cerek di tengah jalan. Setelah meniup-niup lukaku, Ibu menggendongku sambil berlari kecil. Mencari tanaman. Entah apa nama tanaman itu. Yang jelas saat Ibu menemukannya, Ibu segera memetik beberapa daunnya dan meremas-remasnya. Daun itupun berubah warna menjadi lebih hijau dan mengeluarkan air. Kemudian Ibu menempelkan daun-daun itu di atas lukaku. Aku menjerit histeris, takut jika lukanya akan terasa lebih sakit. Tapi ternyata setelah ditempeli daun tersebut, rasanya dingin dan darah berhenti.

Ibu, sungguh Engkau bagai dokter yang cekatan. Kasih sayang ibu menjadi obat yang paling mujarab di dunia.

Setelah tangisku reda. Ibu kembali mengangkat bakul dan cerek yang tergeletak begitu saja di jalan. Dengan membawa bakul, cerek di tangan dan aku dalam gendongan, Ibu kembali meneruskan perjalanan menuju sawah. Jarak sawah dengan rumah sekitar satu kilometer. Belum lagi harus melewati jalan setapak yang naik turun. Dan melewati jalan licin di bawah deretan rumpun bambu. Ibu tidak pernah mengeluh hidup dan tinggal di desa. Dan melakukan semua itu. Justeru Ibu bangga dan bersyukur dapat bersahabat dengan alam.

“Enak juga tinggal di desa. Udaranya bersih. Sayur mayur kita tanam sendiri. Bahkan lauk pauk dari ternak sendiri. Nasi yang kita makan pun hasil panen sendiri,” kata Ibu waktu itu. Saat aku bertanya kenapa nggak tinggal di kota kayak Bulik.

“Bulikmu saja sering mengeluh. Hidup di kota itu mahal. Semua harus beli,” tambah Ibu menirukan gaya Bulik.

Ibu, Engkau rela terpanggang matahari hingga wajah Ibu keriput. Menghabiskan hampir sepanjang terang hari di sawah dan kebun. Semua demi kami, anak-anakmu. Tak jarang Ibu baru pulang tatkala gelap mulai merambat. Ibu pulang dengan keringat yang sengaja Ibu keringkan. Tak pernah sekalipun Ibu menunjukkan lelah di depan kami. Karena Ibu tak ingin kami resah dan khawatir. Ibu adalah orang yang paling pandai menjaga keceriaan kami.

Ibu, kerutan di wajah Ibu, adalah saksi betapa besarnya kasih sayang yang telah Ibu berikan untuk kami. Dari dulu Ibu sengaja tak berbedak agar kami yang terlihat lebih cantik. Bahkan Ibu juga hampir tak pernah bercengkrama dengan lipstik, lulur ataupun sampo bermerek. Sayang uangnya, untuk sekolah kalian saja. Kata-kata itu yang selalu Ibu bilang pada kami. Seolah pendidikan kami adalah hal terpenting bagi Ibu.

Ibu juga selalu mengajarkan kepada kami tentang kesederhanaan dengan memanfaatkan hasil alam. Setiap hari Ibu merebus air yang Ibu campur dengan rempah-rempah. Air rebusan itu Ibu pakai untuk mandi pada bilasan terakhir. Selesai mandi, tak lupa Ibu mengoleskan madu di bibir Ibu. Ibu juga memakai “londo merang’ untuk keramas. Dan semua itu berasal dari alam. Rempah-rempah itu Ibu tanam sendiri di kebun. Sedangkan madu Bapak menernakkan lebah sendiri di belakang rumah. Yah, walaupun hanya ada satu kotak saja.

Kata Ibu, mandi dengan rempah-rempah mampu menyegarkan tubuh. Apalagi setelah seharian terpanggang matahari. Selain itu kulit akan lebih wangi. Ibu juga bilang, memakai madu supaya bibir lebih sehat merona, dan luwes saat berbicara. Bahkan Ibu juga sering sekali berucap, jika keramas tak memakai “londo merang”, kulit kepala Ibu gatal-gatal. Makanya saat panen padi, Ibu tidak membuang batang-batang padinya. Batang-batang padi itu Ibu keringkan dan Ibu simpan untuk persedian jika sewaktu-waktu butuh untuk keramas. Setelah dibakar terlebih dahulu.

Dulu aku tak pernah mengerti mengapa Ibu memakai semua itu. Aku hanya mengikuti saja apa yang Ibu lakukan. Walau menurutku terlalu repot dan aneh. Sekarang aku baru menyadarinya, saat aku jauh dari Ibu. Karena di tempatku sekarang sangat sulit mendapatkan bahan-bahan itu. Aku lebih suka memakai yang instan. Dan Ibu tahu, ketika aku bercermin, tampak garis-garis kerutan halus di wajahku. Aku panik. Akupun segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kecantikan dan kulit. Ibu, dokter itu malah menyuruhku memakai kosmetik yang mengandung ekstrak alami. Seketika aku ingat akan Ibu. Kini aku mengerti. Bahwa berharganya alam untuk kita. Bahkan sampai sekarang rambut ibu masih menghitam. Sedang aku sudah sering mencabut uban di kepalaku.

Tak kuasa aku menahan kristal bening yang telah menghangat di pelupukku. Betapa Ibu sungguh luar biasa. Bekas luka di kedua lututku ini juga mengingatkan kejadian beberapa tahun lalu. Di mana usiaku tak lagi belasan. Saat sebuah penyakit melemahkan tubuhku. Seperti tak ada daya, kakiku pun melemah. Tak mampu untuk berjalan. Waktu itu Ibu masih kuat menggendongku. Padahal tubuhku lebih tinggi dan mungkin juga lebih berat dari Ibu. Ketika suamiku dan Bapak nggak ada di rumah, Ibulah yang menggendongku ke kamar kecil. Aku masih ingat, dadaku menyentuh tulang-tulang punggung Ibu. Saat itu tak kusadari tubuh Ibu sedikit kurus. Mungkin karena terlalu memikirkan keadaanku.

Ibu, aku sungguh malu tak bisa sepertimu. Kasih sayang yang Ibu berikan tak pernah Ibu ukur dan Ibu batasi oleh waktu dan usiaku. Sedangkan aku sering mengartikan cukup atas sebuah kebaikan kepada Ibu. Padahal aku juga tahu, semua itu hanya seujung kuku bila dibandingkan dengan apa yang Ibu berikan untukku. Dan aku semakin sadar, bahwa kasih sayang Ibu tak akan pernah mampu aku tandingi sampai kapanpun.

Ibu, aku tak mampu lagi berkata. Kasih sayangmu menjelma menjadi telaga yang tak akan habis kuteguk sepanjang hidupku. Dan jika aku harus berkata, hanya Allah yang mampu membalas semua kasih sayangmu yang tercurah kepadaku. Kepada kami, anak-anakmu.

Mungkin Allah mengabadikan bekas luka di kedua lututku ini, tak lain agar aku ingat akan kasih sayang Ibu yang mengalir dan mendarah di tubuhku. Bekas luka yang selalu mengingatkanku akan kekhawatiran Ibu saat aku terluka. Bekas luka yang juga mengingatkan, bahwa aku pernah lumpuh dan Ibu meminjamkan kaki Ibu untukku berjalan. Yah, menggendongku.

Ibu, bekas luka ini adalah secuil saksi bisu atas curahan kasih sayang Ibu yang tak akan pernah putus. Walau tersekat jarak dan waktu sekalipun. Dan aku hanya mampu berucap, sembah sungkem, sembah baktiku padamu, Ibu.

Malang, 22 Desember 2013.

NB: Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akun Fiksiana community dengan judul: Inilah Hasil Karya Event Hari Ibu.

Dan silahkan bergabung dengan Grup Fiksiana Community, http://www.facebook.com/groups/175201439229892/

Dewi Ari Ari

/rukmica

Semangat dalam tulis.. Tulis dalam semangat..
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?