Mohon tunggu...
Ronald Wan
Ronald Wan Mohon Tunggu... Freelancer - Pemerhati Ekonomi dan Teknologi

Love to Read | Try to Write | Twitter: @ronaldwan88

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Mengenal Lebih Jauh tentang Transaksi Non-tunai di Dunia

19 Juli 2017   09:38 Diperbarui: 19 Juli 2017   23:38 2426
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (http://www.activistpost.com)

Bank Indonesia, sedang berusaha untuk meningkatkan transaksi non tunai di Indonesia. Jika transaksi non tunai meningkat maka kebutuhan uang tunai masyarakat akan menurun. Hal ini bisa menurunkan biaya yang harus dikeluarkan untuk mencetak dan mendistribusikan uang tunai. Selain itu pengawasan dan kontrol terhadap peredaran uang di Indonesia akan menjadi lebih mudah.

Tiongkok, mungkin bisa dijadikan sebuah contoh kesuksesan dalam perubahan tren transaksi. Dari tunai menjadi non tunai.  Alipay dan Wechat pay adalah dua perusahaan penguasa pasar jasa transaksi non tunai.  Alipay menguasai sekitar 54% pangsa pasar sedangkan Wechat pay memiliki 40% pangsa pasar. 

Alipay dan Wechat pay boleh dibilang bisa digunakan untuk segala macam transaksi. Membayar makan di restoran (pengalaman saya KFC Tiongkok juga sudah menerima), menyewa sepeda, belanja di Supermarket, membayar tagihan, transfer uang dan lainnya. Bahkan di Tiongkok sekarang ini ada istilah " Tak mengapa ketinggalan dompet, tapi jangan sampai ketinggalan Handphone"

Sebelum tahun 2014, Alipay adalah penguasa pasar jasa transaksi non tunai dengan pangsa pasar sekitar 80%. Pada tahun itu Wechat pay meluncurkan "Hung Bao" atau " Red envelopes" pada masa imlek. Tradisi Tiongkok dalam merayakan imlek salah satunya adalah memberikan Hung Bao atau lebih dikenal dengan istilah Ang Pao di Indonesia kepada anak kecil, orang tua ataupun orang lain yang mungkin menjadi karyawan atau bawahan.  Dengan fitur ini, Wechat pay memberi kemudahan bagi orang untuk membagi Ang Pao. Tidak perlu lagi mencari uang baru ataupun membungkus uang tersebut ke dalam Ang Pao (amplop merah).

Satu bulan setelah diluncurkan, jumlah pengguna Wechat pay bertumbuh dari 30 juta menjadi 100 juta. Pada tahun 2016,  3.2 Milyar Ang Pao digital dikirimkan melalui Wechat Pay. Ali pay terpukul, bahkan Jack Ma (pendiri Alibaba Group) mengatakan peluncurkan fitur Hung Bao bagaikan peristiwa "Pearl Harbor" bagi Ali pay. Ali pay akhirnya juga memberikan fitur yang sama bagi para penggunanya. Pada tahun 2016 nilai transaksi digital di Tiongkok diperkirakan sudah mencapai USD 5 Trilliun.

Swedia adalah negara dengan transaksi non tunai tertinggi. Jumlah uang tunai yang beredar hanya berkisar sekitar 1,7% dari PDB. Banyak cabang bank di Swedia sudah tidak lagi mengurusi uang tunai. Donasi di gereja juga sudah dilakukan non tunai, saat kolekte tiba, orang akan mengacungkan Handphone mereka sebagai tanda mereka ingin berdonasi.

Kesulitan dalam meningkatkan transaksi non tunai di Indonesia adalah masih banyaknya rakyat yang tidak memiliki rekening bank. E Commerce di Indonesia juga masih mengalami kesulitan untuk dapat melakukan transaksi digital sepenuhnya. Pelaku E Commerce sebenarnya ingin agar sebuah transaksi diselesaikan dalam platform mereka, untuk mencegah batal. 

Namun karena masih banyak orang Indonesia yang tidak memiliki rekening bank atau kartu kredit memaksa pelaku E commerce di Indonesia untuk memberikan alternatif pembayaran lain, seperti bayar di minimarket  sampai dengan pembayaran pada saat barang dikirim ke alamat.

Bagi pemerintah semakin banyaknya transaksi non tunai akan menguntungkan. Semua data transaksi akan tercatat sehingga akan lebih mudah dalam mengejar transaksi ilegal seperti korupsi, pengedaran narkoba dan juga mengejar pengemplang pajak. Bagi pengusaha ritel juga menguntungkan karena akan mengurangi risiko dan biaya untuk mengelola uang tunai. Juga akan sangat menguntungkan bagi penerbit kartu kredit dan perusahaan jasa transaksi non tunai.

Pemerintah India sempat mencoba mengurangi peredaran uang tunainya secara drastis pada tahun 2016. Dengan menarik uang  tunai dengan denominasi 1000 Rupee dan 500 Rupee yang merupakan 86% jumlah uang tunai yang beredar. Terjadi kekacauan, orang mengantri di bank untuk menukarkan uang. Banyak pekerja informal yang tidak bisa memperoleh gaji. Jutaan orang miskin tidak bisa membeli makanan dan masih banyak lagi kejadian.

Pengalaman India bisa dijadikan pelajaran bahwa untuk mengubah budaya tunai menjadi non tunai butuh waktu dan proses yang tidak sebentar serta mudah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun