HIGHLIGHT

"The Last Empress," Sisi Lain dari Seorang Perempuan yang Berkuasa

12 Mei 2012 20:15:00 Dibaca :
"The Last Empress," Sisi Lain dari Seorang Perempuan yang Berkuasa
Cover the Last Empress (Dok. Pribadi)

"Kerja Ulat Sutera, hingga mati meninggalkan benang terbaiknya Air mata lilin  mengering, saat ia menghabisi dirinya," Sebuah pepatah kuno pada zaman Dinasti Song, sekitar abad 13 kembali di senandungkan oleh Maharatu Anggrek saat ia berusia 73 tahun. Posisi Dinasti Qing yang benar-benar terjepit pada awal abad ke 21, menjadikannya santapan empuk dari kelompok negara barat yang berubah menjadi perompak di perang candu. Metamorfosis Anggrek menjadi selir bernama Yehonala hingga bertahta di kerajaan dengan gelar Maharatu, menjadikannya sebagai perempuan terlama di dunia yang duduk dalam singgasana kekuasaan. Anggrek tidak hanya memerintah, namun ia pun "mau" di perintah bawahannya terutama kaum kasim yang terus menggerogoti uang kas kerajaan dari dalam istana. Anggrek yang menjalankan roda pemerintahan dibalik tirai harus melihat satu persatu orang yang sangat disayanginya pergi dengan mengenaskan. Suaminya, Hsian Feng, Kaisar dinasti Qing ketujuh meninggal dalam usia yang relatif muda, yaitu 30 tahun dengan menanggung malu akibat akibat dikejar-kejar 0leh pemberontakan dari luar dan dalam negeri. Lalu anak tunggalnya, Tung Chih yang kemudian menjadi Kaisar dinasti Qing kedelapan malah mangkat saat usianya masih 19 tahun, karena menderita penyakit sipilis yang membuat tubuhnya melepuh dan bengkak. Tung Chih yang salah pergaulan akibat termakan hasutan dalang istana yang memperalatnya untuk pergi ke tempat prostitusi lokal demi memuaskan hasrat pribadinya. Membuat sang Kaisar muda harus menanggung aib sebagai kaisar dengan gelar ternoda sepanjang sejarah China. Kemudian, suksesi dalam istana terus berlanjut dengan mengangkat Guang Shu keponakan Anggrek dan juga masih sepupu dengan Tung Chih menjabat sebagai kaisar kesembilan dinasti Qing. Hampir sama dengan Tung Chih, Guang Shu pun seorang yang lemah dan mudah terprovokasi oleh kalangan istana yang senantiasa menghasutnya ke persimpangan jalan. Beruntung, Anggrek terus mengawasinya agar Guang Shu dapat menjadi seorang Kaisar yang bisa mengembalikan dominasi China di kancah dunia melalui dinasti Qing mereka. Belajar dari pengalamannya ketika membiarkan sang anak terlalu bebas di dalam istana hingga menyebabkan kematian, Anggrek membuat peraturan sangat tegas untuk Guang Shu. Namun ketika sang naga (Kaisar) hampir terbang tinggi dengan mengepakkan sayapnya, prahara kembali timbul. Sekumpulan pemberontakan petani yang dalam sejarah di sebut dengan "anggota Boxers" membuat dirinya yang memang lemah menjadi lebih penakut. Dan ketakutan dari seorang Kaisar harus dibayar mahal dengan perasaan di penuhi kegagalan yang terus hinggap di hatinya hingga pada usia ke 37 diketemukan tak bernyawa dalam ranjang kekaisaran.

*     *     *

Kehilangan tiga orang yang sangat disayanginya itu, membuat Anggrek sadar bahwa ambisinya saat masih muda tidaklah tepat untuk ia jalani. Kekuasaan yang begitu mewah dalam sebuah kerajaan terbesar di kawasan Asia, hanyalah kekosongan belaka akibat tiada satupun sanak keluarga yang berada di sisinya. Berlaku seperti orang gila ketika suaminya meninggal, lalu hampir bunuh diri andai saja seluruh dayang istana tidak menyembunyikan pisau, saat sang anak semata wayangnya terbujur kaku akibat penyakit kelamin. Dan kematian dari sang keponakan membuat matanya terbuka lebar untuk merestorasi dinasti Qing, agar bisa bangkit dari keterpurukan. Sayang takdir berkehendak lain, hanya berselang empat hari setelah kematian Guang Shu, Anggrek menutup mata. Mimpi dari seorang puteri gubernur, lalu menjadi selir istana, dan sebagai Maharatu hingga memerintah selama lima dekade membuat perjalanan hidupnya sangat berwarna justru di saat China dalam zaman kegelapan dengan beralihnya dinasti Qing menjadi sebuah negara sosialis dan berlanjut kini komunis. Kendati di cap gagal oleh generasi selanjutnya yang banyak menyebutkan sang Maharatu Anggrek sebagai penyebab kemunduran dinasti Qing. Namun, hingga akhir riwayanya Anggrek tetap berbuat sebisa mungkin demi menyelamatkan dinasti dari keruntuhan, walau akhirnya harus gagal. Namun setidaknya, Anggrek telah meletakkan batu fondasi dari suatu kerajaan yang beralih ke negara di kemudian hari, hingga sekarang. Seperti kinerja dari Ulat Sutera yang justru sangat berguna ketika telah tiada, dengan menghasilkan benang yang terbaik. Anggrek juga meninggalkan kesedihan yang mendalam ketika ia telah tiada, dengan pengorbanannya demi menyelamatkan kerajaan.

*     *     *

Anchee Min, penulis kelahiran Shanghai 1957, membuat kisah seorang Maharatu Anggrek seperti melebihi kenyataan dari sejarahnya. Dalam novel dwilogi keduanya, The Last Empress begitu memukau dan sangat layak di baca, untuk sebagai novel atau bahan literatur sejarah. Dwilogi dari Maharatu Anggrek telah banyak mendapatkan respon positif dari berbagai peneliti sejarah serta di akui sebagai mahakarya dari dunia penerbitan. New York Times - Seorang penulis yang liar, penuhu gairah dan tak kenal takut. Los Angeles Times - Novel yang memukau dengan detail dan akurat mengenai kehidupan di Kota Terlarang. Washington Post - Belajar dari kehidupan kuat seorang Anggrek untuk mencapai impiannya dan juga mempertahankan impian itu sendiri meski terimpit rintangan peran, budaya dan gender. Library Journal - Anchee Min seorang yang konsisten dalam menggabungkan penelitian historis yang rumit dalam budaya dan sejarah China. Elle - Potret kekaisaran China yang sensual dan membelalakan mata dengan adegan-adegan penuh keharuan. People - Dahsyat, tokoh perempuan yang tak terlupakan.

*     *     *

Antara nama dalam dwilogi Novel dan Sejarah: Anggrek : Tzu Hsi/ Ci Xi Hsian Feng : Xian Feng Tung Chih : Tong Zhi Guang Shu : Guang Xu Sumber: Riwayat Tiongkok Kuno dan Sejarah Klasik Dinasti di China - "Empress Orchid," Kisah Selir yang Menyelamatkan Dinasti dari Keruntuhan - Yakuza Moon, Potret Nyata Kehidupan Gadis Jepang

*     *     *

Jakarta, 13 Mei 2012

Choirul Huda

/roelly87

TERVERIFIKASI (BIRU)

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?