Mohon tunggu...
Arisman Riyardi
Arisman Riyardi Mohon Tunggu... Lainnya - its me! hey...

Jika anda berfikir disini terlalu sunyi, yuk ke www.riyardiarisman.com !

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Serunya "Ngobrol" di Pameran Internasional Triennial Seni Grafis 2019

28 April 2019   16:38 Diperbarui: 28 April 2019   19:35 90
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Para juri bersama karya pemenang juara 1, berjudul Gaze Toward the Light 2. (Doc pri)

Akan terasa lengkap jika kalian datang ke pemeran ini. 30 karya yang ditampilkan seakan mengajak kita berbincang, lebih luas dari sekadar mata ke mata, jauh lebih dalam dari hati ke hati. Mulai dari 25 April hingga 5 Mei 2019, Pameran Internasional Triennial Seni Grafis ini dibuka untuk umum di Bentara Budaya Jakarta, gratis

Memasuki ruang pameran, saya tak perlu lama berpikir untuk melangkah ke sisi kiri. Sudah ada yang menunggu. Karya ketiga pemenang yang menjadi pusat perhatian pada Pameran Triennial yang tahun ini sudah memasuki tahun ke 6.

Sebelumnya, Bentara Budaya Jakarta sudah menggelar Kompetisi Triennial Seni Grafis Indonesia sejak tahun 2003 yang kemudian berkembang ke tingkat internasional di tahun 2015, Lalu tahun ini semakin berkembang dengan banyaknya pegrafis yang berpartisipasi, 317 karya dari 166 pegrafis oleh 26 negara di dunia.

Pada akhirnya, terciptalah Pameran Internasional Triennial Seni Grafis yang menampilkan 30 karya terpilih, di mana diantaranya terdapat tiga karya pemenang dan empat karya yang mendapatkan penghargaan khusus juri.

Supernumerary (Ploy), adalah karya pertama yang saya lihat di pameran ini. Chalita Tantiwitkosol seorang pegrafis dari Thailand terbilang berhasil menarik perhatian mata saya dengan kombinasi warna yang dipilihnya.

Dengan teknik lithograph, yaitu teknik mencetak seni grafis yang memakai acuan dari lempengan berupa batu kapur, karya dari Chalita berhasil mendapatkan juara ketiga pada kompetisi internasional tersebut.

Chalita memasukkan banyak unsur di karyanya. Saya mencoba mengerti. Seorang wanita dengan rambut warna orange, dress biru dengan motif bunga menyelimutinya, yang kemudian terlihat beberapa serangga hinggap di tubuhnya. Ingin sekali saya berbincang dengan Chalita yang memilih judul "Supernumerary (Poly)" untuk karyanya itu. Bagaimana ia ingin menyampaikan 'sosok yang dijadikan cadangan' sebagai bahasa universal.

Ini yang saya suka dari datang ke sebuah pameran, saya bisa berimajinasi, seakan ngobrol dengan si pembuat karya. Saat itu, saya langsung berpikir, "Apakah saat ini, saya benar-benar pemain utama, bukan cadangan untuk kehidupan nyata ini?"

Supernumerary (Poly) karya Chalita. (Doc pri)
Supernumerary (Poly) karya Chalita. (Doc pri)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun