Ris Sukarma
Ris Sukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Selanjutnya

Tutup

Setetes harapan.....(lanjutan)

21 November 2009   09:54 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:15 169 0 0

[artikel diatas ternyata belum seluruhnya termuat, berikut ini sisanya]



Aku ingin berkisah tentang kawanku yang bernasib cukup baik, karena terdampar dalam kurungan kawat besi yang berada di tepi sungai. Setelah memasuki terowongan yang gelap, kawanku masuk ke dalam silinder yang berputar. Disitu kawanku diberi obat yang menyebabkan semua kotoran pada tubuhnya lepas dan mengalir bersama-sama memasuki kolam yang luas dan dalam. Di dalam kolam tersebut kawanku sekali lagi diaduk-aduk, untuk melepaskan sisa kotoran yang masih melekat di tubuhnya, kemudian masuk ke dalam saringan pasir dimana hanya kawanku dan beberapa mineral lainnya yang bisa lolos, sedangkan sisa kotoran tertinggal dalam lapisan pasir. Kawanku merasa lega ketika memasuki bak besar yang bersih dan bebas kotoran. Sekali lagi kawanku diberi obat, kali ini untuk membuang bibit-bibit penyakit yang ada dalam tubuhnya, sehingga kawanku menjadi benar-benar bersih dan siap untuk memenuhi kebutuhan manusia dasar manusia agar bisa mempertahankan hidupnya.


Aku ingin seperti kawanku itu, yang bisa memberikan kebaikan kepada manusia, yang bisa menghapus rasa dahaganya, yang bisa memberikan kesehatan dan kekuatan kepadanya sehingga dia bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Cuma sayang, kawan-kawanku yang sudah bersih itu, sewaktu masuk ke dalam terowongan-terowongan kecil untuk dibagikan ke rumah-rumah, mereka kembali terkena kotoran, karena ternyata terowongan-terowongan tersebut banyak yang bolong dan rusak, sehingga sewaktu mereka tiba di rumah penduduk, warnanya berubah, kadang menjadi kuning atau keruh, kadang berbau dan berulat. Kawan-kawanku merasa sedih karena merasa tidak berdaya. Mereka hanya bisa menangis mendapatkan cercaan dari orang-orang yang menerimanya.


Lain lagi dengan kawanku sekampung, dia beruntung karena tempat lahirnya terletak pada tempat yang lebih tinggi, sehingga masyarakat beramai-ramai mengumpulkannya dan menggunakannya untuk keperluan sehari-hari, sehingga kawanku merasa puas sudah bisa menyenangkan hati banyak orang dengan tampilannya yang masih segar. Kawan lain ada yang merasa senang menjadi tontonan orang kota karena ulah kami meloncat-loncat dalam kolam air mancur. Sedangkan yang lainnya merasa beruntung karena digunakan banyak orang untuk berenang di kolam renang milik orang kampung yang cukup kaya. Tapi ada juga sekelompok manusia yang memperalatku dengan menjual diriku dengan harga selangit, meskipun aku dikemas dalam botol-botol yang cantik. Aku kasihan melihat sebagian dari manusia yang tidak mampu membeliku, padahal aku sangat dibutuhkan oleh mereka.


Dalam perjalanan kami, tidak sedikit yang bisa mencapai tujuan akhir kami, yaitu laut lepas. Tapi banyak pula yang terdampar pada tempat-tempat yang tidak menyenangkan. Ada yang diam-diam masuk kembali ke dalam tanah, dan berlama-lama disana, menikmati kegelapan rongga tanah yang senyap dan bebas dari berbagai kotoran. Sebagian dari mereka pelan-pelan masuk ke bagian yang lebih dalam dan meresap jauh. Tapi itu tidak lama, karena ujung mata bor menemukannya dan menariknya kembali keluar dengan paksa. Ada pula sebagian dari kami yang terpaksa menjadi pembersih kakus dan pembuang kotoran, dan bersama-sama kotoran yang dihasilkan manusia turut masuk ke dalam tangki yang gelap dan bau. Bukan salah kami apabila kami merayap dan meresap ke dalam pori-pori tanah bersama kotoran yang kami bawa. Jangan pula menyalahkan kami yang mengalir masuk ke dalam sungai dan membuat ikan-ikan disungai mati keracunan, dan manusia-manusia yang menggunakannya terkena penyakit mencret dan berak-berak. Aku paling patuh kepada Sang Maha Pengatur, aku tidak ingin mengingkari-Nya, aku tidak pernah mau mengalir keatas, aku selalu mengalir ketempat yang lebih rendah, sesuai dengan perintah-Nya. Tapi aku merasa diperlakukan tidak adil oleh manusia. Aku ingin protes kepada manusia yang menelantarkan dan menyia-nyiakan aku dan kawan-kawanku, tapi aku tidak tahu kemana harus mengadu.


Aku tahu, aku dibutuhkan manusia, karena tanpa aku manusia akan mati dalam beberapa hari saja. Sebanyak delapan gelas sehari aku diperlukan oleh mereka, aku ikut bercampur dengan aliran darah mereka dan turut menjaga keseimbangan tubuh mereka, aku juga membanjiri otak mereka yang menjadi sumber inspirasi dan inovasi, akal, pikiran dan iman. Untuk itu aku ingin meminta kepada manusia untuk menghargaiku sebagaimana layaknya. Perlakukanlah aku dengan wajar, jangan paksa aku untuk bercampur dengan kotoran, tapi apabila terpaksa aku melakukannya demi manusia, tolonglah aku untuk membersihkan diriku dari kotoran yang melekat pada diriku. Janganlah aku digunakan semau-maunya dan dibuang seenaknya tanpa rasa tanggungjawab, karena aku bukanlah warisan dari nenek moyangmu, tapi titipan dari anak cucumu yang tidak ingin aku menjadi barang langka yang sulit didapatkan, atau anak cucu kalian yang akan merasakan akibatnya.


Jakarta, 5 Oktober 2009, jam 21.55