Ris Sukarma
Ris Sukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Selanjutnya

Tutup

Jer Basuki Mawa Beya

5 Februari 2010   15:10 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:04 308 0 0

[caption id="attachment_68926" align="alignleft" width="300" caption="Cucu-cucuku (foto oleh Penulis)"][/caption] Kebahagiaan membawa pengorbanan, slogan ini terasa pas digunakan bagi mereka yang telah menempuh liku-liku kehidupan lebih dari setengah abad lamanya, seperti penulis. Ternyata meniti karir dari bawah dan menapak jalan terjal serasa enteng setelah dilewati. Menengok kebelakang dan melihat kembali jejak-jejak yang telah ditinggalkan kadang menimbulkan keheranan, kok bisa juga ya semua itu dilalui. Padahal sewaktu melakukannya dulu rasanya berat sekali. Kebahagiaan tidak datang dengan tiba-tiba, tapi diperoleh dengan perjuangan dan pengorbanan. Jer basuki mawa beya, kata orang Jawa. Itu yang saya rasakan sekarang. Dulu sewaktu masih sekolah, boro-boro punya mobil atau diantar jemput mobil orangtua, motorpun tidak punya. Semuanya ditempuh dengan berjalan kaki atau naik angkot. Ada sepeda butut, tapi itupun harus rebutan dengan saudara yang lain. Menginjak bangku kuliah, terpaksa nyambi mengajar dan menjadi asisten dosen untuk membayar uang kuliah, yang tidak akan cukup kalau hanya mengandalkan pemberian orang tua. Usai menamatkan kuliah, bekerja di perusahaan konsultan lokal hanya bisa bertahan tiga tahun. Mobil tua inventaris kantor hanya bisa dipakai sewaktu-waktu karena lebih sering mogoknya. Kadang kalau sedang berkunjung kerumah teman, mesin mobil dibiarkan hidup, karena kalau dimatikan harus didorong dulu supaya bisa jalan lagi. Setelah menjadi PNS, tahun-tahun pertama adalah adalah perjuangan dalam arti yang sebenarnya: tangan selalu terangkat keatas dan mengepal, maksudnya naik bis sambil pegangan, supaya jangan terjatuh kalau bis belok tiba-tiba. Setelah diberi kepercayaan mendapatkan kedudukan, harus berebut dulu untuk mendapatkan jip Toyota kanvas butut yang boros bensin dan bocor kalau hujan. Belum lagi jungkir balik untuk menjaga agar dapur tetap ngebul dan anak-anak bisa sekolah. Keputusan untuk mengambil pensiun dini saya anggap keputusan yang tepat. Merasakan kebebasan berkreasi sambil tetap memelihara profesionalitas merupakan anugerah yang selalu saya syukuri. Kemudian, bekerja dalam satu lembaga internasional, yang terdiri dari berbagai bangsa dan karakter serta cara kerja yang amat berbeda, merupakan tantangan tersendiri. Belum lagi soal komunikasi dalam bahasa Inggeris yang semasa sekolah dulu paling saya benci. Semuanya itu melecut saya untuk terus maju menghadapi berbagai rintangan yang tidak ringan. Terutama memelihara baku mutu profesionalisme yang selalu dijaga tetap tinggi dan tanpa toleransi kesalahan sedikitpun, semuanya harus serba cepat, tepat dan cermat. Kini, setelah semua itu telah berlalu, perjuangan yang berat itu serasa tidak ada apa-apanya. Apa yang dulu dirasakan sulit dan rasanya tidak mungkin terselesaikan akhirnya bisa juga terlampaui. Akhirnya, saya hanya bisa bersyukur bahwa apa-apa yang diperoleh sekarang ini adalah buah dari hasil kerja keras dan pengorbanan masa lalu. Tanpa menjalani itu semua, mustahil bisa mendapatkan hasilnya seperti sekarang ini: dua cucu yang lucu-lucu. Salam Kompasiana dan tetap semangat.