Ris Sukarma
Ris Sukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Selanjutnya

Tutup

Air, Emas Biru Abad ke-21

22 Maret 2010   14:48 Diperbarui: 26 Juni 2015   17:16 454 0 0

[caption id="attachment_99959" align="alignleft" width="197" caption="(www.collegehills.org)"][/caption]

Satu hari telah berlalu, hari ini, Senin, 22 Maret 2010 diperingati oleh masyarakat dunia sebagai Hari Air Sedunia. Meskipun hari ini sudah hampir berlalu, tidak ada salahnya kita mengingat kembali pentingnya air bagi kita, dan bagaimana kita melakukan upaya-upaya penghematan dalam penggunaannya. Tidak kurang dari Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menyempatkan diri diwawancara oleh Metro TV tadi sore untuk mengingatkan akan pentingnya air bagi umat manusia. Tidak saja untuk masa kini, tapi terutama untuk generasi mendatang.

Kenapa tanggal 22 Maret diperingati sebagai hari air sedunia? Awalnya insiatif hari air sedunia muncul pada saat dilangsungkannya Konferensi Lingkungan dan Pembangunan (Conference on Environment and Development) yang diadakan PBB (UNCED) di Rio de Janeiro tahun 1992, sudah lama juga sebenarnya. Kegiatan yang berkaitan serta informasi tentang Hari Air Sedunia (World Water Day) dapat dilihat pada situs www.worldwaterday.org.

Air merupakan komoditas yang semakin penting pada masa sekarang dan dimasa masa yang akan datang. Kalau awal abad ke 20 dimulai dengan abad emas hitam berupa eksplorasi dan eksploitasi minyak yang menggerakkan industrialisasi, maka memasuki abad ke 21 ini kita dihadapkan pada masalah pengelolaan sumberdaya air (water resources management) yang semakin rumit.

Tidak seperti minyak yang perlu dieksplorasi dan ditambang jauh dari perut bumi, air sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan pada musim hujan air melimpah dan menyebabkan banjir. Sebaliknya, pada musim kemarau air menjadi langka dan sulit dicari. Ini menunjukkan bahwa kita belum bisa mengelola sumberdaya alam ini secara arif. Air menjadi musuh pada saat dia melimpah, tapi menjadi dambaan dan dicari-cari pada saat menghilang dari hadapan kita. Ada sesuatu yang salah dalam pengelolaan sumberdaya air kita.

Tidak seperti minyak yang suatu saat akan habis, air di muka bumi jumlahnya tidak berubah dari waktu ke waktu, tapi air berdaur ulang melalui daur hirdologi yang amat rumit dan kompleks. Secara sederhana, daur hidrologi dapat digambarkan sebagai berikut: dimulai dari air hujan yang jatuh kebumi dan mengalir kelaut, sebagian meresap ke dalam tanah, dan sebagian lagi menguap ke angkasa membentuk awan dan kembali jatuh kebumi sebagai hujan. Daur hidrologi berputar dalam siklus tahunan bahkan bisa puluhan tahun.

Dengan meningkatnya pencemaran pada badan-badan air dan air tanah, maka air yang tersedia dan layak minum menjadi lebih sulit didapatkan, dan kalaupun ada, harus dibayar dengan harga yang mahal, baik yang sudah dikemas dalam bentuk air minum dalam kemasan (AMDK), maupun air yang disalurkan melalui jaringan pipa PAM.

Dengan memahami betapa berharganya air untuk kehidupan manusia, maka kita akan bisa menghargai air secara arif dan wajar, dan tidak menghambur-hamburkannya untuk sesuatu yang kurang berguna. Banyak upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menghemat air dan sudah banyak ditulis dan disebarkan di media massa, termasuk dalam forum Kompasiana.

Air hujan sebaiknya tidak langsung dialirkan ke sungai, tapi sedapat mungkin ditahan dan ditampung dalam kolam penampungan atau diresapkan ke dalam air melalui lubang biopori. Air bekas cucian sebaiknya ditampung dalam kolam untuk digunakan kembali, misalnya untuk menyiram tanaman dan membersihkan halaman.

Menampung air bekas di dalam kolam merupakan cara mudah dan murah untuk membersihkannya sehingga bisa digunakan kembali untuk berbagai keperluan. Demikian pula cara-cara sederhana seperti tidak lupa menutup keran pada saat kita menggosok gigi adalah cara yang bijak, sehingga air tidak terbuang percuma. Jangan biarkan air terbuang dari keran atau pipa yang bocor, meski setetespun!

Ironisnya, tepat pada Hari Air Sedunia, tadi pagi penulis sempat melihat orang yang sedang mencuci pagar dengan selang air yang berlimpah-limpah. Saya berani bertaruh bahwa air yang dia gunakan, kalau tidak air PAM, mestinya air tanah yang dipompa. Terlepas apakah yang bersangkutan bisa membayar tagihan air atau listrik yang digunakan untuk memompa, rasanya miris melihat air dibuang-buang begitu saja.

Hari Air Sedunia baru saja kita lewati, tapi pesan yang dibawanya harus kita teruskan pada hari esok dan hari esoknya lagi, pesan yang tidak bosan-bosannya kita serukan. Marilah kita isi hari-hari berikutnya dengan menghemat air dan menggunakannya dengan penuh kasih sayang, sampai kita bertemu lagi dengan Hari Air Sedunia pada tanggal 22 Maret 2012 mendatang. Satu tahun waktu yang cukup banyak untuk berbuat sesuatu, tapi satu tahun akan lewat dengan sia-sia tanpa kita berbuat sesuatu.