Rina Natalia
Rina Natalia

Everything happened for a reason. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Bersyukur, positif think dan jalani saja. Bahagia akan datang dengan sendirinya :)

Selanjutnya

Tutup

The Completely Me

15 Mei 2017   11:04 Diperbarui: 15 Mei 2017   11:38 16 0 0
The Completely Me
sumber: flickr.com

Jadi Marketing? Hmm...nggak pernah kebayang apalagi kepikiran. Selama ini orang mengenal aku sebagai Accountant, beberapa teman dekat juga mengenal aku sebagai Writer/Author (amatir yaa...belom yang prof hehehe...). Dan menjadi Marketing jelas-jelas amat bertolak belakang dengan 2 profesi di atas. Tapi nyatanya beberapa waktu belakangan aku menjalani profesi ini. Bukan sebuah kebetulan, dan aku memang nggak pernah percaya dengan yang namanya kebetulan dalam hidup. “Everything Happened for a Reason”, begitulah yang aku yakini :D

Aku jadi teringat dengan nasehat salah seorang Romo di Malang, ketika aku berkonsultasi dengan beliau di tahun 2012. Kala itu aku lagi jobless di Jakarta, hidup berantakan, jenuh dan gelisah berkaitan dengan pekerjaaan. Saat itu si Romo ada bilang gini, “Kalau ada yang membuatmu jenuh dan gelisah, itu artinya ada sesuatu yang menekan batinmu. Carilah tau itu, kalau ada hubungan dengan pekerjaan mungkin perlu dikaji ulang. Kamu punya hobbyyang kamu tekuni selain pekerjaanmu sekarang, Rina?” Dan aku dengan spontan bilang  aku hobby menulis, suka banget malah :D

Si Romo manggut-manggut, lalu bilang gini, “Kamu tuh pada dasarnya suka menjalin keharmonisan dengan orang lain dan akan lebih baik dalam situasi yang dinamis. Jadi saran saya, mungkin kamu kalau cari kerja jangan jadi Accountant lagi, karena kamu pasti tertekan lagi. Mungkin kamu akan cocok jadi PR atau Marketing gitu...” Dan aku cuma bisa diam, mencoba memahami kata-kata Romo tersebut. Kata-kata itu terngiang terus, aku memikirkannya juga. Namun seiring berjalannya waktu aku merasa tidak juga mendapatkan titik terang.

Aku bekerja lagi, dan tetap berkutat menjadi Accountantdi Jakarta.  Di tahun 2013 itu 2x aku pindah company.  Di awal tahun 2014 aku back for good to Malang, dapet kerjaan lagi, Accountantlagi, dan hanya bertahan selama 1 periode kontrak. Semuanya nggak ada yang sampe setahun, hanya itungan bulan. Dan lagi-lagi aku gelisah, gelisah yang kurang lebih sama dengan yang aku rasakan di tahun 2012 itu, hanya bedanya kali ini aku lebih memilih mencari jalanku sendiri. Tidak banyak yang tahu keadaanku selain hanya keluarga, teman-teman dekat pun tidak, karena aku pribadi juga nggak mau terlalu banyak cerita. Aku merasa kadang teman-teman itu cuma bisa comment, nggak kasih solusi sama sekali makanya mendingan aku diam.

Selama masa-masa setengah tahun lebih sejak aku keluar dari kantor terakhir, hidupku benar-benar berubah.  Satu  yang  pasti, aku mesti rada ngirit karena aku nggak punya income tetap lagi, tapi entah kenapa aku merasa “feel free” juga, karena nggak harus berkutat dengan kerjaan kantor yang numpuk, politik-politik khas kantoran atau teman-teman kantor yang reseh. Aku merasa jadi punya banyak waktu luang, yang mestinya bisa aku maksimalkan. Dan begitulah, di bulan Januari 2015 akhirnya aku bisa menerbitkan buku secara self publishing :) Respon dari teman2 yang mengenal aku pun juga cukup baik sehubungan dengan buku ini.  Namun yang masih jadi ganjalan aku adalah buku ini belum bisa dijual bebas, dan itu jadi PR aku untuk bisa segera mencari penerbit yang pas untuk memfasilitasinya. Dan ini bukan perkara mudah. Aku bertekad kalau toh buku perdana ini mentoq-mentoq nggak bisa dijual bebas, yaa..itu artinya next book yang harus bisa dijual bebas. Hopefully...Amin!

Aku sempat bikin online shop juga di FB.  Ini juga atas dorongan dari adikku juga yang notabene dia sudah lebih dulu punya online shop. Online shop yang aku beri nama “Corin Shopline” lebih pada project iseng-iseng berhadiah aja. Perjalanannya juga nggak terlalu mulus, ada sih yang laku tapi nggak banyak. Dan dari awal aku memang merasa aku ga punya passiondi online shop, jadi yaa...daripada daripada aja gituuu...Aku tetep mikir, aku kudu cari permanent job dan lagi2 posisi yang aku apply ya as an Accountant :D Tercatat ada beberapa kali aku mengikuti interviewdan test di beberapa company di Malang. Ada yang cari sendiri dari koran/internet, ada juga yang dari referensi, dan hasilnya apa? Aku di PHP, alias nggak ada kelanjutan dari semuanya itu. Aku nggak tau kenapa, apa mungkin pihak-pihak terkait menganggap aku udah banyak pengalaman, mungkin mereka takut aku minta gaji tinggi, hmm...entahlah.  Aku pribadi cukup tau diri, kalau di Malang ya nggak mungkin dong aku buka standart gaji kayak di Jakarta.

Capek? Lelah? Galau? Pastinya...Dan tambah galau ketika ada tawaran-tawaran kerja di Jakarta lagi. Alamak...pengennn! Tapi kalau mikir mesti bolak balik Malang-Jakarta nya itu bo, mending kalau langsung diterima, lah kalau nggak kan sama aja dengan buang-buang duit. Sementara mengharapkan kesempatan yang sama kayak th. 2006 itu yaa...1000:1. (note: th. 2006 aku merantau ke Jakarta dengan cara yang sangat dimudahkan oleh TUHAN. Proses seleksi di Surabaya, hanya sekitar 2 mingguan, lalu aku diterima dan di Jakarta aku tinggal ngantor aja).  Aku merasa jalanku begitu buntu. Tidur malam dengan perasaan yang selalu gelisah, bangun pagi pun nggak tau mesti ngapain. Aku sempat membatin, “hmm...jangan2 gw salah doa yaa...Dulu usia masih 25-30an bercita2 ntar umur 35 udah nggak mau kerja kantoran lagi. Ehh...ini kok keturutan, tapi yaa...nggak kayak gini juga kalee...” Pikiranku kalut, tapi 1 hal yang pasti aku nggak pernah meninggalkan gereja, doa dan TUHAN. Aku percaya TUHAN punya rencana dari semua yang terjadi ini...

Perkenalanku sendiri dengan dunia marketing property ini bisa dibilang tidak sengaja. Awal bulan Juni 2015 aku ke Surabaya.  Jujur, aku paling ogah ke Surabaya. Selain hawanya yang panas banget, juga beberapa bad memory dalam hidupku terjadi di kota ini. Tapi ke Surabaya kala itu benar-benar berbeda. Tujuan awal sih melayat sepupu yang meninggal, harusnya bisa langsung balik Malang, tapi akhirnya malah menginap di apartemen adikku. Waktu itu mikirnya jarang-jarang ke Surabaya, lagi nganggur juga jadi ya udahlah sekalian aja. Dan selama 5 hari menginap di Surabaya itu, di sela-selanya aku menyempatkan diri hangout dengan teman lama di Galaxy Mall.  Kami sempat ngobrol-ngobrol tentang bisnis property, secara temanku ini juga belum lama jadi marketing property di Surabaya. Ngobrol-ngobrol sekilas aja, dia sempat kasih kartu namanya juga. Pas itu aku belum kepikiran apapun, cuma kok kayaknya boleh juga ya jadi marketing property :D

Besoknya masih di Surabaya, adikku ngantor setengah hari so aku ditinggal di apartemen. Aku memang sengaja nggak kemana-mana, karena pengen berenang, yaa...sambil nunggu adikku pulang, itung-itung memanfaatkan fasilitas apartemen hehehe...Waktu itu aku berenang sekitar jam 7 pagi dan suasana masih sepi sekali disana. Kolam renang disini enak, walau outdoortapi nggak kena sinar matahari langsung. Asliii...aku benar-benar enjoy me time disini, sampe kemudian mulai rada rame. Di pinggir kolam aku lihat seorang cewek lagi asik selfie pake HP nya, iseng aja aku tanya jam berapa, dan ternyata sudah jam 8 lewat. Aku tetep enak-enakin berenang, sampe kemudian aku naik dan ngambil bawaanku yang notabene ada di deket cewek tadi. Aku basa basi, ngobrol-ngobrol sejenak dan saat itulah ketauan kalau nih cewek ternyata marketing property, dia cerita sekilas tentang project apartemen kantornya. Kami bertukar pin BB, dia juga ngajak aku join bareng dia. Waktu itu aku nggak langsung mengiyakan.

Pas udah di Malang lagi aku mulai browsing-browsing seputar property. Aku buka juga file-filepekerjaan di kantor terakhirku (entah kebetulan atau bukan, kantor terakhirku di Malang bergerak di bidang property). Dan berbekal sedikit pengetahuanku di bidang property, kesenanganku ketemu orang-orang baru dan sedikit kemampuan untuk berdagang, aku pikir nggak ada salahnya aku mencoba pekerjaan ini. Toh aku nggak perlu keluar modal besar, yang penting aku percaya diri dan mau belajar. Dan begitulah, rasanya aku sangat dimudahkan oleh TUHAN dalam hal ini. Ternyata cewek yang ketemu aku di kolam renang apartemen itu sudah mendaftarkan aku jadi marketingdi kantornya. Di Malang pun, dari hasil browsing-browsingaku kenalan dengan seorang agent property, dan diterima bergabung menjadi marketing di kantornya. Yang paling menyenangkan dari 2 tawaran tersebut adalah semua bisa dikerjakan secara freelance, jadi nggak harus setor muka tiap hari ke kantor :)

Aku benar-benar memulai dari 0 pekerjaan ini. Mulai dari bagaimana aku mencari dan memperlajari listing property yang bisa dijual, survey lokasi, ketemu dengan pemilik property (vendor)dan mencari buyer. Learning by doing. Aku menjalaninya, dan kadang-kadang aku merasa amaze sendiri dengan begitu banyak hal-hal baru, yang kadang juga tidak terduga tiap saat tiap hari aku temui, yang jelas-jelas nggak akan mungkin aku dapatkan kalau aku masih terus menjadi accountant di belakang meja. Pekerjaan ini menyenangkan, ketemu orang-orang baru dan mengajariku banyak hal.  Lagi-lagi aku merasa sangat bersyukur pada TUHAN, rasanya hanya 2 minggu di awal kerja saja aku pusing-pusing cari listing, selanjutnya listing kayak datang sendiri. Ditambah lagi tiba-tiba aja aku jadi punya banyak teman marketing property, dari rekan-rekan kantor, developer maupun yang independent. Tidak bisa dipungkiri, keberadaan mereka sangat membantu aku: sharinglisting, info, ilmu dan saling mencarikan buyer. Dalam hal ini istilahnya disebut co broker.

Aku bersyukur kenal dengan para vendor yang mayoritas sangat baik, percaya dan kooperatif denganku.  Dalam keadaan terpaksa aku nggak bisa mendampingi buyeruntuk survey lokasi, aku bisa langsung menghubungi mereka tanpa perlu merasa khawatir mereka kongkalikong sendiri dengan buyer. Thanks GOD...sejauh ini itu belum pernah terjadi padaku, dan amit-amit jangan sampe terjadi juga hehehe...

Nah lain vendor, lain buyer. Kalau ngomongin buyer, ampun-ampun dah ceritanya. Unik, lucu, baik, tapi nggak sedikit juga yang ruwet dan menjengkelkan. Banyak buyer yang maaf harus aku katakan, mereka semau gue, mentang-mentang berduit, jadi terkesan kurang menghargai kami yang marketingini. Awal-awal aku jalani bisnis ini semua nomor contact yang aku punya aku share, mulai dari no. HP, pin BB dan no WA, aku juga masih meladeni SMS. Namun seiring waktu aku mulai bisa filter, mana yang serius, mana yang cuma tanya2 doang trus geje. So, pada akhirnya aku memilih untuk tidak meladeni BBM/WA/SMS. Kalau emang serius, telepon yaa...Baru kalau udah telepon, udah mau ketemu surveylokasi, boleh lah dilanjut dengan BBM/WA/SMS, yang penting tujuannya jelas: mau beli dan bayar hehehe...

Pekerjaan ini diakui atau tidak sangat rawan dengan yang namanya PHP (Pemberi Harapan Palsu). Dan itu udah sering juga aku alami. Pengalaman pertamaku kala itu adalah case buyer gagal KPR. Rada-rada mengecewakan memang, dan aku nggak bakal lupa dengan casesatu ini. Bukan soal nilai rumahnya, kalau nilainya mah kecil, rumah harga di bawah 300 juta kok...tapi proses ngedealrumah ini yang yeahhh...penuh perjuangan. Aku dapat buyer ini via co broker dengan seorang teman marketing, rumah ini listku langsung dengan pemilik dan komisi yang dijanjikan jika bisa ngedeal rumah ini di atas standart. Buyer rumah ini pasutri muda, istrinya lagi hamil gede, kami ketemu langsung di lokasi dihandle langsung aku dan temanku. Rumah 2,5 lantai itu dilihat cukup lama oleh mereka, jujur melihat si istri dengan perut buncitnya naik turun rumah tersebut ada rasa gimanaaa...gitu di hatiku. Entah kenapa tiap lihat wanita hamil selalu begitu deh...Apa mungkin karena aku belum pernah ngrasain hamil ya, makanya suka scarysendiri hehehe...

Nah, ceritanya nih kalau deal, rumah ini akan menjadi rumah pertama buat pasutri ini, karena selama ini mereka masih tinggal di rumah keluarga, rencananya mereka akan KPR untuk rumah ini. Nego...nego...nggak kira-kira juga nih buyer, karena bener-bener di bawah harga pas yang dimaui pemilik rumah, udah gitu mau di DP dengan tukar tambah mobil Avanza. Haiyaa...! Aku sempat rada-rada emosi juga ngadepi nih orang, tapi satu sisi ya salut juga dengan kegigihannya. Aku dan temanku mengupayakan yang terbaik aja, termasuk ngomong kondisi apa adanya ke pemilik rumah. And lucky me...pemilik rumah orangnya nggak mata duitan, punya rasa kepedulian yang tinggi juga, dan dia setuju dengan harga penawaran dari si buyer, walau kalau diitung-itung jatuhnya dia merugi. Dan begitulah...uang tanda jadi dibayarkan, lalu proses pengajuan KPR ke bank atas rekomendasi pemilik. Sementara aku dan temanku menunggu dengan H2C selama ± 2 minggu kerja. Intinya kalau KPR diacc = komisi kami juga akan keluar juga :D

Menunggu dan menunggu.., dan menjelang akhir minggu ke-2 ada pesan WA dari si buyerisinya: “Mbak, kabar buruk, KPR saya nggak diacc...” Damn! Bagai petir di siang bolong deh. Langsung kutanya kenapa-kenapanya. Ternyata katanya nggak lolos BI checking, ada autodebetangsurannya di bank yang terdeteksi nggak tepat waktu, juga angsuran Avanza nya. Aku speechless, langsung kuhubungi temanku. Kami masih berusaha mengupayakan coba bank lain aja, siapa tau masih bisa. Kami sarankan si buyer menarik segera berkas-berkas pengajuan KPR nya di bank yang gagal tadi, sambil tetep kami kasih waktu tuh orang untuk mikir-mikir juga. Pada akhirnya dia memang menarik berkas-berkasnya, rundingan ama keluarga dan lalu memutuskan untuk tidak lagi mengajukan KPR di bank manapun. Alasannya kalau udah nggak lolos BI checking percuma aja, ngajuin lagi hanya akan buang-buang waktu dan biaya. Selanjutnya dia menarik kembali uang tanda jadi nya (beruntung loh...pemilik rumah mau mengembalikan 100%). Huff...! Case closed sih, tapi ya gitu deh...komisiku melayang L Hmm...belum rezeki aja mungkin yaa....Sampe sekarang hubunganku dengan nih buyermasih baik, dia belum juga dapat rumah. Anaknya sudah lahir, cewek dan sementara masih tinggal di PMI. Hmm...kasihan sih, tapi aku juga udah nggak bisa banyak bantu lagi.

Pada dasarnya, terutama dalam menghadapi para buyer aku ingin di awal-awal menjadikan mereka teman dan gimana caranya mereka bisa enjoy dan nyaman denganku. Karena dengan itulah, aku bisa lebih mudah mengarahkan mereka juga. Dan berhubung aku punya agama Katolik, yang mengajarkan “Kasih”, itu juga yang ingin bisa kuterapkan dalam pekerjaan ini. Aku nggak omong kosong, setidaknya ada beberapa teman-teman sesama marketingyang sempat ngiri melihat keakrabanku dengan buyerku. Gimana nggak, aku bisa nemani buyer cek lokasi rumah, sambil jalan-jalan, makan siang, becandaan santai seperti layaknya teman/sodara. Asik kan? Bahkan ada 1 teman terang-terangan memujiku, “kamu pinter Rin maintenance buyermu, bisa lengket gitu”. Hohoho...Yaa, kebanyakan yang bisa seperti itu denganku sih buyer cewek yaa, ibu-ibu gitu. Diantaranya ada yang deal, tapi ada juga yang nggak.

Buyer abal-abal dan yang ngayal tingkat dewa? Jangan tanya, itu ada banget dan aku mengalami juga. Ini terjadi di akhir bulan September 2015. Menjelang tengah malam, lagi doa sebelum tidur HPku berdering. Agak ragu aku angkat juga, dan ternyata seseorang yang ngaku tinggal di Flores yang minat dengan salah satu listrumah yang aku jual, yang harganya 900 jutaan. Kami ngobrol, intinya dia minta info detail dan berencana akan ke Malang di minggu-minggu awal Oktober. Aku seneng, buyer langsung, dengan harga rumah segitu kebayang dong kalau deal lumayan juga tuh :D Dan sejak malam itu juga nih orang masuk dalam daftar follow up ku.

Minggu pertama bulan Oktober tuh buyer aku telepon, dia bilang udah di Jakarta lagi mau on the way ke Surabaya by kereta, nanti  udah di Malang akan mengabari aku. Hohoho...ok lah, besoknya aku telepon lagi katanya posisi di Kediri, belum mampir Malang katanya langsung ke rumah keluarganya gitu disana. Kami sempat ngobrol lama ditelepon, dia bilang waktunya di Malang nggak terlalu lama tapi akan disempatkan lihat rumah. Aku berusaha percaya padanya sambil wait and see. Waktu itu sudah menjelang hari Sabtu. Sampai kemudian hari Minggu sore aku hubungi lagi, dia bilang nggak sempat ke Malang, sudah di Flores lagi.  Walah...kok cepat amat yaa! Saat itu aku sudah berasa gimana gitu ama nih orang, tapi aku ingat dia pernah bilang juga urusan cari rumah di Malang nanti bisa diwakilkan adiknya yang di Surabaya. So, aku masih tetap follow up sekaligus berharap dong.

Sampai kemudian aku lupa hari apa, yang jelas setelah jeda beberapa hari aku hubungi lagi tuh orang menanyakan kapan jadwal mau lihat rumah, dan apa jawabannya? : “saya sudah dapat rumah”. Damn! Langsung kutanya lebih lanjut udah dapat rumah di mana. Dan jawabannya ini yang bikin aku super  nggak percaya: “di Ijen...” Buseettt dah! Budget 900 jutaan di Ijen? Yang benar ajaaa...Dekat Kawah Ijen kalee hahaha...Batinku, mbok ya kalau mau bohong itu ya yang rada-rada realistis gitu Pak, lu kira gue goblok apa...Finally, tanpa menunggu lama langsung ku deletenomor HP nya, nggak guna juga aku savemalah bikin BT. Mendingan fokus ke yang lain aja. Case closed!

Lalu bagaimana dengan rekan-rekan sesama marketingproperty yang menjalin co broker denganku? Hehehe...ceritanya nggak kalah seru. Kebanyakan mereka mengenalku lewat media online, chat via BBM/WAatauby phone, lalu membahas dagangan. Mayoritas yang kukenal cowok-cowok, jarang banget marketing property yang cewek. Tentu tidak semua dari mereka baik, tidak jarang aku ketemu dengan yang mata duitan. Belum apa-apa udah nanya, “harga pas nya berapa? komisinya berapa?” Hadehhh...paling ogah deh ketemu yang kayak begini. Buyernya aja belum tentu ada, belum karuan deal udah ngributin hal-hal begitu. Belum lagi dengan yang suka mark up harga dan ngawur pula, bukannya bikin dagangan cepat laku malah nggak laku-laku.

Marketing property yang tukang serobot buyerpun ada juga, dan aku juga pernah ngalami, dengan orang yang kuanggap baik dan kupercaya pula. Haizz....! Kejadiannya di awal tahun 2016. Ceritanya buyer dari aku, listing dari temanku. Temanku ini cewek dan kami co broker berdua aja. Rumah yang dijual seharga 875 juta ini proses negonya lumayan alot juga, mana buyerku maunya KPR dan dia perhitungan banget untuk dana cash yang gimana-gimana harus disiapkan. Pada akhirnya ada kesepakatan di harga 785 juta, dengan konsekuensi komisi yang aku dapatkan dengan temanku nantinya tentu tidak sebesar kalau laku di kisaran 800 jutaan. Toh aku dan temanku tidak mempermasalahkan, yang penting buyer cocok dan deal, soal berapapun komisi asal masih pantas ya kami syukuri aja. Dan begitulah, dari malam itu aku mencoba membantu juga tanya-tanya rekanan bank yang bisa bantu KPR.

Aku BBMan dengan temanku sampai besoknya juga untuk update perkembangan. Sampai kemudian di siang hari itu kok tiba-tiba temanku kayak ngilang nggak ada kabarnya. Aku sendiri berusaha hubungi buyerku juga susah, tapi pas itu aku masih yakin kalau udah dihandletemanku itu. Sampai kemudian menjelang sore temanku baru BBM lagi dan dia mengabarkan kalau buyerku baru aja ngedeal rumah di lokasi lain dengan harga yang jauh lebih murah. Dan yang bikin aku langsung BT adalah rumah tersebut adalah listing temanku itu, co broker dengan teman-temannya yang lain. Aku jengkel luar biasa, apalagi dengan entengnya temanku cerita proses ngedeal rumah tersebut, dan alasannya teman-temannya itu kenal buyerku itu. Seketika itu juga, aku langsung males ngomong ama temanku itu, hilang semua kepercayaanku padanya. Aku nggak menyalahkan buyerku karena gimana-gimana buyer kan menang milih, yang aku nggak suka ya cara kerja temanku. Gimana ceritanya itu...buyer udah deal, lah kok tahu-tahu diarahkan ke yang lain. Dan sejak hari itu aku memilih untuk tidak lagi berurusan dengannya, nggak ada gunanya...

Kini hampir 2 tahunn  sudah aku menjalani profesi ini, sudah tidak terikat lagi dalam satu kantor alias independent. Sebenarnya masih banyak cerita-cerita lain dengan plus minus masing-masing. Aneh-aneh tapi nyata juga hehehe... Ada yang cuma sekedar pengen kenalan, sok-sok nanya  listing, minta spek dan foto property...ehhh...ujung-ujungnya minta fotoku. Haiyaa...orang-orang ini Dan orang-orang model begini nih yang dengan terpaksa aku delete dari contact listku, daripada menuh-menuhin dan bikin BT aja. Ngapain juga aku ngurusin orang-orang yang attitudenya nggak baik gitu. Selebihnya, aku mencoba bersyukur lewat pekerjaan ini. Memang bukan pekerjaan tetap, tapi toh aku sudah menikmati hasilnya, dan itu tentu bermanfaat untuk menata hidupku ke depan.

Aku tidak tahu sampai kapan aku akan menjalani pekerjaan ini. Satu hal yang pasti, karena pekerjaan inilah aku benar-benar meninggalkan dunia kantoran, dunia wanita karier dengan segala rutinitasnya. Pekerjaan marketing property ini membuatku seolah menemukan “passion” yang lain, sekaligus pergaulan yang baru. Di sisi yang lain, aku tetap dengan passionutamaku: menulis dan tetap ingin menekuninya selama hayat masih dikandung badan. Aku bersyukur pada TUHAN atas talenta-talenta ini, yang menjadikanku complete...Mudah-mudahan aku bisa senantiasa jadi orang baik lewat apapun pekerjaanku, senantiasa menjadi berkat dan diberkati. AMIN... :)